Kesenangan Duniawi

KH. Bachtiar Nasir

SALAH  satu ciri khas Ustad Bachtiar Nasir adalah kajian tadabburnya. Pada tulisan berikut, pembaca akan disajikan kajian tadabbur al-Qur`an yang membahas tentang kehidupan dunia beserta perhiasan-perhiasannya yang acap kali digandrungi manusia pada umumnya yang dalam pandangan Allah bernilai kecil.

Ayat Tadabbur: QS. Ali Imaran [3] ayat 14

 

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

 

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

 

Kajian Tadabbur

 

SYAHWAT

“Zuyyina Linnasi” maknanya, telah diperindah dalam pandangan manusia. Kalau ada pertanyaan seperti ini: “Seharusnya, yang harus dicintai terlebih dahulu keindahan yang kita lihat atau  yang menciptakan keindahan?” Dengan kata lain: “Lebih sedih mana, kehilangan keindahan yang bisa kita lihat atau kehilangan dari sumber yang Maha Indah?”  Kita semua bisa menjawab poin kedua secara verbal, tapi pada faktanya, belum tentu sesuai. Seharusnya,  kita telah hijrah dari mencintai sesuatu yang semu menuju yang abadi.

“Zuyyina Linnasi hubbub syahwat” telah diperindah dalam pandangan manusia kecintaan terhadap apa-apa yang diingini (syahwat). Syahwat adalah kecintaan kepada apa-apa yang kita inginkan. Setiap keinginan yang terbetik dalam benak  kita itu posotif atau negatif? Dengan ungkapan lain, kalau kita nilai, keinginan kita lebih banyak positifnya atau lebih banyak negatifnya?

Keinginan manusia, jika tidak dibimbing oleh hidayah Allah subhanahu wata’ala maka kecenderungannya lebih banyak negatif. Lalu, darimana negatif itu datang?

Dalam al-Qur’an Allah subhanahu wata’ala telah mendefinisikan syahwat “Tidaklah setiap Nabi jika berkeinginan maka menyusuplah setan masuk ke dalam keinginannya itu, kemudian Allahlah yang akan membersihkannya dengan ayat-ayatnya.” (QS. Al-Haj [22] : 52).

 

MACAM-MACAM KESENANGAN DUNIAWI

Pertama: Ketertarikan Terhadap Wanita

Sebagaimana dalam kisah Nabi Yusuf ‘alahis salam. Tipu daya perempuan itu sangat luar biasa (QS. Yusuf [12] : 28). Juga dalam surah al-Falaq [113] ayat empat. Pada ayat tersebut, tukang sihir yang diisyaratkan adalah wanita, karena memang kebanyakan tukang sihir itu adalah nenek sihir. Kita hampir tidak pernah mendengar ada kakek sihir. Jika terkait dengan fitnah dunia maka yang nomor satu itu bukan harta, bukan anak tapi wanita.

Semua ini diinformasikan oleh Allah subhanahu wata’ala bukan semata-mata untuk memojokkan perempuan dan menempatkan perempuan di tingkat yang rendah. Akan tetapi, agar kita mampu menempatkan diri. Sebab laki-laki itu punya kelemahan. Tipu daya seorang perempuan itu sangat berbahaya, dan laki-laki yang tidak memahami ini maka habislah dia. Hal ini perlu diketahui oleh suami, anak laki-laki, saudara laki-laki dan perlu diketahui oleh ayah.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa tipu daya perempuan itu sangat berbahaya. Sehingga memerlukan pembinaan-pembinaannya sendiri. Makanya para ayah diingatkan: “Kalau kamu mempunyai dua anak perempuan kemudian mendidiknya dengan baik, maka dia akan menjadi pintu surga bagimu.”[1]

Ini adalah tekanan khusus dalam mendidik anak-anak perempuan. Karena seorang anak perempuan itu mampu menggoda laki-laki yang seumuran dengan ayahnya, apalagi kalau ia tidak mendapatkan pendidikan yang baik. Di samping itu, banyak perempuaan tidak merasa bahwa sedang menggoda, ia merasa itu hanya ekspresi normalnya. Banyak hal yang menurut kita biasa, padahal itu adalah kesalahan. Karena itulah mereka perlu diberi tarbiyah agama. Karenanya, pada ayat ini disebutkan, cinta syahwat yang paling tinggi adalah perempuan.

Kedua: Cinta kepada Anak-anak (Al-Banin)

 

Banyak orang tua yang rela mengeluarkan banyak uang untuk anak-anaknya, tapi untuk menyumbang anak yatim perlu waktu yang lama dan menunggu nasihat-nasihat. Pada umumnya, orang tua mampu melakukan apa saja demi mencintai anak-anaknya.

