ArtikelNewsSirah
Trending

Kesaksian Muslim Uyghur, Penyiksaan Berkedok Pendidikan

JAKARTA (AQLNEWS)- Kamp yang disinyalir Cina sebagai pusat pendidikan kejuruan adalah kedok belaka. Sebenarnya yang mereka lakukan adalah pembersihan identitas Uighur. Hal tersebut terungkap dalam sebuah talk show yang menghadirkan Seyit Tumturk Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur dan Gulbahar Jelilova seorang perempuan yang pernah ditahan di kamp tersebut selama 15 bulan lebih atas tuduhan terorisme.

Seyit Tumturk mengakui bahwa pemerintah Cina selalu berusaha menutupi keberadaan kamp tersebut. Istilah pusat pendidikan kejuruan itu sengaja ditampilkan ke permukaan untuk menutupi aksi sebenarnya yang mereka lakukan.

“Walau mereka sebelumnya menyembunyikan keberadaan kamp penganiyaan itu, tapi atas data dan fakta yang ditemukan oleh PBB dan media internasional, akhirnya pemerintah komunis cina mengiyakan,” ungkap Seyit di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis Malam, (10/1).

Pimpinan AQL Islamic Center, Ustadz Bachtiar Nasir, saat menanggapi keterangan Seyit Tumturk mengungkapkan bahwa sebenarnya kamp tersebut bertujuan mencuci otak muslim Uighur. “Kamp yang mereka sebut kamp pendidikan, isinya adalah pelucutan ideologi, perampasan hak-hak budaya, agar semua seperti yang diinginkan oleh rezim Cina yang ada di sana.” Ungkap Ustadz Bachtiar Nasir.

Gulbahar Jelilova, seorang perempuan Uighur yang telah menghabiskan waktu selama 15 bulan lebih di dalam kamp penyiksaan.

Sementara itu, Gulbahar Jelilova membenarkan adanya penyiksaan yang dilakukan di dalam kamp tersebut. Dengan nada tangis yang tertahan ia menceritakan pengalaman dirinya dan tahanan lain laksana “mayat” hidup.

“Satu ruangan itu ada 40 orang, tidak ada ventilasi, tidak ada jendela, yang ada hanya kamera pengintai. Semua bentuk aktivitas kehidupan dilakukan dalam ruangan itu; makan, buang hajat, dan kita diwajibkan menghadap ke satu arah, jadi kalau kita buang hajat semua orang di situ akan melihat kita buang hajat. Dan ada satu hari, kami diwajibkan melepas pakaian,” katanya.

“Dalam 17 jam  dalam sehari, kami wajib menghadap tembok. Jika selama pemantauan itu kita menoleh ke kanan atau ke kiri mereka menuduh kita sholat, langsung diambil lalu dizalimi,”

“Kami dimasukkan ke dalam ruangan yang sangat gelap, di situ hidup banyak sekali tikus,”

“Kami diborgol kaki dan tangan dengan besi. Kaki diborgol dengan berat 5 kilo,”

Penyiksaan tak sampai di situ, para tahanan wanita juga diperlakukan sangat tidak manusiawi. Jika ada yang melahirkan, anaknya diambil dan mereka tidak akan pernah tau keberdaannya. Para tahanan perempuan itu juga dipaksa minum obat yang membuat mereka gagal datang bulan.

“Kami dipaksa minum obat yang kami tidak tau itu apa. Kami dipaksa makan yang kami tidak tau itu makanan apa. Kami dipaksa diambil darah tidak tau sebabnya kenapa. Sehingga selama setahun lebih di sana saya tidak pernah mengalami datang bulan karena obat yang diberikan tadi.” Urai Jelilova.

Seyit Tumturk Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur

Penderitaan tak hanya dirasakan oleh mereka berada di dalam kamp, yang di luar pun tak luput dari pengintaian. Seyit Tumturk mengatakan bahwa 35 juta muslim Uigur kini mengalami kezaliman dari otoritas Cina.

“35 juta muslim Uighur berada di bawah 1,5 miliar komunis cina yang memberikan kezaliman yang sangat perih kepada mereka. Muslim Uyghur mereka dilarang untuk sholat, berpuasa, pergi haji, bahkan jika ada satu ayat atau satu aplikasi tentang agama di dalam telepon mereka maka orang itu langsung dicap sebagai teroris oleh pemerintah komunis cina,” ucapnya.

Lebih jauh Seyit menjelaskan bahwa para istri yang suaminya dimasukkan ke dalam kamp, otoritas Cina mengirim utusan untuk tinggal satu rumah dengan istri sang suami yang ditangkap tersebut. Tak sampai di situ, sang istri diperlakukan layaknya budak. Jika membantah sedikit saja ia langsung dikirim ke kamp dengan alasan “pendidikan”.

“Setiap rumah orang Islam di sana, yang suaminya telah dimasukkan ke dalam kamp. dimasuki utusan rezim untuk memantau pergerakan keluarga tersebut,”

“Orang yang memiliki rumah itu, diperlakukan layaknya budak oleh utusan rezim tersebut. Jika menentang, ia dikatakan Islam radikal dan teroris maka ia di masukkan ke dalam kamp penyiksaan.” ungkap Seyit.

Ketua Majelis Nasional Turkistan Timur itu juga mengutarakan bahwa para tahanan putus komunikasi dengan keluarga mereka di luar kamp. “Orang yang sudah dimasukkan ke dalam kamp, tidak bisa berkomunikasi dengan orang yang ada di luar. Biarpun itu adalah keluarganya. Dia tidak tau apakah orang tuanya masih hidup, sakit atau entah kenapa. Orang di luar dan di dalam tidak mempunyai akses komunikasi untuk saling mengetahui,” ucapnya.

Bagaimana nasib anak-anaknya? Mereka akan diambil dan dididik dengan pemahaman komunis untuk dipersiapkan sebagai budak-budak komunis.

“Anak-anak mereka diambil lalu dididik dengan pemahaman komunis, dan mereka dipersiapkan untuk menjadi budak-budak para komunis ke depannya,” ungkapnya. (Mohajer)

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close