News

KH Bachtiar Nasir: Indonesia Tidak Boleh Jadi Kapitalis dan Haram Jadi Komunis

PONTIANAK (AQLNEWS) – “Kita harus kembali ke jati diri bangsa yang sesungguhnya. Indonesia adalah Negara yang berketuhanan yang maha esa. Indonesia tidak boleh jadi kapitalis dan Indonesia haram jadi Komunis. Tapi jangan hanya di mulut tapi harus merasuk ke dalam jiwa”, Jelas Pimpinan Ar-Rahman Qur’anic Learning (AQL) Islamic Center KH Bachtiar Nasir dalam safari dakwah, Aula Universitas Muhammadiyah, Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu (7/10/17)

Lebih lanjut Pimpinan AQl itu menjelaskan bahwa, “sistem apa pun yang akan masuk ke Indonesia tidak boleh bertentangan dengan ketuhanan yang maha esa. Jika jati diri bangsa kita yang sesungguhnya ingin kokoh”

Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. al-An’am: 163)

Ideologi bangsa Indonesia seudah jelas, yaitu anti kemusyrikan serta beragama bukan soal mengarang-ngarang di otak tapi menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Maka salah besar orang yang mengatakan, politik dan agama itu harus dipisahkan. Padahal dalam Islam memilih pemimpin adalah bagian dari ideologi umat Islam. Karena dalam hukum sosial, agama rakyat itu tergantung pada agama pemimpinnya.

Beliau menjelaskan bahwa, “di Indonesia politik identitas atau memilih berdasarkan suku itu boleh. Sehingga orang Islam memilih pemimpin orang Islam juga dilindungi Undang-undang. Ini menjadi bagian dari jati diri bangsa yang harus di pegang erat, namun kita harus tetap dalam bingkai kebhinekaan tunggal ika, ‘Bagimu agamau dan bagiku agamaku’”, jelasnya

Indoensia dengan pancasila yang telah ditetapkan para pendiri bangsa ini harus kita pertahankan dan harus kita jaga.

“Dalam pancasila ada beberapa kata yang tidak ditemui padanan katanya dalam bahasa Indonesia mau pun dalam bahasa daerah. Siapa yang bisa menafsirkan kata adil, adab, bijaksana, musyawarah, dan hikmah kecuali kamus Islam” Tanya UBN kepada mahasiswa universitas Muhammadiyah Pontianak

Seperti kata adil, dalam kamus Islam kata itu bermakna menempatkan sesuatu pada tempatnya dan lawanya adalah zalim. Juga kata beradab, manusia Indonesia harus menjadi manusia yang beradab untuk menciptakan peradabab yang hakiki. Adab yang menuju kepada peradaban adalah dasaranya ilmu. Oleh karena itu siswa dan para mahasiswa harus sampai ke jenjang ke pendidikan yang paling tinggi untuk menjadi manusia yang adil dan beradab.

“Maksud dari manusia Indonesia harus menjadi manusia beradab adalah membangun peradaban yang di dasari oleh ilmu dan ahlak. Lalu apa maksudnya menuntu ilmu dengan adab dan ahlak? Kata Ibnu Mubarak, kami belajar adab 30 tahun lalu belajar ilmu 20 tahun. Ini adalah system yang dibangun sehingga Islam jaya di masa lampau, dan hal ini harus dibangun kembali” jelas UBN

Sekjen Majlis Intelektual dan Ulama Mudah Indonesia (MIUMI) ini melanjutkan, “Kalau ingin membangun Indonesia menjadi manusia yang adil dan beradab maka ilmu pengetahuan, teladan yang baik, dan ahlakul karimah harus menjadi budaya. Ukuran-ukuran itu bukan kepada materi tapi ukuran-ukuran itu pada ilmu dan ahlak seseorang. Jika demikian barulah negeri ini menjadi manusia yang adil dan beradab”

“Kita sekarang sedang dibenturkan dengan sebuah peradaban (Kapitalis dan Komunisme dibenturkan dengan Islam). Akan tetapi dengan ahlak Islam dan adab islam kemudian bergerak membawa rahmat bagi semesta, maka –In Syaa Allah- dari Indonesia akan lahir sebuah kekuatan Islam untuk dunia. Hal ini tidak mustahil” jelas UBN dengan penuh keyakinan

Bahkan beliau menegaskan bahwa dunia sekarang berharap agar kebangkitan Islam di dunia berasal dari Indonesia. Fakta ini di dapat dari perjalanan internasional KH Bachtiart Nasir.

“Maka untuk membangun peradaban mulai dari ketuahanan yang maha esa (tauhid), kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesiam kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia” ungkapnya

Lalu apa perbedaan hikmah dan kebijaksanaan? Kenapa dua kata ini disebutkan dalam pancasila? Biasanya dijawab hikmah itu di dalam diri manusia dan kebikjasanaan itu dalam bentuk implementasi. Orang yang menafsirkan demikian sebenarnya masih lemah ideologinya dalam berpancasila.

Kata hikmah itu adalah bahasa arab dan terdapat dalam al-Qur’an. jadi jati diri bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan al-Qur’an.

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS. Al-Baqarah: 269)

“Allah berikan hikmah berikut perangkat-perangkat pelaksanaannya. Kalau dalam definisinya hikmah adalah ilmunya orang yang berilmu tapi bermanfaat dan dimplementasikan dalam bentuk amal shalih. Jadi yang boleh memmpin di Negara kerakyatan ini adalah kalau sesuai dengan pancasila adalah orang yang berilmu tinggi, ilmunya bermanfaat dan kelihatan manfaatnya dalam bentuk amal shalih”, jelas Pimpinan AQl itu

Kebijaksanaan dalam praktiknya dalam permusyawaratan perwakilan, apakah masih ada saat ini? Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia, apakah berjalan keadilan sosial saat ini? ini adalah pertanyaan yang tak butuh jawaban tapi hanya dibutuhkan muhasabah dari seluruh elemen bangsa agar bisa menjadikan Indoensia sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa.

“Hancurlah negeri ini jika tidak berpegang pada nilai-nilai agama” ungkap Abi Bachtiar Nasir

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close