Kokohkan Persatuan Menuju Kejayaan Islam

KH BACHTIAR NASIR*

(Pimpinan AQL Islamic Center)

APA yang sedang terjadi akhir-akhir ini bukan masalah kebhinnekaan. Masalah kebhinnekaan di Indonesia sudah lama selesai. Begitu juga masalah kebangsaan. Apalagi ketika berbicara tentang lahirnya kebangsaan pada tahun 1928 terkait Sumpah Pemuda.

Adalah seorang KH Nur Ali yang mengusulkan kepada M Nasir ketika Indonesia pada saat itu masih dalam bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) agar dinaikkan statusnya mejadi Negara Kesatuan Indonesia (NKRI). Saat itu Soekarno menerima ketika diusulkan kepadanya. Oleh karena itu, ulama ikut andil untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang hari ini dipegang sebagai harga mati dan itu berasal dari ulama.

Lalu apa yang menjadi persoalan besar bangsa ini dan bagaimana solusinya? Umat Islam harus jernih melihat peristiwa. Tidak boleh membohongi diri sendiri. Kita harus melepaskan kepentingan dan ego pribadi atau kelompok. Yang kita pegang Cuma satu Laa ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Tanah ini adalah tanah Allah dan Indonesia adalah amanah Allah SWT. Persatuannya, kedamaiannya dan kedaulatannya menjadi tanggung jawab kita bersama.

Persoalan dasar kita adalah persoalan keadilan. Terutama “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” (Sila kelima Pancasila).

Ini sebetulnya yang mengendap tak terlihat di alam bawah sadar bangsa Indonesia pada hari ini. Islam mengalami diskriminasi. Akumulasi ini semua terlihat jelas di depan mata. Maka jika tidak pandai mengelola kekecewaan dengan baik dan jika tidak menempatkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya di depan akal sehat, akan salah dalam mendiagnosa masalah dan akan salah mengambil keputusan.

Kita harus mencapai kembali kejayaan Islam untuk kemudian disebarkan sebagai rahmatan lil ‘alamin dan membawa Indonesia menjadi negeri yang aman dan damai. Untuk membawa kedamaian ke seluruh dunia, umat Islam Indonesia wajib menjaga persatuan.

Akan tetapi, persatuan yang bagaimana yang harus kita jaga? “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran: 103)

Apa tali Allah itu? Tali Allah adalah agama Allah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Kebersatuan umat Islam di Indonesia dari sebelum kemerdekaan sampai kemerdekaan, sampai kemudian termaktub dalam UUD 45 “Atas berkat rahmat Allah SWT”, inilah yang sebenarnya yang harus kita cermati secara baik. Dilihat dari usaha memang sudah maksimal tapi usaha Indonesia untuk merdeka tidaklah cukup untuk mengalahkan musuhnya, tapi atas dasar berkat Allah dan pertolongan Allah SWT, maka penjajah pun dipaksa hengkang dari Indonesia. Dan penyebab utamanya adalah persatuan umat Islam. Persatuan yang berdasarkan tali Allah SWT.

Janganlah kalian terpecah belah”. Hal ini yang harus dipelajari pada hari ini. Dilihat dari al-Qur’an, penyebab dari perpecahan umat adalah tercerabutnya rasa kasih sayang di dalam hati.

Ada tiga urutan yang dijelaskan dalam ayat ini yang bisa membawa kita pada kehancuran jika tidak diperhatikan baik-baik. Sebetulnya tidak ada yang ingin berpecah dan tidak ada yang ingin berselisih karena perpecahan dan perselisihan itu menyakitkan hati. Tidak ada yang ingin bermusuhan karena bermusuhan itu membawa pada kegelisahan dan hilangnya ketenangan. Namun kitalah yang menyebabkan semua ini menjadi porak poranda karena kita telah mencerabut kasih sayang yang Allah tanam dalam hati kita. Kasih sayang itu adalah anugerah terbesar dari Allah SWT.

Jika ada anugerah terbesar yang Allah telah perlihatkan sepanjang masa maka yang paling besar yang diturunkan kepada kita adalah rahmat-Nya. Karena itu, jika ada sesuatu yang mendesak dalam hidup kita adalah rahmat Allah SWT. Karena itu, Allah memulakan nama-Nya untuk dikenal sebagai ar-Rahmaan ar-Rahiim.