Ketiga: Harta yang Banyak (al-Qanatir)

 

Hartanya mana yang diprioritaskan? ‘Harta yang banyak’ yang paling utama disukai oleh manusia itu adalah emas, kemudia perak, dan kuda pilihan (kendaraan). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu rumahnya sangat sederhana, tapi kendaraannya yang selalu dipakai untuk berjuang itu ada delapan.

Kuda beliau itu namanya sesuai dengan spesifikasinya. Makanya, kendaraan untuk perjuangan harus kendaraan yang terbaik karena urusannya dengan jihad. Sangat beda orang yang mengoleksi kendaraan untuk memuaskan hawa nafsu dengan orang membeli kendaraan untuk perjuangannya.

Setelah kendaraan, maka manusia juga menyenangi hewan ternak, secara simbolik bisa saja berternak supaya aset semakin banyak. Setelah itu manusia juga menyukai sawah, ladang, dan kebun-kebun.

***

Setelah Allah subhanahu wata’ala menjelaskan kesenangan-kesenangan di atas Dia lalu menutup ayat dengan: dzalika mataaul hayati dunia.  Jadi, kesenangan dunia itu hanya berputar pada tiga poin besar itu. Maka bersyukurlah orang yang telah melampaui itu.

Jika dilihat dari kacamata dunia, ketiga poin inilah ukuran sukses. Tapi tiap orang punya barometer sukses atau kebahagiaannya sendiri, tergantung bagaimana ia menyikapai kehidupan. Ada orang yang menganggap wanita sebagai barometer, ada pula anak-anak dan juga banyak yang menjadikan harta banyak sebagai barometer kebahagiaanya.  Dan di antara orang-orang rakus terhadap dunia itu, ternyata ada orang yang yang menganggap dunia tidak ada apa-apanya. Orang dengan tipe seperti inilah yang tingkatannya paling tinggi dalam pentas sejarah kehidupan manusia.

Apa yang dimaksud dengan mataa’. Mataa’ adalah kenikmatan yang sedikit dan akan hilang. Makanya Allah subhanahu wata’ala mengekspresikan kenikmatan akhirat tidak memakai kata mataa’ tapi kata ragadan. Ragadan itu nikmat yang banyak dan abadi.

                 Orang yang hanya memperhatikan kenikmatan dunianya, maka setelah matinya ia akan sengsara. Semakin tinggi obsesi kita terhadap kenikmatan dunia maka semakin tinggi pula tingkat kekecewaanu.

Kemudian Allah subhanahu wata’ala .menutup ayat dengan kalimat penegsan, wallahu indahu husnul maab. ‘dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik’.

 

                 Sebenarnya sumber bencana itu berasal dari keinginan kita sendiri. Makanya orang yang paling besar bencananya adalah yang paling banyak maunya. Maka mulai hari ini, jadikanlah keinginan Allah subhanahu wata’ala saja sebagai keinginan kita. Orang yang paling berbahagia adalah orang yang keinginannya sudah selaras dengan keinginan Allah subhanahu wata’ala.

Doanya: Ya Allah, berikanlah kepadaku keinginan agar aku tidak berkeinginan kecuali menginginkan apa yang Engkau inginkan. Ketika berusaha menyelaraskan keinginan kita dengan keinginan Allah subhanahu wata’ala sebetulnya itulah jalan menuju kebahagiaan. Kita tidak bisa sampai ke jalan itu kecuali, kita dianugerahi taufik oleh Allah subhanahu wata’ala. Makna taufik adalah bertemunya antara kehendak Allah subhanahu wata’ala dan keinginan si hamba. Wallahu a’lam.

 

 Pesan-Pesan Ayat :

  1. Dijadikan dalam pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini;
  2. Mempunyai rasa cinta kepada dunia;
  3. Macam kesenangan dunia itu adalah wanita-wanita, anak-anak, harta benda (emas, perak, kuda pilihan, ternak, sawah, dan ladang)
  4. Senikmat-nikmat kesenangan dunia hanya sekadar kesenangan yang bernilai sedikit di hadapan Allah subhanahu wata’ala;
  5. Kenikmatan yang sesungguhnya adalah apa yang telah disiapkan Allah subhanahu wata’ala di akhirat kelak.
  6. Kebahagiaan sejati adalah jika kehendak Allah sesuai dengan keinginan hamba;
  7. Kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan akhirat
  8. Hanya disisi Allah subhanahu wata’ala tempat kembali yang baik, yang dianggap indah manusia di dunia ini sangat kecil di sisi Allah subhanahu wata’ala

[1] Di antara hadits yang berkaitan:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ» وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang menanggung dua anak perempuan hingga dewasa, maka ketika datang  pada hari kiamat, aku dengan dengannya.” Lalu beliau merekatkan kedua jarinya, untuk menunjukkan sangat dekatnya. (HR. Muslim).

Sebarkan Kebaikan!