Artikel
Trending

Khutbah Jumat: Persatuan atas Nama Islam

PERSAUDARAAN dan persatuan sudah menjadi perbincangan di kalangan umat Islam dari abad ke abad. Perpecahan telah menjadi masalah besar di tubuh umat ini, dan menjadi peluru yang paling efektif bagi musuh untuk mengalahkan umat Islam. Sebuah pelajaran penting, jangan sampai runtuhnya Islam Andalusia terulang di Indonesia.

Abdillah Muhammad bin Al Ahmar, pemimpin terakhir di Andalusia Spanyol. Ia keluar dari istana kerajaan dengan hina. Malam itu, Andalusia telah jatuh ke tangan kerajaan Katolik setelah berada di bawah kekuasaan Islam selama lebih dari 800 tahun.

Pilu bagai sembilu, dia meninggalkan istananya dengan dada sesak. Hingga sampai di sebuah bukit yang cukup tinggi. Dari sana dia menatap Istana Al Hambra, sebuah sungai mengalir dari hati ke matanya hingga jenggotnya basah kuyup dengan air mata.

Menyadari hal itu, ibunya mendekat, Menangislah! Menangislah! Menangislah seperti perempuan! Karena kau tidak mampu menjaga kerajaanmu sebagaimana laki-laki perkasa.

Ahmad Mahmud Himayah dalam bukunya Kebangkitan Islam di Andalusia memberikan informasi berkenaan dengan Islam di Indonesia. Ada tiga catatan besar mengenai sebab keruntuhan peradaban Islam di Andalusia.

Pertama, perpecahan umat Islam pada saat itu. Kedua, cinta dunia dan takut mati kaum muslimin khususnya anggota keluarga kerajaan Islam Andalusia. Ketiga, memudar atau hilangnya peran ulama pada saat itu, kata Himayah dalam bukunya itu.

Dalam artikel kali ini, kita tak ingin membahas ketiga penyebab utama runtuhnya kerajaan Islam di Andalusia. Namun satu poin yang menjadi sorotan penting, mengingat hal itu kerap kali terjadi di tubuh umat Islam, tak ketinggalan umat Islam Indonesia. Poin itu adalah perpecahan umat Islam.

Adalah kebodohan jika umat ini kembali terjatuh ke lubang yang sama. Bukankah sudah ada pelajaran yang sangat jelas, jika umat Islam terpecah belah maka tunggulah kehancuran. Perpecahan harus kita tinggalkan, dan bergenggaman tangan, golongan apapun itu, ormas Islam manapun, kita sama-sama meneriakkan kata persatuan. Yaa.. persatuan atas nama agama.

Hiruk-pikuk pesta demokrasi yang tinggal menghitung hari membuat umat Islam harus punya pegangan kuat untuk bersatu. Agar umat ini tidak dipecah belah atas nama partai politik atau pilihan politik tertentu. Tentu, pegangan kuat itu adalah “persatuan atas nama Islam”.

Kenapa harus persatuan atas nama Islam? bukankah bersatu di bawah naungan Muhammadiyah, Persis, atau NU sudah cukup?

Selama ini kita telah bersatu atas nama ormas masing-masing, tapi apakah sudah tercipta persatuan yang diimpikan? Apakah sudah tidak ada lagi caci maki antar sesama muslim?

Ustadz Bachtiar Nasir dalam khutbahnya mengutarakan bahwa, “Selama ini kita telah bersaudara atas nama agama tapi terpecah-belah karena masih mengelompokkan diri atau mengkristalkan diri atas nama agama. Merasa golongannya paling benar sehingga menyalahkan saudara muslinya sendiri.” Miris bukan?

Persatuan atas nama ormas itu perlu tapi jangan sampai merusak persatuan utama, yaitu persatuan atas nama Islam. Akan menjadi sangat indah jika semua ormas Islam bersatu dan saling merangkul, saling mengingatkan, saling tolong-menolong, saling menegur jika salah, dan lain sebagainya.

Seperti yang dinasihatkan oleh Rasulullah Saw., sebuah hadist yang oleh Ustadz Bachtiar Nasir menyebutnya sebagai kode etik yang harus kita pegang jika ingin bersatu atas nama Islam.

“Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. Tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh pula menyerahkan kepada orang yang hendak menyakitinya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari Muslim)

Sangat jelas dalam hadis tersebut, Rasul tidak menyebut antar sesame suku, bangsa, ataupun ormas, tapi persaudaraan atau persatuan atas nama Islam. Persatuan demikian inilah yang menjadi titik kekuatan umat Islam. Persatuan yang paling ditakuti oleh orang-orang kafir serta membuat sakit hati orang-orang munafik.

Hal ini juga menjadi reminder bagi kita para pemuda. “Anda wahai pemuda akan menjadi orang besar jika kemanapun anda pergi selalu membawa bendera Islam. Anda wahai pemuda akan kecil dan kerdil jika tidak membawa bendera Islam.” urai Ustadz Bachtiar Nasir.

Sebagaimana hadist di atas, yang juga menjadi kode etik jika ingin persatuan atas nama Islam terwujud. Pertama, Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lainnya. saudara artinya saling merangkul, bukan saling memukul. Saudara artinya saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan. Saudara artinya saling tolong menolong, bukan saling mengejek apalagi mengolok-olok.

Kedua, Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Jangan pernah merusak harga diri sesame muslim. Jangan pernah mengambil harta sesame muslim. Lebih dari itu, jika ada saudara muslim yang dibully maka bela. Kalau saudara muslim sedang membutuhkan maka bantu.

Ketiga, Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang muslim, niscaya Allah akan melapangkan kesulitan-kesulitannya di hari kiamat. Derita saudara muslim kita di Selat Sunda misalnya, Palu, atau Lombok, sudahkah kita bantu mereka. Padahal Allah sudah berjanji melalui lisan Rasulullah bahwa Dia akan melapangkan kesulitannya di hari kiamat jika meringankan kesulitan sesame muslim.

Keempat, dan barangsiapa yang menutupi kesalahan seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi kesalahannya kelak di hari kiamat. Buang kebiasaan bully. Kubur dalam-dalam kebiasaan mengejek saudara sendiri. Sebab itu bukan adab seorang muslim.

Persaudaraan atas nama Islam itu bukan hanya di dunia saja, tapi akhirat oriented. Persaudaaran berdasarkan islam mendapatkan pengaruh besar di akhirat kelak.  *Ditulis dari Khutbah Ustadz Bachtiar Nasir, Jumat, (11/1).

*Mohajer

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close