Atas berkat rahmat Allah-lah kita bersatu. Ketika kita menjaga amanah kasih sayang yang sudah Allah tanamkan ke dalam hati kita, untuk senantiasa berbaik sangka, untuk senantiasa ber-tabayyun, tidak gampang buruk sangka dan mencela serta tidak gampang menyebarkan fitnah. Maka kasih sayang di antara kita akan terbina dalam hati kita semua.

Apa efeknya jika kita sudah saling mencerabut kasih sayang di antara kita? Sebagai contoh, di sebuah rumah tangga. Sebetulnya rasa kasih sayang antara suami istri begitu kuat. Tapi perceraian hari ini begitu tinggi. Dan 70% penyebab perceraian adalah khulu’ (perempuan yang minta dilepas dari suami). Penyebab khulu’ ini lebih banyak disebabkan oleh masalah ekonomi menurut penelitian. Tapi sebenarnya tidaklah demikian, karena suami bekerja istri juga bekerja. Tetapi yang penyebab yang sebenarnya adalah sudah saling cabut rasa kasih sayang. Mawaddah wa rahmah yang diamanahkan oleh Allah telah dikhianatinya. Mawaddah wa rahmah yang telah Allah anugerahkan kepadanya, ia cerabut dengan paksa. Terutama dari pihak suami harus lebih banyak kasih sayangnya karena dia sebagai pemimpin keluarga.Namun harus diakui, di antara semua penyebab adalah kegagalan suami di dalam rumah tangga dan mengelola rumah tangga tidak di penuhi rasa kasih sayang.

Begitu juga di dalam sebuah negara. Jika pemerintahan dan aparat dipenuhi rasa curiga terhadap rakyat dan jika pemimpin kurang rasa kasih sayangnya terhadap rakyat maka tunggu tanggal pemberontakan. Untuk itu, pemimpin yang sayang kepada rakyatnya dan rakyat yang taat kepada pemimpinnya adalah pemimpin yang adil karena pemimpin yang adil wajib mendapatkan ketaatan dari rakyatnya. Jika rasa kasih sayang itu saling dijaga dan tidak saling mengoyak maka Allah akan berikan lebih banyak lagi kasih sayang.

dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka

Kita bisa bersaudara, bisa bersuku dan tidak bercerai berai dan bisa berbangsa menjadi bangsa Indonesia karena nikmat dari Allah SWT. Tanpa nikmat dari Allah SWT, maka kita akan saling bermusuhan dan saling berperang. Jika mulai terpecah belah maka akan lemah, gagal, dan ujungnya akan kalah serta menjadi objek bulan-bulanan. Pada akhirnya hilang kekuatan sehingga kembali terjajah oleh orang yang kuat.

Dunia ini adalah dunia pertarungan. Siapa yang kuat dia yang berkuasa dan siapa yang lemah maka dia yang dikuasai. Umat Islam harus kuat dan kekuatan umat Islam sudah dijamin oleh Allah SWT dengan satu syarat, yaitu “berpegang teguhlah dalam tali Allah“. Inilah satu-satunya cara untuk bersatu dan mendapatkan persatuan dan kekuatan. Kebenaran absolut ada pada al-Qur’anul Karim dan penjabarannya ada pada Sunnah Nabi SAW. Dalam keseharian ini kita bisa mencontoh para ulama dalam menjalaninya.

Untuk medapatkan kekuatan, persatuan dan rahmat Allah adalah; “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS ali-Imran:104)

Pemenang sejati adalah mereka yang sudah bersatu kemudian menjadi umat yang menyeru kepada kebaikan.

Persoalan terbesar bangsa ini adalah persoalan energi dan medsos. Dalam hal ini, kita tidak akan membicarakan soal energi walau energi banyak dirampas dan tidak dikembalikan secara berkeadilan. Tapi persoalan terbesar kedua adalah masalah akhlak dalam bermedia sosial.

Memang para ulama terlambat memberikan panduan fiqih dalam bermedia sosial dan ulama diminta untuk lebih progresif lagi bagaimana para dai mendidik umat dalam bermedia sosial. Akhlak yang tidak terpuji menyeruak di hampir semua bahasa-bahasa media sosial. Hal ini berpotensi untuk memecah bela kita semua. Seperti hoaks, informasi yang tidak berdasar, bohong dan informasi yang bisa memecah belah.

