Konsep Ilmu dalam Al-Qur’an, Al-Alaq 1-5

KH BACHTIAR NASIR 

(Tabligh Akbar di Masjid Agung Kota Binjai
Ahad, 7 Mei 2017)

EMPAT belas abad yang lalu di sebuah Jazirah yang sangat primitif, dua kekuatan adikuasa bersaing pada masa itu yaitu, Persia dan Romawi. Kota ini jauh dari hirup-pikuk sains dan teknologi dan tidak memiliki kecanggihan persenjataan. Mereka menyembah berhala, mengubur hidup-hidup anak perempuan dan gaya hidup yang tidak manusiawi. Akan tetapi, Allah SWT Maha Melihat dan Maha Berkehendak untuk menurunkan cahaya yang haq dan Rasul-Nya yang haq di muka bumi ini. Karena manusia pada saat itu sudah kehilangan kemanusiaan, di mana makhluk menyembah makhluk. Tidak pernah diduga Persia dan Romawi yang menjadi negara adikuasa hanya dalam kurung waktu puluhan tahun saja runtuh di hadapan peradaban baru yaitu, peradaban al-Qur’an.

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

“Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap” (Q.S. al-Isra’:81)

Sebagaimana gelapnya malam yang akan hilang ketika datangnya fajar. Muhammad SAW adalah cahaya yang diutus untuk menyebarkan cahaya itu ke seluruh penjuru dunia.

Pada awalnya kehidupan para sahabat ada yang hidup dalam kemusyrikan. Misalnya, pemimpin 2/3 dunia Umar bin Khattab, sebelum tersentuh dakwah Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW, Umar laksana serigala yang menerkam umat Islam. Tetapi, cahaya Islam dan al-Qur’an masuk ke dalam jiwanya dari penentang keras menjadi pembela terdepan Rasulullah SAW. Kedamaian meliputi dirinya, pengetahuan masuk ke tiap sel-sel tubuhnya dan keilmuan atas al-Qur’an yang membuat dia kuat. Di masa Umarlah Islam berhasil memimpin dua pertiga dunia. Bahkan tidak sampai seratus tahun peradaban al-Qur’an itu menjadi momok ancaman yang sangat ditakuti Persia dan Romawi.

Dari mana memulai peradaban hebat itu? Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul adalah ketika turunnya al-Alaq ayat 1-5. Sejak itulah Rasul menerima amanah Islam tapi belum diperintahkan untuk menyebarkannya.

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari ‘Alaq,
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling mulia,
4. Yang mengajar manusia dengan pena,
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.

Lima ayat inilah sebagai modal utama Rasulullah SAW. Umat Islam seharusnya memulai setiap aktivitas kehidupan dengan Iqra’ bismi Rabbikallazi khalaq (Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan). Ini adalah sebuah proses membaca yang goalnya adalah mengenal siapa yang menciptakan makhluk yang ada di alam semesta ini. Dia yang menciptakan semua yang diketahui dan yang tidak diketahui.

Al-Alaq adalah risalah pertama Nabi Muhammad SAW yang memperkenalkan siapa pencipta dan mengabarkan darimana asal-muasal manusia itu diciptakan. Disinilah kecerdasan Islam, sebelum sains modern bercerita tentang ilmu biologi, al-Qur’an telah mengabarkan empat belas abad yang lalu. Maka jangan sampai umat Islam tidak mengenal dirinya sehingga tidak mengenal Tuhannya karena dari situlah pemahaman terhadap agama bisa dicapai.

Tuduhan-tuduhan yang disematkan kepada umat Islam sebagai intoleran, radikal, primitif tentu tidak benar. Akan tetapi, boleh jadi cara berislam kita yang membuat orang lain salah paham terhadap umat Islam. Maka introspeksi diri tentang bagaimana proses Islam dan berislam kemudian jaya bersama Islam.

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (Q.S. al-Alaq:2)

Jika ke laboratorium untuk mengetahui anatomi tubuh manusia atau ke rumah sakit untuk periksa kesehatan, maka yang diperiksa pasti darahnya. Karena dalam darah ada mayoritas hormon yang mewakili organ-oragan tubuh manusia. Sehingga dari darah itulah diketahui kondisi anatomi tubuh manusia.

Islam adalah agama yang rasional dan sangat ilmiah. Tidak hanya sesuai dengan fitrah manusia. Islam adalah agama yang sejalan dengan sains bahkan banyak penemuan-penemuan baru yang terinspirasi dari al-Qur’an. Islam adalah agama yang mencerahkan manusia dengan ilmu dan jika dipelajari dengan benar maka akan mengeluarkan manusia dari kebodohan dan mengantarkan kepada kemanusiaan yang hakiki. Sehingga, jika ada umat islam yang hidup dalam lembah kebodohan dan kemaksiatan maka dia sedang salah jalan.

“Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling mulia” (Q.S. al-Alaq:3)

Tahapan selanjutnya setelah mengenal Allah SWT sebagai pencipta dan dari mana manusia diciptakan adalah mengenal-Nya sebagai dzat yang paling mulia.

Umat Islam diminta untuk menggunakan cara berfikir yang baik dan konsep-konsep ijtihad yang benar. Sehingga, cara berislam menjadi cerdas. Karena boleh jadi kekacauan dalam cara berpikir dan barisan umat tidak utuh jika tidak didasari dengan pengetahuan yang baik.

Kita melihat Allah SWT itu sebagai Zat yang mulia karena Dia-lah yang telah mengajari manusia ilmu pengetahuan.

“Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya” (Q.S. al-Alaq:4-5)

Makhluk yang pertama kali Allah ciptakan sebelum semua makhluk adalah qalam. Qalam inilah yang diperintahkan oleh Allah untuk menulis dan setelah itu Allah katakan “kun” maka semua yang sudah tertulis disitu maka terjadilah.

Allah SWT mengajari manusia lewat al-Qur’an tentang apa-apa yang belum diketahuinya. Disinilah letak keistimewaan Islam itu. Karena Allah-lah yang mengajarkan Nabi Muhammad SAW lewat perantara Malaikat Jibril AS ilmu yang tidak pernah diketahui sebelumnya. Kemudian Rasulullah SAW mengajarkan kepada manusia.

Jika berbicara tentang ilmu yang belum diketahui maka umumnya adalah tentang kehidupan akhirat dan hal gaib lainnya. Dengan al-Qur’an kita mengetahui apa itu neraka, surga, malaikat, arasy Allah, iblis, dan lainnya.

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

“Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (Q.S. al-Baqarah:32)

Maka umat Islam sejati itu adalah mereka yang berislam dengan ilmu. Karena pengetahuan adalah pondasi dari berislam. Minimal kita bisa mengenal siapa pencipta kita kemudian patuh dan tunduk kepada-Nya. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!