Kewajiban Tadabbur al-Qur`an [Bagian: I]

ALLAH subhanahu wata’ala mendorong hamba-Nya mentadabburi al-Qur`an dengan ungkapan yang beragam, di antaranya:

            Pertama, melalui al-Qur`an Allah menerangkan bahwa maksud turunnya al-Qur`an adalah untuk ditadabburi:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad [38] : 29).

Kedua, Allah mengingkari orang yang mengabaikan tadabbur al-Qur`an:

أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءهُم مَّا لَمْ يَأْتِ آبَاءهُمُ الْأَوَّلِينَ

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” (QS. Al-Mu’minun [23] : 68).

Ketiga, Allah mewajibkan tadabbur, sebagaimana yang disebutkan Imam Syaukani (Fathu al-Qadir, II/180) dengan dalil:

أَفَلاَ يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ اخْتِلاَفاً كَثِيراً

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa [4] : 82). Ayat lain juga menjelaskan:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quraan ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad [47] : 24).

Setelah membahas pentingnya tadabbur dari sisi normatif, maka kemudian akan diuraikan pentingnya tadabbur secara logis. Di antara konsekuensi penugasan manusia sebagai khalifah di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2] : 30), maka bersamaan dengan itu pula Allah membekalinya dengan  manhaj atau sistem yang jelas untuk mengemban tugas kekhilafaan sesuai yang dikehendaki-Nya. Hal ini terus berlangsung dengan lancar melalui wahyu  yang diturunkan kepada nabi-nabinya berupa syariat di sepanjang zaman.

Ketika khilafah dipegang oleh umat Islam (sebagai umat terakhir atau pamungkas), yang dibekali dengan al-Qur`an (sebagai kitab pamungkas), maka pasti di antara lembarannya ada sistem yang mengaffirmasi khilafah. Nah, cara agar umat mengetahui sistem ini tentu dengan mentadabburinya.

Maksud tadabbur al-Qur`an menurut pandangan Syekh Sa’di rahimahullah ialah:

“التَّأَمُّلُ فِيْ مَعَانِيْهِ، وَتَحْدِيْقُ الْفِكْرِ فِيْهِ، وَفِيْ مَبَادِئِهِ وَعَوَاقِبِهِ، وَلَوَازِمِ ذلِكَ”

“Merenungi makna-maknanya; mempertajam pikiran mengenainya;  demikian pula prinsip-prinsip, akibat (out put) dan konsekuensi-konsekuensinya.” (Tafsir al-Sa’di, 189-190) berupa amal dan ittiba (mengikutinya).

            Bagi yang memerhatikan realita umat Islam saat ini, banyak yang konsentrasi pada membaca dan menghafal al-Qur`an. Lembaga-lembaga tahfizh banyak menyebar di berbagai negara. Masjid-masjid pun dipenuhi dengan halaqah-halaqah (lingkaran majlis) pembacaan dan penghafalan al-Qur`an. Rumah-rumah tahfizh pun meluluskan puluhan bahkan ratusan penghafal al-Qur`an. Hingga ada selentingan, “Era ini adalah era emas untuk menghafal al-Qur`an al-Karim.”

Memang, di satu sisi fenomena demikian menyejukkan hati, karena umat begitu antusias dalam berinteraksi dengan al-Qur`an dan mengharapkan ganjaran darinya. Sayangnya, di sisi lain, semangat membaca dan menghafal al-Qur`an tidak dibarengi dengan etos yang sama dalam mentadabburi dan memahami al-Qur`an. Sampai didapati realita memilukan, dimana ada orang yang sudah hafal al-Qur`an tapi tidak mengerti makna ayat pendek yang biasa dihafal oleh pelajar-pelajar usia belia.

Salah seorang penanggung jawab acara pagelaran tahfizh (hafalan al-Qur`an), ada yang mencatat ironi ini, “Banyak penghafal yang tidak mentadubburi al-Qur`an. Ketika menyetor hafalan dalam suatu halaqah (lingkaran majlis) atau dalam ujian maupun perlombaan, mereka yang tidak mempedulikan kapan berhenti dan kapan memulai. Peserta berhenti dan memulai pada tempat yang aneh (tak lazim). Ini menunjukkan kalau dia tidak mentadabburi dan memahami al-Qur`an (Ishaamu Jam’iyyaat Tahfidz al-Qur`an fii Binaa`i al-Ajyal, 611-628).

Kondisi demikian tentu bertentangan dengan perintah Allah subhanahu wata’ala yang mewajibkan tadabbur. Dalam salah satu ayat-Nya, Allah menekankan agar al-Qur`an dibaca secara tartil (QS. al-Muzammil [73] : 4). Maksudnya, membacanya dengan pelan-pelan. Terkait ayat ini, Ibnu Katsir menafsirkan, “Tartil sebagai penunjang untuk memahami dan mentadabburi al-Qur`an.” (Tafsir Ibnu Katsir, VIII/250). Dengan demikian, beliau menjadikan pemahaman dan tadabbur sebagai sebab perintah membaca al-Qur`an secara tartil. Sedangkan Imam Syaukani berpendapat, “Maksudnya (bacaan tartil) adalah: bacalah al-Qur`an dengan perlahan disertai tadabbur!” (Fath al-Qadiir, VII/336). Jadi, beliau memasukkan tadabbur pada makna tartil. [Bersambung]

*DR. Nasir al-‘Umar

*Alih Bahasa: Abu Kafillah

 

Sebarkan Kebaikan!