Ketagihan Tilawah Al-Qur`an di Bulan Ramadhan

KETIKA Ramadhan tiba, maka tilawah al-Qur`an menjadi amal unggulan ulama salaf di samping amal lainnya. Di luar Ramadhan mereka memang konsisten membaca al-Qur`an, tapi ketika bulan agung ini masuk, mereka jauh lebih dahsyat dalam membaca al-Qur`an.

Bahkan Syekh Ibrahim bin Ubaid Ali Abdul Muhsin dalam buku berjudul ‘Uqûdu al-Lu`lu` wa al-Marjân fî wadhâifi Syahri Ramadhân (1999 : 101) menandaskan bahwa mereka sampai masuk pada taraf ketagihan atau kecanduan dalam membaca al-Qur`an ketika bulan Ramadhan.

Berikut ini, akan diungkap beberapa contoh yang menunjukkan bahwa mereka ketagihan tilawah al-Qur`an di bulan Ramadhan.

Pertama, Al-Aswad mengkhatamkan al-Qur`an di bulan Ramadhan setiap dua malam sekali.

Kedua, An-Nakha’i pada dua puluh awal awal bulan Ramadhan mengkhatamkan al-Qur`an satu kali tiap tiga malam. Saat memasuki sepuluh akhir Ramadhan, ia mampu mengkhatakan al-Qur`an dua malam sekali.

Ketiga, sedangkan Qatadah, di luar bulan Ramadhan mengkhatamkan al-Qur`an tujuh hari sekali. Memasuki bulan Ramadhan mengkhatamkannya tiga hari sekali. Bahkan, di sepuluh terakhir, ia mampu mengkhatamkan al-Qur`an satu kali setiap malam.

Keempat, Imam Syafi’i rahimahullah jauh lebih dahsyat. Pada bulan Ramadhan beliau mengkhatamkan al-Qur`an sebanyak enam puluh kali yang dibaca di luar shalat.

Kelima, Imam Zuhri rahimahullah , jika memasuki Ramadhan maka ada amalan unggulan yang membuatnya ketagihan yaitu: tilawah al-Qur`an dan memberi makan.

Keenam, Imam Malik bin Anas rahimahullah , ketika memasuki bulan Ramadhan, beliau segera menghentikan kegiatan taklim dan bergegas memfokuskan diri membaca al-Qur`an langusng dari mushaf.

Ketujuh, demikian juga Sufyan Ats-Tsauri, saat Ramadhan tiba, seluruh kegiatan taklim beliau vakumkan, kemudian beliau secara intensif bermesraan dengan al-Qur`an.

Kedelapan, Ibunda ‘Aisyah RA terbiasa membaca al-Qur`an di awal siang bulang Ramadhan. Ketika matahari sudah tergelincir di pertengahan hari, beliau tidur.

Kesembilan, Zabid al-Yami, ketika Ramadhan datang, segera mengumpulkan mushaf dan memanggil sahabat-sahabatnya. (Ibrahim, 1999: 101-102)

Kesepuluh, Abul Abbas bin Atha Salah satu imam shufi yang mengkhatamkan al-Qur`an di bulan Ramadhan tiga kali sehari disertai tadabbur. (Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, XI/164).

Itulah beberapa contoh yang menunjukkan ketagihan mereka membaca al-Qur`an di bulan Ramadhan.

Mengapa mereka begitu ketagihan dalam membaca al-Qur`an, utamanya di bulan Ramadhan? Jawaban dari ketiga sahabat ini mungkin cukup memuaskan:

            Pertama,  menurut Khabab bin Art RA, al-Qur`an adalah salah satu sarana yang paling dicintai Allah untuk mendekatkan diri pada-Nya.

Orang yang berhati bersih, tidak akan pernah kenyang dengan al-Qur`an.”

Kedua, menurut Utsman bin ‘Affan RA, orang yang berhati bersih, tidak akan pernah kenyang dengan al-Qur`an.

Ketiga, sedangkan Ibnu Mas’ud RA menyatakan bahwa mencintai al-Qur`an adalah bukti seseorang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Bahkan beliau menandaskan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih manis bagi pecinta Allah selain dari al-Qur`an.

Jawaban tersebut paling tidak menunjukkan rahasia ketagihan mereka dalam membaca al-Qur`an di bulan Ramadhan. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah khatam berapa kali? Sudahkah al-Qur`an memenuhi relung hati, sehingga akan senantiasa rindu bila tidak bercumbu dengannya?

Sebagai penutup, perkataan sebagian ulama salaf ini perlu dijadikan bahan renungan terkait al-Qur`an, “Jika engkau ingin mengetahui kadar nilaimu di sisi Allah, maka lihatlah nilai al-Qur`an di sisimu!” (Arsip Multaqa Ahlil Hadits, VII/425).

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!