ArtikelNews

Kuliah Subuh I Agungnya Kedudukan Ibadah Hati Dalam Islam

MAYORITAS kita memberi perhatian besar terhadap amalan dzohir (nampak). Kita berusaha untuk bisa sholat sebagaimana sholatnya Nabi Saw., maka seluruh gerakan-gerakan sholat Nabi yang terdapat dalam hadits-hadits yang shahih berusaha untuk diterapkannya.

Akan tetapi, ternyata banyak juga orang-orang yang memberi perhatian besar terhadap amalan-amalan yang dzohir namun lalai dari amalan hati.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan:

الأعمال الظاهرة لاتكون صالحة مقبولة إلا بواسط أعمال القلب، فإن القلب ملك واﻷعضاء جنوده، فإذا خبث الملك خبثت جنوده

“Amalan badan tidak akan diterima tanpa perantara amalan hati. Karena hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya. Bila Sang Raja buruk, maka akan buruk pula seluruh prajuritnya. ” (Majmu’ Al Fatawa,11/208).

Amalan hati adalah amalan inti. Seperti disebutkan sebelumnya, kita konsisten dalam ibadah dan zhohir  tapi lemah di ibadah qalbu (hati).

Ibadah hati adalah kewajiban yang bersifat abstrak. Keimanan seseorang bukan diukur dari ibadah zhohirnya tapi dinilai dari ibadah hatinya. Atau lebih jelasnya, keimanan seseorang tidak diukur dari pakaian, rajin ke mesjid, puasa, tapi niat yang melatar belakangi ibadah zhohir itu.

Di bawah ini beberapa bentuk amalan hati yang wajib kita kerjakan jika ingin amalan diterima di sisi Allah Swt. yaitu; cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, tawakal kepada-Nya, memurnikan cara beragama dan beribadah hanya kepada-Nya (ikhlas), bersyukur kepada-Nya, bersabar dalam menjalankan aturan-aturan-Nya, rasa takut yang kuat kepada-Nya (al-Khauf), dan menggantungkan harapan hanya kepada-Nya (ar-Raja’) serta menjalankan amalan yang bisa merealisasikan harapan itu. Semua amalan hati ini adalah wajib hukumnya.

Lalu yang menjadi pertanyaan, selama ini kita lebih serius mana, amalan hati atau amalan zhohir?

Ketaatan kita kepada Allah sangat ditentukan oleh ibadah abstrak ini. Pakaian bisa saja sama, tapi kualitas ibadah di sisi Allah berbeda-beda. Hal itu ditentukan oleh amalan hatinya.

Suatu ketika Qais bin Tsabit mendirikan shalat malam hanya membaca satu ayat, yatu;

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Ketika membaca ayat ini ia menangis sejadi-jadinya. Teringat nikmat pendengaran, apa jadinya jika hidup tanpa pendengaran ternyata tidak ada ilmu yang masuk. Apa jadinya jika tidak ada nikmat penglihatan, tidak mampu menikmati mahakarya Tuhan di alam semesta ini. Apa jadinya jika tidak ada oksigen untuk bernafas. Renungan terhadap nikmat-nikmat-Nya yang membuat dia menangis dalam shalatnya. Ini adalah contoh ibadah yang didahului amalan hati. Jika ibadah hati lemah maka tidak bernilai di sisi Allah amalan zhohir.

Di luar sholat, para sahabat juga mengamalkan amalan hati ini. Berinfak misalnya, kita telah mengetahui kisah Abu Bakar As Shiddiq, Umar bin Khattab, dan sahabat lainnya. Waktu itu Umar merasa merasa telah mengungguli Abu Bakar karena telah menginfakkan separuh hartanya untuk jihad fisabilillah. Namun tak disangka, Abu Bakar datang dengan seluruh hartanya. Ketika ditanya oleh Rasulullah apa yang ditinggalkan untuk keluarga.

Abu Bakar menjawab, “Cukuplah Allah dan Rasul-Nya”. Ini adalah bentuk tawakal tingkat tinggi.

Terkadang juga kita hanya mengetahui syukur itu hanya teoritis. Kita menghafal ayat tentang syukur tapi belum tidak mengamalkan dalam keseharian. Apakah kita telah bersyukur ketika bangun tidur masih mampu menghirup oksigen. Mampu menikmati kebahagiaan bersama keluarga. Bisa bertemu dengan teman-teman. Teramat banyak lagi nikmat, baik yang nampak ataupun yang tidak nampak.

Selain ke-tujuh amalan di atas ada tambahan lagi selain ibadah hati. Amalan itu adalah ash-Shidqu (jujur) dan hati harus kembali kepada Allah SWT. (Inabah).

Sebagai penutup, kita sering kecewa jika tidak mengerjakan ibadah badan tapi tidak kecewa jika tidak mengerjakan ibadah hati. Nekad itu jika berani menjalan hidup hari ini tapi tidak memulai baca Al-Qur’an, zikir, tasbih kepada Allah, dan mengamalkan amalan hati dengan sempurna. *Kajian Subuh oleh KH Bachtiar Nasir di Masjid Al-Munawar, Kompleks Malaka Timur, Jakarta Timur, Sabtu, (24/03/2018).

*MN

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close