Kewajiban Tadabbur al-Qur`an [Bagian: II]

 

ORANG yang membaca dan menghafal al-Qur`an tanpa tadabbur, dikhawatirkan akan mengalami kondisi yang sama dengan umat-umat terdahulu yang dicela Allah subhanahu wata’ala karena perbuatan yang sama, seperti:

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لاَ يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلاَّ أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَظُنُّونَ

“Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al-Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.” (QS. Al-Baqarah [2] : 78). Mengenai ayat ini, Ibnu ‘Asyur berkomentar, “Ada yang berpendapat bahwa maksud amaani di sini adalah membaca. Maknanya, mereka tidak mengerti Al-Kitab, melainkan sebagai kata-kata yang dihafal dan dipelajari namun tidak dimengerti maknanya, sebagaimana kebiasaan umat-umat yang sesat. Sebab, mereka membatasi diri hanya bacaan bukan pemahaman.” (al-Tahrir wa al-Tanwir, I/358).

Mencukupkan diri hanya dalam batas bacaan tanpa amal –padahal ini adalah konsekuensi tadabbur- merupakan bencana besar yang susah dielakkan. Dalam al-Qur`an, Allah subhanahu wata’ala telah membuat perumpamaan orang yang memanggul ilmu tapi tidak mengambil manfaat darinya dengan analogi yang sangat buruk, seperti:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Jumu’ah [62] : 5).

 

Pada ayat lain dikatakan:

{وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176)} [الأعراف: 175، 176]

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. [] Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. (QS. Al-A’raf [7] : 175-176). Dengan demikian dikhawatirkan, orang yang sekadar membaca al-Qur`an dan tidak mentadabburi, tak terkesan, dan tidak mengamalkannya akan mengalami nasib yang sama dengan perumpamaan tersebut.

            Orang yang mentadabburi al-Qur`an dengan sebenar-benarnya, akan mendapat banyak manfaat, baik duniawai maupun ukhrawi yang hanya diketahui Allah subhanahu wata’ala. Di antara manfaatnya, seperti yang disebut oleh Syekh Sa’di, “Di antara faidah tadabbur al-Qur`an adalah: mengantarkan seoarang hamba pada derajat yakin dan mengerti bahwa itu adalah Kalam Allah. Karena ia melihat, bahwa ayat-ayat Allah satu sama lain saling membenarkan dan bersesuaian. (Tafsir Sa’di, 189).

Karena itulah, saudara dari kalangan jin, ketika mendengar al-Qur`an tidak sekadar takjub dan mengakui fungsinya (QS. Jin: 1-2) tapi di antara mereka, di samping mendengar juga, menyimak dengan baik, bahkan berdakwah kepada kaumnya (QS. Al-Ahqaf: 29). Ini tidak lain karena keterpesonaan mereka yang timbul akibat tadabbur dan memikirkan al-Qur`an.

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah menyatakan statemen yang tercatat dengan tinta emas, “Tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba dalam kehidupan (dunia) dan akhiratnya dan paling dekat menuju kesuksesannya daripada tadabbur al-Qur`an, merenunginya dengan lama, dan memikirkan makna-makna ayat-ayat di dalamnya (Madariji al-Salikin, I/451).Tepatlah apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim rahimahullah. Sesungguhnya, tadabbur al-Qur`an kunci segala kebaikan dan belenggu bagi segala kejahatan.

Syekh Sa’adi rahimahullah  berkata, “(Di antara manfaat) tadabbur al-Qur`an (di antaranya): sebagai kunci (untuk menemukan) ilmu pengatahuan; bisa menghasilkan berbagai ilmu pengetahuan; meningkatkan iman dalam hati dan mengokohkannya; bisa mengenalkan hamba dengan Rab yang disembah beserta sifat sempurna yang dimiliki-Nya dan mensucikan-Nya dari berbagai sifat yang mengurangi kesempurnaan-Nya; dapat mengenalkan jalan yang mengantarkan kepada-Nya dan sifat pelakunya serta etika ketika menghadap-Nya; mengenalkan musuh yang sebenarnya; menunjukkan jalan yang mengantar pada siksaan dan ciri-ciri penghunianya berikut penyebab-penyebab sanksinya. Setiap kali hamba meningkatkan perenungannya terhadap al-Qur`an, maka ilmu, amal dan pandangannya semaki bertambah (Tafsir Sa’di, 189-190).

Semoga Allah menjadikan kita sebagai pembaca al-Qur`an dengan sebenar-benarnya. Mengiringinya dengan tadabbur dan amal. Sesungguhnya Allah Maha Menolong dan Maha Mampu melakukan itu.

*DR. Nasir al-‘Umar

*Alih Bahasa   : Abu Kafillah

 

Sebarkan Kebaikan!