Lima Penyulut Sengsara Dunia

Fudail bin Iyad berkata: Ada lima penyebab orang menjadi sesangsara di dunia ini, yang menyebabkan hidupnya tidak bahagia dengan semua yang dia usahakan.

Pertama, mengerasnya qolbu sehingga susah ikhlas dalam berbuat. Qolbu yang tidak mudah berharap kepada Allah dalam bekerja, tidak bersandar kepada Allah dalam segala tindakan, adalah qolbu yang keras. Itulah orang yang sengsara dalam pekerjaannya.

Kedua, bekunya air mata. Kebekuan air mata adalah berangkat dan bermula dari kerasnya qolbu. Tidak ada tetesan air mata taubat, tidak ada tetesan air mata penyesalan, setelah bermaksiat kepada Tuhannya. Selama ini tidak banyak berdzikir dan tidak banyak mengingat kepada Allah SWT. Tidak ada air mata cinta, tidak ada air mata kerinduan kepada Allah SWT. Inilah yang disebut dengan air mata beku. Tidak ada air mata karena takut kepada Allah, tiada pula air mata dalam kesendiriannya bersama Allah.

Sejenak, mari kita sama-sama bertasbih. Subhanallahi wabihamdihi. ‘Adada khalqihi, waridhaa nafsihi, wazinata ‘arsyihi, wamidaada kalimaatihi. (Maha Suci Engkau Ya Allah, Maha Suci Engkau dengan segala keterpujian-Mu. Engkau Maha Terpuji sebanyak ciptaan-Mu. Maha Suci dan Maha Terpuji Engkau Ya Allah dengan keridhaan yang ada pada-Mu, Maha Suci dan Maha Terpuji Engkau Ya Allah dengan semua perhiasan arasy-Mu.  Maha Suci dan Maha Terpuji Engkau Ya Allah sejumlah kalimat-kalimat suci-Mu yang tak tehingga. Subhanallah Wabihamdihi

Abu Darda’ ra seringkali menghabiskan malam-malamnya dengan tetesan air mata. Itulah air mata taqwa di tempat sujud tanpa sajadah. Sehingga tersisa seperti tetesan-tetesan embun atau tetesan air hujan di bekas-bekas tempat sujudnya. Malam-malamnya habis dalam sujud panjangnya berteman rasa takut bercampur harap kepada Tuhannya. Beruntunglah orang yang tidak keras hatinya dan tidak membeku air matanya.

Ketiga, berkurangnya rasa malu.  Yang utama adalah kurangnya rasa malu kepada Allah SWT. Ketika hamba bermaksiat padahal rezeki yang kita belanjakan dlam kemaksiatan itu berasal dari Allah. Kita tidak mau. Kita gunakan tenaga, padahal tenanga itu berasal dari Allah. Justru tenaga itu digunakan menjauh kepada-Mu. Sungguh kita tidak tahu malu kepada Allah. Allah tidak pernah lepas perhatiannya kepada kita. Tetapi kita mencari perhatian kepada orang lain, padahal Alah Yang Maha Memperhatikan dengan segala kasih sayang-Nya.

Ketika kita sudah merasa tidak malu kepada Allah, maka kita sengsara. Rasa malu itu, di antara pilar-pilarnya iman. Semakin kuat rasa malu seorang hamba kepada Allah azza wa Jalla, maka akan semakin jauh dari kesengsaraan. Sebaliknya, terlalu banyak bermaksiat menyebabkan hilangnya rasa malu. Ketika rasa malu sudah hilang, maka telanjanglah manusia. Tidak ada lagi penutup aurat. Terbongkarlah semua aib darinya. Maka orang yang terbongkar aibnya pasti akan sengsara.

Keempat, cinta dunia. Terobsesi pada dunia atau mengejar dunia. Ketahuilah, semua yang berharga yang Anda  cari dan kejar, ada dalam simpanan khazanah (lemari) Allah. Kuncinya pun di tangan Allah dan cuma Allah yang bisa membukanya. Minta kepada-Nya melalui iman dan amal saleh. Mohonlah khazanah-Nya terbuka melalui pintu-pintu ibadah. Jangan biarkan rezekimu terpendam karena ada rasa sombong dan angkuh dan merasa tidak butuh kepada-Nya.

