Khatib Jumat Masjid Istiqlal Sebut Aksi Bela Islam Tugas Suci dan Mulia

JAKARTA (AQLNEWS) – Pelaksanaan Aksi Simpatik 55 di Masjid Istiqlal, Jumat (5/5/17), berlangsung lancer dan damai. Beberapa Aksi Bela Islam sebelumnya khususnya Aksi 411 dan Aksi 212 juga menuai kekaguman dan pujian karena pelaksanaannya yang berlangsung damai dan bermartabat. Khatib Masjid Istiqlal, KH Muhammad Adnan Harahap, menilai aksi-aksi umat Islam yang damai itu menjadi wajah Indonesia yang berpenduduk mayoritas Islam.

“Sama dengan hari ini yang datang ke Masjid Istiqlal, mereka melaksanakan tugas suci dan mulia dengan melakukan aksi damai. Saya yakin berbagai aksi di dunia, mungkin baru di negeri yang mayoritas Muslim ini yang bisa menggelar aksi terbesar dan berlangsung damai. Inilah wajah Indonesia. Karenanya, kita luruskan niat semata-mata Lillahi Ta’ala. Kita ajak seluruh umat Islam meluruskan niatnya mulai diri sedniri, keluarga, masyarakat, para pemimpin, ahli hukum, pejabat lembaga Negara, agar supaya melusuruskan niat dalam manjalankan tugas. Jangan ada sandiwara hidup,” ungkap KH Muh Anwar di awal-awal khutbahnya di Masjid Istiqlal.

Menurut dia, Allah SWT takdirkan Indonesia  berpenduduk muslim terbesar di dunia. Karenanya mata dunia tertuju ke Indonesia untuk melihat wajah muslim terbesar dunia ini. Tak heran, hampir semua pemimpin dunia yang datang ke Indonesia selalu menyempatkan diri datang ke Masjid Istiqlal. “Semua karena mereka melihat wajah Islam Indonesia sebagai penduduk Islam terbesar di dunia,” katanya.

Dalam khutbahnya dia mengangkat pesan al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 110. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Umat Islam harus menjadi umat terbaik dan bermartabat. Artinya umat yang teratur, tertib, dan mempunyai harga diri. Bayangkan, kata dia, Islam di mana pun ia datang dan bertemu dengan saudaranya selalu mengucapkan salam. Seorang Muslim selalu menebarkan salam, salam perdamaian, salam persaudaraan, dengan senyum, dan dijamin bahwa saudaranya mendapatkan kedamaian. Inilah umat yang bermartabat. “Itulah yang disebut khaerah ummah (umat terbaik). Tampil dalam hubungan sesama manusia, menyebarkan kebaikan, dan mencegah segala kerusakan di maka bumi ini. Alangkah indahnya Islam,” katanya.

Para ahli menyampaikan, kata dia, kalau tidak bisa bermanfaat kepada orang lain jangan berbuat mudharat. Kalau tidak bisa menguntungkan orang lain, jangan merugikan mereka. Abadilah persauadaraan dengan cara begini. Itulah ukhuwah Islamiyah, ukhuwah kebangsaan, satu sama lainnya berbuat baik dan menerbakan kebajikan. Itulah kebesaran Islam di permukaan bumi ini.

Demikian juga menjadi umatan wasathan (moderat), yaitu menjadi wasit, bukan penonton. Seorang wasit harus berlaku adil dan seimbang, berposisi di tengah tidak di pinggir. Islam di mana pun di dunia ini selalu dapat mendapat perhatian karena indah, punya aturan hidup, hanya memakan makanan halal, berpakaian bersih, dan meninggalkan kalau kotor. Demikian indahnya Islam. Itulah yang membuat penganutnya mulia. “Kita seluruhnya menjadikan kehidupan kita mendapatkan harkat martabat dan membawa misi Rahmatan lil ‘Alamin agar kehidupan bangsa kita ini membawa kedamaian dan kesejukan.,Bangsa ini beradab dan bermartabat karena dipelopori umat Islam,” katanya.

Di akhir khutbahnya, dia menyampaikan pesan persaudaraan oleh salah orang ulama besar Ar-Rozi. Ada tiga macam hak mukmin, yaitu jika tidak memberikan mafaat jangan berbuat mudharat. Kalau tidak bisa menolong jangan merugikan orang. Kedua, jika tidak bisa menyenangkan jangan sampai menyusahkan. Ketiga, kalau tidak bisa memuji, jangan sampai mencaci maki orang lain. “Kalau itu kita amalkan, abadilah persaudaraan bangsa ini. Kalau caci mencaci, habislah kedamaian dan ketenangan bangsa ini,” katanya. *azh pawennay

Sebarkan Kebaikan!