Kemuliaan Ramadhan Menurut al-Qur`an I

 

BULAN Ramadhan adalah bulan yang penuh kemuliaan. Namun, dari sisi mana letak kemuliaannya? Bila dilihat berdasarkan kaca mata al-Qur`an, maka kemuliaannya dengan sangat jelas akan diketahui. Tulisan ini mencoba menguraikan kemuliaan Ramadhan dalam sorotan al-Qur`an. 

Jumlah bulan Qomariyah di sisi Allah subhanahu wata’ala  dalam al-Qur`an ada dua belas bulan, sebagaimana firman-Nya:

 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ [التوبة: 36].

 

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa” (QS. At-Taubah [9]: 36].

Dari keduabelas bulan yang ada, dinyatakan bahwa ada empat bulan yang disebut syahru al-Hurum [bulan mulia: yang biasa kita kenal, Muharram, Rajab, Dzulqa`dah dan Dzulhijjah]. Namun nama-nama secara detail mengenai syahru al-hurum tidak diungkap dalam al-Qur`an.

Lebih jauh bila dicermati, ternyata dalam al-Qur`an, dari ke dua belas bulan yang ada di sisi Allah subhanahu wata’ala yang disebut namanya secara jelas hanyalah bulan Ramadhan, sebagaimana firman-Nya:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ [البقرة: 185].

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al-Baqarah [2]: 185). Mungkin kita akan bertanya-tanya mengapa hanya bulan Ramadhan yang disebut dalam al-Qur`an? Jawabannya bisa kita lihat pada penjelasan al-Qur`an sendiri.

Berdasarkan al-Qur`an, bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia karena memiliki karakteristik berikut:

Pertama,   sebagai momentum diturunkannya al-Qur`an. Ini sesuai dengan firmannya:

الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ

Yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur`an (QS. Al-Baqarah [2]: 185). Menurut As-Sa’di datam tafsirnya Taisîr Karîm al-Rahmân (2000: 86), bulan Ramadhan adalah bulan agung yang mana umat manusia mendapatkan kemuliaan yang begitu agung yaitu al-Qur`an. Turunnya kitab suci yang agung ini, berbarengan dengan momen yang agung, Ramadhan. Kitab ini memiliki fungsi sebagai petunjuk manusia, keterangan, serta pembeda antara yang haq dan yang bathil.

 

Kedua,       bulan Ramadhan adalah bulan yang diberkati.  Allah berfirman:

{إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ} [الدخان: 3]

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhan [44]: 3). Syekh Sya’rawi dalam tafsirnya Khawâtirî Haula al-Qur`ân al-Karîm (1991: XII: 499) menerangkan bahwa al-Qur`an diturunkan pada malam yang diberkati. Maksudnya adalah turunnya al-Qur`an pada momen malam yang disebut lailatul qadar. Menariknya, dalam ayat ini secara khusus disebut kata “lail” [malam] kerena malam tempat ketenangan di mana tidak ada keributan dan kebisingan. Pawa waktu malam, anggota tubuh manusia juga tenang, tidak sibuk dengan apa pun.

Jadi, waktu malam adalah waktu yang tunduk kepada akal segala unsur perhatian dan pemahaman. Jiwa pun juga jernih.  Pastaslah jika malam adalah waktu yang pas untuk penurunan al-Qur`an.”

Ketiga, bulan Ramadhan adalah bulan Pembeda. Yaitu pembeda antara yang hak dan yang batil. Dalam al-Qur`an diistilahkan:

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ

(QS. Al-Anfal [8]: 41) bahwa turunnya al-Qur`an ialah pada yaumu al-Furqan [hari pembeda] yang bertepatan dengan peristiwa besar pertempuran antara yang hak dan yang batil di Badar. Sedangkan pertempuran itu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan. Imam Ibnu Katsir (1420: IV/65) menerangkan bahwa Allah mengingatkan nikmatnya dan kebaikan-Nya kepada makhluk-Nya di mana al-Qur`an diturunkan pada hari yang membedakan antara yang haq dengan yang bathil, karena itulah dinamakan al-Furqân. Pada hari tersebut, Allah meninggikan kata “iman” atas kata “bathil” dan memenangkan agama serta menolong nabi dan golongannya. (Bersambung)

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!