KH Bachtiar Nasir Sampaikan Ayat Totalitas dalam Berislam di Masjid Jogokariyan

JOGJAKARTA (AQLNEWS) – Totalitas dalam berislam bagi umat Islam adalah sebuah kewajiban. Bukanlah cara berislam yang benar jika umat hanya mengamalkan perintah al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW dengan syariat yang disukai, dan meninggalkan sebagian karena tidak disukai.

Menurut Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir, selamanya umat Islam akan kuat jika berpegang teguh pada al-Qur’an dan terus berjuang untuk berislam secara kaffah (totalitas). Kaffah artinya meliputi semua sisi, sisi akidah, syariah, dan akhlak. Hal itu disampaikan KH Bachtiar Nasir pada Tabligh Akbar di Masjid Jogokariyan, Jogjakarta, Ahad (28/5/2017). Hadir sebagai pembicara Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah dan Ketua Dewan Syura Masjid Jogokariyan Ustadz Muhammad Jasir ASP.

Di awal tausiahnya, KH Bachtiar Nasir membacakan ayat Al-Qur’an dalam Surat al-Baqarah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah: 208)

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya dan membenarkan Rasul-Nya, hendaklah mereka berpegang kepada tali Islam dan semua syariatnya serta mengamalkan semua perintahnya dan meninggalkan semua larangannya dengan segala kemampuan yang ada pada mereka.

Terkait masalah ini, KH Bachtiar Nasir mencontohkan, ekonomi syariah akan terus stagnan jika hanya menjalankan ekonomi syariahnya tapi takut pada syariat agama. Artinya, menjalankan ekonomi syariah itu karena tahu ada uang di dalamnya dan meninggalkan syariat karena ada kewajiban lain di dalamnya. Artinya syariah hanya mau dijalankan untuk keuntungan tertentu dan meninggalkan sebagian karena hitung-hitungan duniawi. Padahal, ekonomi syariah akan subur jika ditanam di atas syariat. Jika ini tidak disadari maka ekonomi syariah itu tidak akan berkembang dan terus stagnan.

“Fenomena berislam separuh ini sudah menjadi budaya di sebagian umat Islam, hanya melakukan syariat yang menguntungkan dan tidak mau berislam jika tidak menguntungkan (secara materi atau secara pribadi dan kelompok). Padahal, proses menuju Islam kaffah itu harus meninggalkan langkah-langkah setan, karena setan adalah musuh terbesar dan musuh nyata bagi umat manusia,” urai Ketua Alumni Universitas Islam Madinah dan alumni Arab Saudi se-Indonesia ini.

Dia melanjutkan, tidak mungkin seseorang bisa berislam kaffah jika masih mengkuti sebagian langkah-langkah setan. Misalnya, di masjid ia berislam tapi di luar masjid ia mengikuti sistem setan. Orang dikatakan tidak berislam totalitas jika takut membicarakan masalah keumatan di dalam masjid, meski hal itu ada dalam al-Qur’an dan merupakan perintah Allah SWT.

Sebagaimana prinsip Umar bin Khattab, “Aku tidak rela Islam direndahkan sementara aku hidup di zaman itu”. Apa gunanya hidup seorang muslim jika melihat agamanya dinista dan dia tidak melakukan apapun. Umat Islam akan terus kuat dan menang jika menjalani tiga resep yaitu, jika mau terikat dengan fatwa ulama, siap dipimpin secara informal oleh para ulama, dan siap menjaga lembaga-lembaga keilmuan dan lembaga keulamaan.

“Belakangan ini muncul orang-orang yang mendeklarasikan dirinya sebagai orang yang paling Pancasila, paling Bhinneka, dan paling cinta NKRI. Padahal, orang yang yang mengklaim dirinya paling Pancasila. Mengklaim paling cinta NKRI padahal warga negara lainnya juga cinta tanah air. Juga, mengaku paling Bhinneka, artinya memandang yang lain tidak menghormarti perbedaan, dan itulah sebenarnya yang anti-Bhinneka. Pancasila, Bhinneka, dan cinta NKRI adalah milik bersama bangsa Indonesia. Maka, jika ada yang merasa paling NKRI sebenarnya dia itu radikal dan ada yang salah dengan cara berpikirnya karena tidak mungkin Indonesia ini tegak jika ada orang yang merasa paling NKRI, berarti dia ingin berdiri sendiri,” katanya.

Pada sila keempat Pancasila, ada kata hikmah dan kebikjasanaan. Kedua kata ini kalau ditafsirkan ada secara betul dan benar, maka kita harus merujuk pada kosakata al-Qur’an. Para ulama menafsirkan kata hikmah yaitu ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Jadi, negara ini hanya boleh dipimpin oleh orang yang hikmah, artinya punya ilmu yang bermanfaat dan manfaatnya sudah terbukti dan mempunyai amal shalih. Begitu juga kata adil dan adab, keduanya dapat ditemukan al-Qur’an dalam arti yang sebenarnya. Meski begitu, bukan berarti terjadi pemaksaan untuk memeluk Islam karena konsep keislaman sudah jelas yaitu dengan cara-cara damai.

Sejak awal Islam masuk ke Indonesia dengan cara damai dan tidak memaksakan masyarakat untuk memeluk Islam. Seperti yang tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 256:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dia juga menjamin bahwa umat Islam cinta damai karena memang Islam dibawa masuk ke Indonesia dengan cara damai. Maka sebuah penghianatan jika umat Islam merusak kedamaian yang telah diperjuangkan oleh ulama-ulama pejuang dahulu. Memang para ulama terdahulu pernah mengankat senjata, tetapi bukan untuk mengambil alih kekuasaan yang telah ada melainkan mempertahankan keutuhan NKRI dan mengusir penjajah dari Indonesia. Ulama hanya mempunyai satu prinsip jika ada penjajah yang ingin memecah belah keutuhan NKRI yaitu mati syahid atau hidup mulia. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!