NewsTausiyah

KH Bachtiar Nasir Sampaikan Arti Pentingnya Keimanan

Ditengah jamaah yang memadati area panggung utama Islamic Book Fair (IBF) 2018 dalam acara Tabligh Akbar “Upgrading Iman”, Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir menyampaikan pentingan arti keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut beliau, iman adalah solusi bagi semua masalah. Sabtu Malam, 21 April 2018.

Tabligh Akbar ini semakin menarik karena dipandu oleh David Chalik, public figure yang namanya tak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia.

Dalam pemaparannya, UBN menjelaskan bahwa reruntuhan moral yang menimpa bangsa muslim terbesar di dunia ini karena masih stagnan pada status muslim, “masih berislam, belum beriman,” tuturnya.

Berislam artinya masih memikirkan diri sendiri, tidak memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan masalah umat. Hanya ingin masuk surga sendiri. Enggan terjung ke dunia politik dan menyerahkan urusan ini kepada orang yang tidak faham agama. Tidak memikirkan kemajuan peradaban Islam dari sisi ekonomi, mengumpulkan rupiah untuk diri sendiri saja dan membuatnya berat berinfak, bersedekah, ataupun sekedar memberi hadiah. Ciri orang seperti ini menganggap ibadah hanya di masjid, setelah melewati pintu syariat Islam tidak dibawa ke dunia ekonomi, politik, budaya, atau dalam pergaulan sehari-hari. Pola pikir demikian ini yang menghambat kemajuan suatu bangsa, termasuk Indonesia dengan muslim terbesar di dunia.

Jamaah yang hadir tampak kaget mendengar ulasan yang disampaikan lulusan Universitas Madina tersebut. “Apa kabar imanmu?” tanya beliau.

Pertanyaan tersebut dijawab tatap rasa ingin tahu oleh jamaah. “Untuk meningkatkan status dari berislam ke beriman, maka kita harus memahami ciri-ciri orang beriman terlebih dahulu”, ulasnya. Beliau kemudian membacakan surat QS Al-Anfal : 2-4,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka [karenanya] dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (2) [yaitu] orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (3) Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki [ni’mat] yang mulia.” (4).

Ada beberapa poin yang menjadi pelajaran penting dari ayat ini; hati orang beriman akan bergetar ketika mendengar nama Allah Swt. disebut, imannya akan meningkat saat mendengar ayat-ayat-Nya, terhadap permasalahan hidupnya dia bertawakal kepada Rabb semesta alam. Ibadah hati itu dibuktikan dengan shalat dan menunaikan zakat.

Orang beriman tidak merasa puas hanya dengan ibadah wajib saja, tapi selalu berusaha menjalankan ibadah Sunnah. Tidak hanya shalat wajib lima waktu, tapi mendirikan shalat sunnah; rawatib, tahajjud, dan lainnya. Tidak hanya berzakat, tapi berinfak, bersedekah, dan senang memberi hadiah.

Hati orang beriman selalu terpaut dengan penciptanya. Bibirnya dibasahi dengan zikir, hatinya dipenuhi dengan asma Allah, dan semua aktivitasnya selalu melibatkan Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Di tengah penjelasan Sekjen MIUMI itu, David Chalik selaku moderator bertanya kepada jamaah, “Bagaimana hakikat ilmu menurut jamaah dan apa pengaruhnya terhadap keimanan?”. Sontak jamaah  tersenyum tanda menginginkan jawaban dari KH Bachtiar Nasir.

Pintu gerbang utama ilmu adalah pendengaran. Sesuatu disebut ilmu adalah apa yang berasal dari pendengaran, tentu apa yang didengar dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. “bukan hasil analisis opinimu. Tentu ilmu yang didengar itu adalah yang didengar dari Rasulullah. Seseorang yang mendengar dari ayat dan hadis maka bertambahlah imannya,” Tegas UBN.

Beliau kemudian mengajak para jamaah untuk kembali ke 14 abad yang lalu, masa ketika Rasulullah SAW hidup. Ada yang menarik dari metodologi pengajaran Rasulullah dan sahabatnya. Mereka terlebih dahulu menanamkan keimanan dalam hati anak-anaknya lalu mengajarkan makna Al-Qur’an. Mengedepankan beriman sama halnya membaca Al-Qur’an. “Disini ada korelasi yang menarik antara iman dan Al-Qur’an. Kedua hal ini sesuatu yang tidak bisa dipisahkan,” ucapnya.

Al-Qur’an adalah ruh bagi orang beriman. Tanpa ruh jiwa dan akal akan mati. “Al-Qur’an panduan untuk mendekat kepada Allah dan panduan untuk masuk surga sekeluarga. Siapa saja yang mengaku beriman tapi jauh dari Al-Qur’an, keimanannya perlu dipertanyakan,” tuturnya.

Beliau menutup tausiyahnya dengan sebuah kisah. Pernah suatu ketika datang orang Arab Badui kepada Rasululah dan mengatakan mereka telah beriman. Namun Rasul mendapatkan wahyu yang menyampaikan bahwa mereka belum beriman, masih berislam.

Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Hujurat: 14).

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close