MARHABAN YA RAMADHAN (14): Momentum Perubahan Moral Bangsa

KH BACHTIAR NASIR

(Pimpinan AQL Islamic Center)

PETA persoalan yang kini menimpa bangsa Indonesia seperti kemiskinan dan kebodohan diakibatkan kualitas pendidikan yang rendah, kebhinekaan yang sengaja dikoyak oleh sebagian oknum, keserakahan para penguasa, dan berbagai masalah sosial yang menimpa bangsa Indonesia. Maka momentum Ramadhan adalah salah satu moment yang bisa dijadikan untuk merubah moral bangsa yang telah lama berserakan ini.

Ramadhan adalah moment yang tepat untuk melakukan perbaikan dan menyusun kembali reruntuhan moral itu. Karena esensi Ramadhan adalah berpuasa yang artinya al-Imsak atau self-control. Pengendalian diri yang diwajibkan dalam bulan suci Ramadhan dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sendi-sendi bangsa yang sakit dengan dua kata kunci, yaitu takwa dan al-Birru.

Takwa adalah sebuah kata yang mewakili semua kebaikan yang akhirat-oriented. Sedangkan al-Birru adalah kebajikan yang dilakukan untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.

Secara mendasar ada tiga problem yang menyebabkan runtuhnya moral bangsa ini yaitu maraknya syirik di tengah masyarakat maupun petinggi negara. Kemudian, riya yang berarti suka memamerkan kebaikan dan apa yang dimiliki sehingga sangat mudah terjangkiti penyakit hedonis dan materialistik serta al-Wahn yaitu terlalu cinta kepada dunia sehingga takut mati.

1. Syirik

Pada zaman umat Nabi Nuh AS sebagai umat yang pertama kali melakukan dosa syirik hanya menjadikan berhala sebagai sesembahan. Akan tetapi, era modern ini banyak menyumbangkan syirik-syirik baru atau disebut syirik modern. Penyakit syirik modern ini tak luput menimpa bangsa Indonesia baik masyarakat maupun petinggi negara. Syirik modern itu antara lain, menyembah berhala uang, berhala materi, berhala fashion, berhala kekuasaan, dan yang paling berbahaya adalah berhala sistem.

Al-Qur’an diturunkan sebagai solusi untuk semua masalah, maka tidak ada alasan untuk berhenti menyusun kembali reruntuhan moral bangsa. Solusi yang ditawarkan Allah lewat al-Qur’an untuk mengobati penyakit syirik itu adalah tauhidullah. Karena, jika telah menetapkan Allah sebagai sesembahan dan tidak mengambil sesembahan selain Dia, maka dengan izin-Nya problem bangsa ini akan teratasi. Dengan pengendalian diri lewat takwa dan al-Birru maka bangsa Indonesia bisa berhenti dari kesyirikan dan beralih kepada tauhidullah.

2. Riya

Penyebab terbesar terjadinya korupsi adalah karena ingin memamerkan sesuatu yang berada di luar kemampuan. Sehingga, godaan lembaran-lembaran rupiah tidak bisa terbendung untuk mengobati penyakit riya itu. Riya dalam ibadah juga sangat marak terjadi akhir-akhir ini, apalagi ketika masyarakat diperkenalkan dengan medsos yang dengan mudah mengupload foto-foto. Sehingga, banyak orang yang mengeluarkan uang untuk ke tanah suci hanya ingin pamer kalau ia pernah menginjak Tanah Suci. Atau, memaksakan diri bangun di sepertiga malam untuk laporan di dinding facebook kalau ia telah tahajjud.

3. Al-Wahn

Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sebuah hadits bahwa penyakit yang banyak menimpa umatnya di akhir zaman adalah cinta kepada dunia dan takut mati. Hal ini menimbulkan penyakit hedonisme dan materialisme, yang saat ini sangat banyak menimpa masyarakat Indonesia. Dunia ini hanyalah permainan dan tempat senda gurau, maka sepatutnya kita melihat dunia ini dari sudut pandang yang telah Allah paparkan dalam al-Qur’an. Sehingga penyakit al-Wahn itu bisa diobati sampai ke akar-akarnya. Manusia yang paling terhormat di sisi Allah bukan yang memiliki harta yang banyak dan kekuasaan yang tinggi, tetapi hamba yang bertakwa, walau ia hanya beralas tikar dan berdinding papan di rumahnya. Hidup adalah pilihan bagaimana cara mati dan bagaimana menentukan kehidupan setelah mati.

Lalu timbul pertanyaan, kenapa Ramadhan menjadi momentum perubahan bangsa?

Ada tiga bekal penting yang Allah telah sediakan di bulan Ramadhan untuk melakukan perubahan. Pertama, Ramadhan adalah lorong waktu suci yang dikondisikan oleh Allah untuk mudah berbuat baik dan melakukan perbaikan. Kedua, di bulan Ramadhan juga al-Qur’an sebagai kitab suci diturunkan. Al-Qur’an yang berasal dari zat yang suci melalui malaikat suci kepada kalbu yang suci dan Allah memilih malam yang paling suci di antara bulan Ramadhan yaitu, lailatul qadr. Dengan demikian, orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman untuk membangun bangsa maka seakan-akan ia merasakan kesucian itu, sehingga ia dengan mudah merajut kembali reruntuhan moral yang berserakan. Ketiga, Ramadhan adalah moment yang paling dahsyat untuk mengondisikan hati menjadi suci, merajut hati dan membebaskannya dari sifat dengki, iri hati, sombong, dan penyakit hati lainnya. Ramadhan adalah bulan latihan, dimana satu bulan kita diterpa untuk memperbaiki diri dan kesempatan untuk mengubah gumpalan dosa menjadi pahala. *muhajir

Allah SWT telah berjanji bahwa hamba yang sukses di bulan ramadhan maka akan seperti terlahir kembali tanpa dosa sekecil apapun di hari raya idul fitri. Maka persoalan bangsa (syirikm riya, dan al-Wahn) yang membuat moral bangsa menjadi reruntuhan mudah untuk disatukan kembali. Jika telah menyadari ketiga perusak moral itu maka dengan mudah mensucikan diri melalui lorong waktu yang suci dengan menjadikan kitab suci sebagai panduan, lalu mensucikan hati yang telah dilumuri oleh dosa. Penghuni bangsa yang mentauhidkan Allah, membuang sifat riya dari dalam diri, kemudian membunuh al-Wahn maka Negara ini akan merasakan keberkahan dari Allah SWT.

Sebarkan Kebaikan!