Khalid; Ksatria Tempur yang Gugur di Kasur

HAZIM Shalah Isma’il, seorang dai berkebangsaan Mesir, pernah berujar, “Sesungguhnya keberanian tidak mempercepat kematian. Demikian juga sifat pengecut, tidak akan menunda kematian.” Kondisi ini, dalam sejarah, juga berlaku kepada komandan militer muslim kelas wahid, Khalid bin Walid (30 SH-21 H/592-642M) radhiyallahu ‘anhu.

Sahabat yang berjuluk Saifullah al-Maslul (Pedang Allah yang Terhunus) ini di akhir hayatnya sedikit dirundung duka. Pasalnya, cita-citanya berupa: syahid di medan tempur, nyatanya harus berakhir di atas kasur.

            Menjelang wafat, dalam nuansa kesedihan, dia sejenak tepekur kemudian bercerita, “Aku telah menyaksikan seratus peperangan atau semisalnya, tidak ada satu pun dari tubuhku, dalam jarak sejengkal tangan, melainkan ada bekas sabetan pedang, sisa tikaman, atau luka panah. Sekarang ini aku akan gugur di atas kasur sebagaimana matinya onta. Mata orang pengecut tidak akan pernah tidur.” (Abdul Barr, 1412: II/430).

Sekilas memang tampak mengharukan. Skaliber Khalid, sang panglima militer kawakan, akhirnya wafat di atas dipan. Komandan tentara pejuang, harus merelakan diri wafat di atas ranjang. Meski sudah seratus lebih peperangan dilakoni dengan gagah berani, tetap saja takdir kematian tak bisa ditentukan sendiri.

Memang kematian dan kehidupan sudah ditentukan Allah. Bila ajal sudah datang menjemput, maka tak akan bisa dimundurkan atau dimajukan sesaat (QS. Al-A’raf [7] : 34).

Pahlawan-pahlawan muslim di bumi pertiwi pun juga ada yang mengalami nasib yang sama. Pangeran Diponegoro (1785-1855 M), sosok pahlawan muslim kenamaan yang gigih melawan tentara Belanda dalam Perang Jawa atau Diponegoro (1825-1830), nyatanya meninggal bukan di medan perang, tapi tempat pengasingan orang.

Jendral Sudirman (1916-1950 M) yang aktif menentang Belanda dengan perang gerilyanya, akhirnya wafat bukan dalam kondisi bertempur di medan juang. Bung Tomo (1920-1981) yang melecut perjuangan arek-arek Surabaya pada 10 November 1945, wafatnya bukan di gelanggang pertempuran, tapi di rumah sakit saat sedang menunaikan ibadah umrah.

Kisah-kisah mengharukan tersebut, memberi pelajaran berharga pada setiap muslim: tidak ada yang tahu akan wafat di tempat mana, yang bisa dilakukan hanya terus menerus berjuang. Keberanian tak selalunya dekat dengan maut, demikian pula sifat pengecut tak mesti menangguhkan atau menjauhkan diri dari kematian.

Sebagai penutup, pesan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu kepada Khalid bin Walid berikut ini bisa dijadikan teladan, “Antusiaslah terhadap kematian, maka engkau akan dianugerahi kehidupan.” (Ad-Dinawari, 1419: III/61). Sebuah narasi penuh arti, bagi jiwa-jiwa pemberani. Wallahu a’lam.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!