KH Cholil Ridwan: Tegakkan Keadilan dan Hukum Penista Secara Maksimal!

JAKARTA (AQLNEWS) – “Umat Islam wajib bersyukur atas kemenangan gubernur Muslim di Jakarta.” tutur Ustadz Cholil Ridwan saat khutbah Jum’at di AQL Islamic Center (5/5/2017).  Menurut ulama jebolan Universitas Madinah ini, Ibadah syukur ini sering kali dilalaikan oleh manusia (QS. Saba [34]: 13). Pada Surah Ibrahim ayat tujuh, juga ada teguran, jika syukur nikmat akan ditambah, dan kalau kufur, azab-Nya sangat pedih.

            Pada momen penuh berkah ini, Pimpinan Umum Pondok Pesantren Husnayain ini juga mengingatkan, yang belum sujud syukur atas kemenangan gubernur Muslim, segera sujud syukur bakda shalat Jum’at. Berkaitan dengan definisi syukur, beliau mengutip pandangan ulama yang intinya ziyâdatuth thâ’ah (bertambahnya ketaatan). Ketaatan kepada Allah, Rasul-Nya, al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah SAW.

“Kalau sudah bisa menjadi umat yang bersyukur,” lanjutnya, “maka kita akan menjadi umat yang berbahagia dunia dunia-akhirat. Menjadi ummatan wasathan. Umat yang betul-betul menjadi wasit, pemimpin yang menentukan bagi umat di dunia.” Ini sesuai dengan doa berikut:

{ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا} [الفرقان: 74]

“Dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74). Maksudnya, jadikanlah kami menjadi pemimpin umat yang bertakwa.  Umat Islam ditakdirkan menjadi pemimpin, khalifah. Pemimpin alam ini, khususnya umat manusia yang berislam, beriman dan bertakwa. Bahkan Rasulullah menegaskan, sitiap kita adalah pemimin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya.

Jadi, umat Islam adalah pemimpin, minimal untuk dirinya sendiri. Setelah itu baru keluarga, masyarakat hingga bangsa-negara. Kalau tidak, maka kita akan menjadi bangsa berlabel kafirin kata al-Qur`an (QS. Al-Ma’idah [5]: 44).

            Terkait konteks hari ini, ulama alumni Pondek Modern Darus Salam Gontor ini menyayangkan adanya pemimpin non-muslim yang menistakan al-Qur`an, diperlakukan istimewa. Kalau penista agama sebelumnya dipenjari 4-5 tahun, sedangkan yang ini terkesan berbeda.

“Maka dari itu,” menurut beliau, “umat Islam hari ini melakukan demonstrasi secara damai adalah untuk menjaga independensi hakim. Karena kepadanya keadilan bisa direalisasikan. Mereka perlu diingatkan bahwa menurut hadits, menjadi hakim bukan perkara mudah. Dari tiga jenis hakim, hanya satu yang masuk surga, sedangkan sisanya neraka (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).”

“Keadilah harus ditegakkan (QS, An-Nisa [4]: 135) walaupun itu kepada diri sendiri. Hakim yang menjadi penentu putusan sidang penista agama harus bersikap adil. Jika tidak adil, maka Allah Mahatahu. Oleh karena itu semoga hakim mendapat hidayah, dan memberikan hukuman maksimal kepada penista agama,” pungkasnya.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!