KH Bachtiar Nasir Ajak Umat Jihad untuk Pendidikan

BEKASI (AQLNEWS)- Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir mengajak umat Islam berjihad dan berjuang mentauhidkan Allah dimulai dari diri sendiri agar hanya Allah yang besar dalam jiwa kita. Setelah itu, jihad ekonomi dan yang tak kalah penting adalah jihad di bidang pendidikan.

Kali ini, Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) ini menekankan pentingnya jihad pendidikan saat menyampaikan tausiah subuh di Masjid Jatibening, Pondok Gede, Bekasi. Kepada jamaah, dia berpesan, jangan sampai anak kita dibesarkan, disekolahkan sampai ke luar negeri dan membangun badannya dengan fasilitas mewah. Diorbitkan menjadi orang sukses tetapi sesungguhnya gagal dalam memahami agamanya. Badannya dibesarkan tapi tidak dibangun jiwanya, akidahnya, dan kecintaanya kepada Allah SWT, kepada Rasul-Nya dan kepada sesama mukmin. Lingkungannya tidak dibangun sehingga ia lebih cinta kepada yang berbeda agama hingga ia mengambil orang kafir sebagai pemimpin. “Ini semua muncul dari pendidikan yang salah, dan yang paling bertanggung jawab adalah orangtua,” ungkap Ketua Alumni Universitas Islam Madinah ini.

Inilah jihad pendidikan untuk membentuk pribadi Muslim yang kuat dam kokoh, yaitu mendekatkan anak-anak kepada al-Qur’an. Ukuran sukses menjadi orangtua, kata dia, yaitu ketika anak mendengar azan di masjid lalu dia bergegas menghadiri panggilan Allah SWT. Tidak penting berapa nilai akhir di sekolahnya. Apakah anak-anak orang Islam sekarang masih seperti anak-anak Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam? Yaitu ketika Nabi Ya’qub bertanya kepada mereka menjelang kematiannya, “Siapa yang kalian sembah setelah saya meninggal?”

Lalu anak-anak Ya’qub menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya patuh kepada-Nya.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 133)

Kawal akidah anak-anak kita di sekolah, katanya lagi. Karena sebagian besar anak-anak di sekolah hingga di perguruan tinggi, aqidahnya hancur jika dilihat dari kacamata tauhid. Di dalam jiwa mereka tidak ada al-Qur’an. Itu terjadi karena masih banyak orangtua yang memakai kacamata materi dalam menyekolahkan anak. “Tidak peduli jiwa anaknya tergerogoti wabah sekularisme, liberalisme, dan isme lainnya. Lihatlah! Anak-anak itu apakah punya keterikatan dengan disiplin agamanya, jangan sampai mereka lebih disiplin dengan HP-nya, clubnya dan lain. Tapi tidak disiplin dalam menjalankan agamanya,” katanya.

Satu kebiasaan buruk juga bagi umumnya orangtua. Di malam hari, apakah anak-anak diingatkan tentang bacaan al-Qur’annya atau PR-nya? Ketika menyuruh anak tidur malam, yang diingatkan, apakah shalat subuh berjamaah atau sekolahnya? Padahal, anak-anak tidak akan mengantuk di sekolah karena bangun subuh untuk shalat berjamaah di masjid.

Dulu di masa Rasulullah SAW, ada dua negara superpower yaitu, Persia dan Romawi. Akan tetapi, Rasulullah SAW tidak membiarkan anak-anak Muslim ke Persia dan Romawi untuk belajar. Anak-anak Arab pada masa itu tidak boleh belajar sebelum belajar kitab peradabannya, yaitu al-Qur’anul Karim. Hasilnya dalam waktu singkat, bukan cuma lahir peradaban baru di Madinah tetapi dua per tiga dunia dikuasai umat Islam pada masa itu, di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab. Sebuah jazirah yang dianggap primitif pada awalnya dan tidak mempunyai perpustakaan sehebat Romawi dan Persia. Dia hanya mempunyai satu kitab yaitu al-Qur’an. Namun karena keagungan al-Qur’an, peradaban Islam menguasai dunia. *muhajir

Sebarkan Kebaikan!