MARHABAN YA RAMADHAN (13): Menembus Lorong Waktu Ramadhan

KH BACHTIAR NASIR

(Pimpinan AQL Islamic Center)
Di antara ilmu untuk mendapatkan ampunan Allah adalah berisitigfar di waktu sahur. Allah SWT berfirman:
وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan di waktu sahur mereka berisitigfar” (Q.S. adz-Dzariyat:18)

Orang yang akan diampuni oleh Allah itu adalah orang yang memperbanyak istigfar pada waktu sahur. Karena mereka mengetahui bahwa setiap sepertiga malam Allah turun ke langit dunia dan berjanji pada diri-Nya sendiri bahwa akan mengabulkan doa-doa orang yang berdoa pada waktu itu. Dia juga berjanji akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya bagi yang beristigfar pada waktu itu. Karena permintaan yang paling hebat pada waktu sahur adalah memohon ampun kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
“……….dan orang yang memohon ampun di waktu sahur” (Q.S. ali-Imran: 17)

Permintaan yang paling hebat yang Allah ajarkan kepada hamba-Nya adalah berisitigfar pada waktu sahur. Amalan pada waktu itu juga adalah bocoran langsung dari Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam surat adz-Dzariyat ayat 18 dan surat Ali-Imran ayat 17. Ini adalah ilmu yang sangat penting untuk diketahui bahwa nanti akan ada orang di bulan Juninya masih berkubang kotoran karena jiwanya belum melesat ke lorong waktu suci yang bernama Ramadhan. Al-Qur’an itu hanya diturunkan pada bulan suci Ramadhan. Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ…………
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran……..” (QA al-Baqarah: 185)

Al-Qur’an itu mempunyai ruang dan waktunya sendiri yang dimensinya berbeda dengan dimensi lainnya. Oleh karena itu, pada bulan Ramadhan itu pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup rapat serta setan dari jin dibelenggu.

Orang yang bisa merasakan baunya sekarang surga sekarang adalah jiwa-jiwa yang sudah mensucikan dirinya lalu melesatkan jiwanya berada dalam dimensi ruang itu. Tidak semua orang yang berada di Masjidil Haram bisa berjalan satu malam ke Masjid al-Aqsa dan tidak ada orang yang berada di Masjid al-Aqsa bisa menembus tujuh lapis eskalasi langit bahkan sampai di Sidratul Muntaha, kecuali orang yang diperjalankan oleh Allah. Dan Nabi yang mulia bisa merasakan keajaiban itu dengan kehendak Allah SWT.

Dimensi ruang dan waktu Ramadhan pun memiliki dimensinya sendiri sehingga ada kelipatan lailatul qadr khairun min alfi syahr (lailatul qadr lebih baik dari seribu bulan). Dimensi waktu Ramadhan ada satu malam yang yang tidak sama ukuran detik, menit, dan jam dengan malam lainnya. Dimensi ruang ibadah Ramadhan adalah milik orang-orang terpilih karena merekalah yang beruntung dan sebaliknya orang yang tidak beruntung tidak berada dalam dimensi ruang itu. Sehingga tidak mendapatkan kelipatan-kelipatan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya pada bulan suci Ramadhan. Kita tidak mungkin menikmati indahnya Ramadhan jika belum ada ilmunya. Dalam beragama itu bukan yang penting beramal tapi amal harus didasari dengan ilmu agar menciptakan kesempurnaan pahala.

Dimensi kemanusiaan selanjutnya yang harus dipersiapkan adalah badan yang afiat, yaitu menjaga kesehatan dan menjaga kebugaran. Maka diperlukan ilmu pola makan, pola tidur, dan pola menjaga kesehatan dan kebugaran. Hal ini dimaksudkan untuk menguatkan jasad dalam beribadah kepada Allah SWT. Barangsiapa yang menantikan satu Ramadhan dari Ramadhan yang lalu maka di antara Ramadhan dan Ramadhan diampunkan dosa-dosanya. Orang yang berbahagia menyambut Ramadhan maka sepenuh jiwanya akan berhadapan dengan aktivitas Ramadhan yang telah dia buat. Jadi, ketika badan afiat (sehat sempurna), program Ramadhan bagus, mental sudah siap, maka dialah yang akan mendapat ampunan dan kasih sayang Allah SWT.

Prioritaskanlah hidup untuk beribadah kepada Allah SWT dan bekerja nya dioptimalkan untuk melakukan kebaikan, matanya distop dari pandangan-pandangan yang tak bermanfaat khususnya medsos yang bisa membatalkan pahala puasa. Medsos merupakan salah satu jebakan duniawi yang bisa membatalkan berdua-duaan kita dengan Allah SWT. Kalau bisa keluarlah dari grup-grup yang tidak ada manfaatnya dan hentikan semua aktivitas medsos yang tidak terlalu penting yang hanya bisa menyita waktu mengaji, waktu zikir, dan waktu untuk beribadah lainnya.

Orang yang memperbaiki hubungan dengan Allah maka akan diperbaiki hubungannya dengan makhluk sehingga pola interaksi dengan cara sosial menjadi jernih, bersih, suci, dan tidak bercampur noda lagi. Hubungan yang seperti ini yang membawa manusia ke dalam surga dan memenuhi jiwa dengan kebahagiaan.

Waktu yang paling menguji iman di bulan Ramadhan adalah sepuluh terahir. Ketika mudik mengganggu pikiran, diskon-diskon yang ditawarkan di mal lebih menggoda daripada malam al-Qadr, begadang menonton pertandingan bola lebih asyik daripada berdua-duaan dengan Allah lewat tahajjud, maka siapkan mental agar tidak gagal fokus ketika nikmat terbesar itu dianugrahkan kepada kita.

Jadi, antara tekad mental dan afiat harus sejalan, karena jika hanya tekad tapi badan tidak mendukung maka akan ada ketimpangan dalam beraktivitas sehingga hasil tidak optimal. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!