Akan tetapi, umat Islam sudah berpegang pada al-Qur’an; “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan”. Kebaikan yang sama-sama kita fahami secara akal sehat bahwa ini baik dan ini buruk. Tidak cukup sampai disitu tapi “menyuruh kepada yang ma’ruf”. Menjadi orang yang mengajak orang lain kepada yang ma’ruf dengan cara yang ma’ruf. Jangan mengajak orang pada kebaikan tetapi bukan dengan cara yang baik. “dan mencegah dari yang munkar”, cegahlah kemunkaran dengan syarat tidak boleh menyebabkan kemunkaran yang lebih besar, terkhusus di media sosial.

Betapa banyak dosa-dosa kita tanpa kita sadari, menyebarkan berita hoaks, fitnah, dan orang yang belum tentu bersalah kita sebarkan keburukan-keburukannya. Jika ini terjadi terus-menerus tanpa dibendung maka bertumpuklah dosa di dalam diri kita. Sehingga kehidupan kita tidak lagi mencapai kebahagiaan.

Kalau sudah menjadi orang yang menyeruh kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dengan cara yang ma’ruf, dan melarang kemunkaran dengan cara tidak menimbulkan kemunkaran yang lebih besar. Di akhir ayat di atas Allah berfirman: “merekalah orang-orang yang beruntung.”

Akan tetapi, menjadi muslim yang baik dan bersatu pasti ada tantangannya. Apalagi umat Islamnya baik dan bersatu.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS al-Baqarah:120)

Al-Qur’an sudah tegas, ada sekelompok orang yang tidak akan pernah rela umat Islam bersatu, ada yang cemburu jika umat islam yang sudah damai dan bersatu itu mengajak kepada kebaikan.

Maka bagaimana cara menghadapinya, agar umat Islam tetap kuat dan mulia? Al-Qur’an mengajari kita bagaimana sikap elegan menghadapi tantangan yang mengiginkan perpecahan di antara umat Islam dan tidak menginginkan umat Islam membawa kedamaian di negeri ini.

Sebuah langkah strategi untuk mengahadapi musuh yang hendak menyerang umat Islam. Ada dua syarat jika ingin menang saat berhadapan dengan musuh. Yang pertama, teguhkanlah hatimu dan berzikirlah yang banyak. “Hai orang-orang yang beriman apabila kamu menghadapi pasukan musuh maka berteguhlah dan kuatkanlah hati kamudan selalulah sebut nama Allah sebanyak-banyaknya agara kamu beruntung.” (QS al-Anfal:45)

Dan syarat kedua ada pada surat al-Anfal ayat 46: “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS al-Anfal: 46)

Ayat-ayat muhkamat dari Allah SWT sudah begitu terang dijelaskan oleh Rasulullah SAW termasuk dalam soal memilih pemimpin. Jangan dibolak balik dan jangan dipelintir, al-Qur’an sudah mengaturnya. Apa yang sudah jelas dari Allah dan Rasul-Nya maka jalankanlah. Apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya laksanakan semampu kamu. Tetapi apa yang dilarang dari kamu jauhi secara total.

Kesimpulan, pertama, hadapi situasi dengan kepala dingin, hati yang penuh sabar. Lihat persoalan secara jernih, jika memang dirasakan ada ketidakadilan, ini adalah akumulasi sekian lama. Ini adalah sebuah perjalanan bangsa memang ada hal yang perlu kita koreksi. Bukan hanya kesalahan satu dua rezim tapi ini sudah berlangsung cukup panjang. Adalah kewajiban umat islam untuk sama-sama menyelesaikannya.

Kedua, jadilah problem solver. Umat Islam harus jadi bagian dari problem solver dengan cara berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah.

Ketiga, jadilah umat yang menyeru kepada kebaikan serta taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan bersabarlah bersama Allah dan Rasul-Nya.

Janganlah menjadi umat yang berputus asa meluapkan kemarahan bukan pada tempatnya. Jadilah umat yang adil, menempatkan sesuatu pada tempatkknya. Wallahu a’lam. (Disampaikan pada Khutbah Shalat Jumat di Masjid Raya An-Nur Pekanbaru, Riau) * muhajir/azh

Sebarkan Kebaikan!