Ketika Pengecut, Bersua Maut

PARA pengecut akan mencari beribu-ribu alasan dan cara untuk menyelamatkan diri dari risiko kematian. Maut bagi mereka adalah momok yang mengerikan. Saat ada seruan bertempur di medan perang, orang tipe demikian selalu berapologi agar tidak ikut berjuang.

Realita ini mengingatkan kita pada salah satu pembesar kafir Qurays: Umayyah bin Khalaf. Semasa nabi di Mekah, ia dikenal sebagai sosok yang hobi menyiksa orang-orang lemah yang memeluk Islam. Bilal bin Rabbah dan Utsman bin Madz’un adalah di antara sekian contoh korban kebiadabannya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tak lepas dari gangguannya (Ibnu Hisyam, 1955: I/356). Dia pula yang pernah memprovokasi ‘Uqbah bin Abi Mu’aith untuk meludahi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, ia pernah membawa tulang-belulang bangkai busuk sembari mencemooh Rasulullah. “Apakah tulang belulang ini akan dibangkitkan kembali?” ketusnnya.

Coba bandingkan kondisinya menjelang Perang Badar. Saat di mana umat Islam sudah memiliki kekuatan. Tokoh yang sudah tua dan berbadan tambun ini, nyalinya ciut saat menghadapi maut. Sosok yang biasa dipanggil Abu Shafwan ini mendapat informasi dari Sa’ad bin Mu’adz (sahabat lamanya sejak era jahiliah) bahwa menurut nabi, dia akan terbunuh di medan tempur.

Mendengar berita mengerikan tersebut, tiba-tiba jiwanya diliputi rasa takut. Dia sendiri bahkan sampai bersumpah tidak akan bergabung dalam perang ini (HR. Bukhari). Meski ia mendustakan nabi, tapi dalam batinnya membenarkan bahwa ucapan keponakan Abu Thalib tersebut pasti terjadi.

            Berbagai cara dia lakukan agar tidak ikut perang. Hal ini dilakukan tentu supaya nyawanya tak melayang. Takdir Allah berkata lain. Akibat ejekan Abu Jahal dan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith yang mencibirnya seperti banci, bahkan oleh Abu Jahal disuruh memakai celak laiknya wanita (Husain Haikal, 1376 H : 270). Manusia pengecut ini akhirnya naik pitam dan dengan terpaksa ikut bersama mereka.

Pada Pertempuran Badar Kubra (2 H), ia akhirnya tewas bersama anaknya (Ali) di tangan Bilal bin Rabbah (budak yang pernah disiksanya di gurun pasir yang membara), Ammar bin Yasir bersama gabungan sahabat lainnya (Khudari, 1425: 104). Nasib yang sama juga dialami Abu Jahal, Uqbah bin Abi Mu’aith, ‘Utbah, dan Syaibah. Mereka semua tewas secara tragis, dalam medan Perang Badar Kubra.

            Kisah ini mengandung pelajaran berharga: Pertama, selalu berusaha menjadi pemberani dan belajar untuk tidak menjadi pengecut.  Kedua, keberanian dan kepengecutan, tak akang mengubah maut. Ketiga, lebih baik menjadi berani dan diarahkan kepada kebaikan, daripada pengecut dan mati secara memilukan.

Sebagai pamungkas, doa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam yang mengajarkan umatnya agar terhidar dari sifat pengecut ini bisa diamalkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap pengecut, aku berlindung kepada-Mu kepada serendah-rendahnya usia (pikun), aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia, dan aku berlindung berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.” (HR. Bukhari).

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!