Korupsi dan Kemuliaan

Oleh: Ilham Kadir. Menetap dan Mengabdi di Enrekang

AKHIR-akhir ini kita disuguhi berita mega korupsi yang berjumlah triliunan rupiah dari proyek E-KTP. Pembahasan terkait kasus ini dengan mudah kita jumpai, baik media cetak maupun elektronik. Pasalnya, banyak orang-orang besar dari partai besar makan uang rakyat besar-besaran tanpa merasa bahwa itu adalah dosa besar.

Entah mengapa, secara tiba-tiba Kantor DPRD Enrekang digeledah oleh Tipikor Polda Sulselbar, khususnya ruangan Ketua DPRD. Menurut berbagai sumber, dari kantor yang dihuni para manusia-manusia terhormat sebagai Wakil Rakyat itu ada indikasi korupsi yang berjumlah miliaran rupiah.

Berdasarkan amanat undang-undang setidaknya ada tiga fungsi utama DPR, membuat peraturan atau undang-undang, penganggaran, dan pengawasan. Akan lebih sulit dipahami jika yang mengawas harus diawasi polisi.

Cukup sudah, dua kasus di atas menjadi cermin bagaimana perilaku pengelola negara ini. Kata-kata pengabdian, bersumpah untuk bekerja demi bangsa, tidak melanggar hukum, tidak merugikan negara, dan sebagainya ternyata tidak berbanding lurus dengan kenyataan di lapangan.

‘Memberantas Pungli’ yang menjadi salah satu tema program jualan Presiden Jokowi pun hanya sebatas slogan kosong belaka. Belum mampu membumi, akhirnya masalah demi masalah terus menumpuk lalu membusuk. Kita lihat saja bagaimana ending kedua kasus di atas.

Hakikatnya, menelan harta negara yang bukan menjadi hak kita hanya akan menjadi musuh di hari kiamat, bagi mereka yang beriman bahwa ada hidup setelah mati. Maka, merampok harta negara sama saja dengan menggali lubang jahanam di Hari Pembalasan. Begitu pula, mereka yang gila jabatan dengan tujuan memanfaatkan jabatan untuk menumpuk harta secara zalim adalah kerja-kerja nista yang akan dihinakan dunia akhirat.

Kasus-kasus di sekeliling kita seakan menjadi lonceng peringatan akan adanya nada merdu memanggil-manggil para koruptor untuk masuk antrean lubang bara neraka.

Ini pula yang mengingatkan kita akan pentingnya berhati-hati menggunakan fasilitas dan uang negara.

Syahdan, pada suatu ketika, Imam Ahmad bin Hanbal Rahimahullah dikunjungi seorang wanita yang ingin mengadu.

“Wahai Imam, saya adalah seorang ibu rumah tangga yang sudah lama ditinggal mati suami. Saya ini sangat miskin, sehingga untuk menghidupi anak-anak saya, saya merajut benang di malam hari, sementara siang hari saya gunakan untuk mengurus anak-anak saya dan menyambi sebagai buruh kasar di sela waktu yang ada. Karena saya tak mampu membeli lampu, maka pekerjaan merajut itu saya lakukan apabila sedang terang bulan.”

Imam Ahmad menyimak dengan serius penuturan sang ibu. Perasaannya miris mendengar ceritanya yang memprihatinkan.

Dia adalah seorang ulama besar yang kaya raya dan dermawan. Sebenarnya hatinya telah tergerak untuk memberi sedekah kepada wanita itu, namun ia urungkan dahulu karena wanita itu melanjutkan pengaduannya.

“Pada suatu hari, ada rombongan pejabat negara berkemah di depan rumah saya. Mereka menyalakan lampu yang jumlahnya amat banyak sehingga sinarnya terang benderang. Tanpa sepengetahuan mereka, saya segera merajut benang dengan memanfaatkan cahaya lampu-lampu itu.”

Tetapi setelah selesai saya sulam, saya bimbang, apakah hasilnya halal atau haram kalau saya jual? Bolehkah saya makan dari hasil penjualan itu?

Saya melakukan pekerjaan itu dengan diterangi lampu yang minyaknya dibeli dengan uang negara, dan tentu saja itu tidak lain adalah uang rakyat, papar sang Ibu.

Imam Ahmad terpesona dengan kemuliaan jiwa wanita itu. Ia begitu jujur, di tengah masyarakat yang bobrok akhlaknya dan hanya memikirkan kesenangan sendiri, tanpa peduli halal haram lagi.
Padahal jelas, wanita ini begitu miskin dan papa.

Maka dengan penuh rasa ingin tahu, Imam Ahmad rahimahullah bertanya, “Ibu, sebenarnya engkau ini siapa?”

Dengan suara serak karena penderitaannya yang berkepanjangan, wanita ini mengaku, “Saya ini adik perempuan Basyar Al-Hafi.”

Imam Ahmad rahimahullah makin terkejut. Basyar Al-Hafi rahimahullah adalah Gubernur yang terkenal sangat adil dan dihormati rakyatnya semasa hidupnya.
Rupanya, jabatannya yang tinggi tidak disalah-gunakan untuk kepentingan keluarga dan kerabatnya.

Sampai-sampai adik kandungnya pun hidup dalam keadaan miskin.

Dengan menghela nafas berat, Imam Ahmad rahimahullah berkata, Pada masa kini, ketika orang-orang sibuk memupuk kekayaan dengan berbagai cara, bahkan dengan menggerogoti uang negara dan menipu serta membebani rakyat yang sudah miskin, ternyata masih ada wanita terhormat seperti engkau, ibu. Sungguh, sehelai rambutmu yang terurai dari sela-sela jilbabmu jauh lebih mulia dibanding dengan berlapis-lapis serban yang kupakai dan berlembar-lembar jubah yang dikenakan para ulama.

Subhanallah, sungguh mulianya engkau, hasil rajutan itu engkau haramkan? Padahal bagi kami itu tidak apa-apa, sebab yang engkau lakukan itu tidak merugikan keuangan negara.

Kemudian Imam Ahmad melanjutkan, “Ibu, izinkan aku memberi penghormatan untukmu. Silahkan engkau meminta apa saja dariku, bahkan sebagian besar hartaku, niscaya akan kuberikan kepada wanita semulia engkau.

Diriwayatkan dari Abu Bakr Ash-Shiddiq, dari Rasulullah, beliau bersabda, Tidak akan masuk ke dalam surga sebuah jasad yang diberi makan dengan yang haram. (Shahih At-Targhib 2/150 no. 1730).

Semoga kita semua mampu belajar dari kisah masyhur di atas. Di tengah parahnya masyarakat kita, mereka menjadikan harta dan jabatan sebagai ukuran kesuksesan dan keberhasilan. Padahal orang yang paling sukses sejatinya adalah yang paling besar manfaatnya pada orang lain, pun manusia paling mulia adalah yang paling bertakwa. Wallahu A’lam.

Sebarkan Kebaikan!