Bagai menggapai fatamorgana. Terobsesi pada dunia dan mencari dunia, tetapi yang dikejar adalah bayang-bayang. Putus asalah seorang manusia. Tidak ada yang bisa dilakukan manusia untuknya. Sebelum kecewa pada akhirnya, putus asalah terhadap apa yang ada di tangan manusia. Karena manusia tidak punya apa-apa tanpa seizin Allah. sejak awal, sebelum kecewa pada akhirnya, putus asalah dengan orang kaya, putus asalah terhadap penguasa, putus asalah sejak awal sebelum kecewa pada akhirnya. Karena yang Allah turunkan tidak lebih dari yang Allah sudah takar. Betapa pun usaha kamu. Semua yang bakal kita terima tidak akan pernah melebihi yang sudah ditakar oleh Allah SWT. Maka betapa sengsaranya orang yang teropusat qolbunya kepada dunia.

Kelima, yang menyebabkan orang sengsara di dunia ini adalah terlalu panjang angan-anannya. Terlalu mengikuti keinginan. Lalu keinginannya menyeberang dalam angan-angan. Padahal kalau ada yang paling dekat pastilah kematian. Kematian. Dan kalau ada titik destinasi yang sedang dituju adalah akhirat. Orang-orang yang panjang angan-angannya pernah digambarkan oleh Rasulullah di atas padang pasir. Lalu Rasulullah membuat bentuk empat persegi panjang. Di kotak itu Rasulullah menarik garis tengah yang melintasi batasan bawahnya. Lalu Rasulullah bertanya, Ya Rasulullah, apa maksud kotak empat persegi panjang ini?  Dan apa maksud garis yang melampaui kotak ini. Rasulullah SAW bersabda. Kotak itu adalah kotak usia. Sementara garis itu adalah angan-anganmu yang melampaui batas usiamu.       

Rasulullah SAW begitu tegas melihat dunia dengan gambaran yang sangat konkrit. Bagi Beliau, dunia tak lebih dari sebuah pohon di tengah padang pasir. Karena terik matahari, ia menjadi tempat berteduh sejenak. Menjelang sore hari, ditinggalkanlah pohon itu. Pohon itu adalah dunia. Begitu cerdasnya Rasulullah SAW melihat dunia. Seharusnya begitulah orang jenius melihat dunia. Buat apa punya rumah di mana-mana, buat apa punya tanah di mana-mana kalau pada akhirnya akan menjadi masalah.  Justru semua itu yang akan menyakitkan kita.

Imam Ghazali menggambarkan, tidak salah punya harta banyak. Tetapi punya harta banyak sama halnya dengan memelihara ular yang berbisa. Jika kamu gagal memelihara ular, kamu yang akan digigit. Sehingga digambarkan nanti di akhirat, orang-orang yang tidak pandai menempatkan hartanya secara benar, hartanya kemudian menjaid ular yang sangat besar. Dia akan melilit tubuhnya sampai ke leher. Ketika ular itu menganga di depan wajahnya, ular itu berkata, akulah hartamu ketika engkau di dunia. Lalu ia menelannya. Imam Ghazali menggambarkan seperti itu karena memang ada gambaran di dalam hadits.

Suatu hari, ada seorang sahabat yang menatap rumahnya dari arah depan. berdecak kagum karena baru saja ia membangun sebuah rumah. Dia berharap ada teman yang lain lewat melintasi rumahnya. Melintaslah seorang sahabat lalu pemilik rumah ini dengan bangga menanyakan apa komentarnya soal rumahnya yang baru saja dibangun? Lalu orang yang berakal itu berkata, rumahmu melampaui usiamu kemudian dia pergi tanpa ingin memuji.

Ada juga seorang yang baru saja pindah rumah baru. Hari itu dia pindah rumah dan mengundang semua teman-temannya dengan penuh kebanggaan. Dia ingin memperlihatkan kemewahan rumahnya. Tibalah pada saatnya, di luar dugaan ternyata mati lampu. Pemilik rumah dengan cekatan memperbaiki sendiri agar lampunya kembali menyala. Namun, maut menjemputnya. Rumahnya tidak lebih sebagai kebanggaan yang membawanya pada kematian.

Rumah sesungguhnya bukanlah akhir dari segala kepenatan dunia. (*)

Sebarkan Kebaikan!