Ketika Ulama Kehilangan Shalat Malam

COBA jawab dengan jujur: “Lebih sedih mana antara kehilangan emas sebesar kapal selam dengan shalat malam?” Masing-masing akan menjawab sesuai dengan kadar keimanan. Hanya saja, dalam tulisan ini akan diulas bagaimana sikap ulama salaf ketika kehilangan shalat malam. Mudah-mudahan bisa dijadikan teladan.

`Athâ` al-Khurasâni (seorang ulama salafus shalih) berkata, “Shalat malam dapat menghidupkan badan, menjadi cahaya bagi hati, menjadi lentera bagi mata, menjadi kekuatan bagi anggota badan,” betapa indah untaian kata yang dilantunkan dalam menggambarkan fungsi Shalat malam.

Ternyata tidak hanya itu, beliau menandaskan, “Sesungguhnya orang bangun malam menunaikan shalat Tahajud maka ia mendapat kegembiraan dalam hatinya lantaran bisa menunaikannya,” lihat bagaimana kegembiraan salaf bukanlah ketika terpenuhi kebutuhan materi, kegembiraan mereka sederhana, ketika bisa menunaikan shalat malam.

Bagaimana jika tidak bisa menunaikannya? Syekh `Atha` melanjutkan, “Ketika matanya mengantuk, hingga tertidur (kebablasan) sehingga tak bisa menunaikan Tahajud, maka ketika (bangun) shubuh ia merasa sedih, patah hati (merasa kalut) seakan-akan telah telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya’ (Muhammad bin Nashar Al-Mawarzi, Mukhtashar Qiyâmul Lail, 1/ 54).

Allahu akbar. Ketika mereka tak dapat menunaikan shalat malam, selepas bangun Shubuh, jiwanya  ditimpa gunda gulana, hatinya terasa remuk, seolah-olah telah kehilangan barang yang sedemikian berharga. Bagaimana dengan kita?

Riwayat lain yang disampaikan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya berikut ini tak kalah mengharukan.  Dalam kitabnya yang berjudul Al-Tahajjudu Wa Qiyâmu Al-Laili, beliau meriwayatkan perkataan salah satu ulama salaf yang bernama: Syuraih bin Hani. Syuraih bercerita, “Orang (salaf) lebih mudah kehilangan (kesempatan tidur) daripada kehilangan shalat malam.” Luar biasa. Bagaimana dengan kita?

            “Ketika Abu As-Sya`tsâ akan meninggal,” lanjut Syuraih, “beliau menangis; lalu ada yang bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Beliau pun menjawab, “Aku (merasa) belum puas menunaikan shalat malam.” (Mausu`atul buhuts wal maqâlât ilmiyah , hal: 3). Masyaalla la quwwata illa billah. Bayangkan! Beliau sampai berlinang air mata menjelang saat-saat kritis akibat belum puas menunaikan shalat malam. Lalu bagaimana dengan kita?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pun, ketika tidak bisa melaksanankan shalat malam, maka beliau ganti dengan shalat Dhuha 12 rakaat, sebagaimana hadits berikut, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam punya kebiasaan ketika tidak mengerjakan shalat malam karena sakit atau yang lainnya, beliau shalat di siang harinya sebanyak 12 rakaat.” (HR. Muslim 746). Ini artinya, Rasul pun merasa kehilangan jika tak bisa menunaikannya, sehingga menggantinya dengan shalat Dhuha 12 rakaat. Lalu bagaimana dengan kita?

Lebih mengharukan lagi, Mughirah bin Syu’bah pernah menyaksikan secara langsung bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shalat malam dengan sangat lama sehingga bengkak kedua kakinya. Saat ditanya, mengapa melakukan sesuatu sampai seperti itu padahal dosa-dosa sudah terampuni. Ternyata, itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur. Diriwayat lain dijelaskan, shalat bagi beliau, benar-benar menjadi sarana bersyukur, relaksasi spiritual, bahkan penentram hati. Bagaimana dengan kita?

Sebagai penutup, sabda nabi yang diriwayatkan Abu Umamah berikut bisa dijadikan evaluasi diri:

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ لِلْإِثْمِ

Hendaknya kalian melakukan shalat malam karena shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, dan mendekatkan kepada Tuhan kalian, menghapus keburukan, serta mencegah dosa.” (HR. Tirmidzi). *mbs

Sebarkan Kebaikan!