Kemesraan Hamka dengan al-Qur`an

HAJI Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981 M) yang biasa disingkat “HAMKA” adalah sosok ulama yang sangat mesra dengan al-Qur`an. Bagi yang membaca lembaran-lembaran sejarah hidupnya, kemesraannya dengan al-Qur`an benar-benar nyata dalam kehidupan sehari-harinya.

Irfan Hamka dalam buku Ayah…Kisah Buya Hamka (2016: 213, 214)  menuturkan bahwa Hamka sangat kuat membaca al-Qur`an. Beliau tidak akan berhenti membaca al-Qur`an sebelum mengantuk. Beliau akan terus membacanya 2-3 jam.

            Tak hanya itu, Irfan bercerita bahwa bapaknya biasa menghabiskan 5-6 jam sehari hanya untuk membaca al-Qur`an. Setiap Ramadhan, beliau biasa mengkhatamkan al-Qur`an sebanyak lima kali. Pasca istrinya meninggal, beliau bisa mengkhatamkan 6-7 kali dalam sebulan. Membaca al-Qur`an adalah cara Hamka mengatasi kesedihannya ditinggal sang kekasih, yang tidak kalah penting, agar cintanya kepada sang istri, tidak memalingkannya kepada cinta kepada Allah subhanahu wata’ala.

Bukan hanya di dalam rumah, di luar rumah pun saat di dalam kendaraan beliau menyempatkan waktu untuk membaca al-Qur`an. Ini terur berlangsung meski dalam perjalanan internasional. Menurut Irfan (2016: 145) saat perjalanan menuju Basrah, di mobil beliau tetap asyik membaca al-Qur`an meski Umar (sang supir) menhidupkan radio tape mobil. Beliau sama sekali tiak terganggu.

Ali Sadikin (Gubernur Jakarta: 1966-1977) pun pernah melihat kemesraan Buya Hamka dengan al-Qur`an. Menjelang naik haji pada tahun 1974, saat di Asrama Haji beliau  sering melihat Buya Hamka  membaca al-Qur`an , pagi dan sore ataupun malam. Ali Sadikin pun penasaran dan bertanya, “Buya ini pagi-pagi baca al-Qur`an. Sore baca al-Qur`an. Hebat! Mengapa?” Hamka dengan senyum mengatakan, “Saya juga tidak tahu sebabnya.” “Mudah-mudahan saya mendapat perasaan seperti Buya.” (Arrohman Prayitno dkk, 2004: 158).

Yusran Rusydi, salah satu putera Hamka dalam buku Buya Hamka: Pribadi dan Martabat (2017: 81,82) memberi kesaksian menarik mengenai kemesraan ayahnya dengan al-Qur`an, “Hampir setiap shalat Maghrib di akhir bulan Sya’ban, atau sehari sebelum tibanya puasa, dia menagis saat shalat. Ketika membaca ayat, suaranya tertahan-tahan menyambut tibanya bulan suci itu. Setiap hari ia membaca Al-Quran, adakalanya dia menangis  seorang diri. Ketika sampai pada satu ayat yang menggugah hatinya, dia berhenti untuk menghapus air matanya.Begitu pun tatkala piato di mimbar. Gampang benar air matanya keluar.”

Menurut pengakuan Hamka sendiri, saat menjadi tahanan politik Soekarno (1964-1966), selain menulis tafsir, ia bisa memiliki kesempatan yang luas untuk tilawah al-Qur`an. Beliau mencatat, saat di tahanan (dua tahun empat bulan) beliau telah khatam al-Qur`an lebih dari 100 kali (Hamka, Tafsiir al-Azhar, 2005: I/75)

Lebih dari itu, masih menurut Ruysdi (2017: 250) saat membaca al-Qur`an Hamka begitu larut dan asyik menjiwai sampai-sampai tidak ada yang bisa mengganggunya, “Saya maklum bahwa kalau dia sudah mengaji tak guna lagi mengganggunya.”

Kemesraan ulama yang mendapat kehormatan doktor honoris causa dari Al-Azhar Mesir ini dengan al-Qur`an bukan saja sebatas membaca, tapi juga diwujudkan dengan menulis tafsir al-Qur`an. Magnum opus (karya besar) nya berupa Tafsir Al-Azhar yang ditulis ketika ditahan oleh rezim Soekarno selama 2 tahun 4 bulan 1964-1966 (Hamka, Tafsiir al-Azhar, 2005: I/ 69) adalah bukti bahwa beliau sangat mesra dan mencintai al-Qur`an. Karya-karya tulis beliau yang lain, juga sarat akan rujukan-rujukan al-Qur`an.

Kemesraan Hamka dengan al-Qur`an tidak hanya dilihat dari kebiasaannya membaca dan berkarya tulis tentang al-Qur`an, beliau menekankan pentingnya mengamalkan isi al-Qur`an.

            Dalam pembukaan Tafsir Al-Azhar (2005: I/14) beliau menyatakan, “Maka oleh sebab al-Qur`an adalah bacaan, seyogianyalah bagi orang yang beragama Islam memfasihkan bacaannya, dan mendidik lidah anak-anaknya, menyerahkan anak-anak pada guru-guru yang fasih membacanya, sebab al-Qur`an untuk dibaca dan diamalkan. Sebab al-Qur`an itulah yang telah membentuk kebudayaan dan pedoman hidup penganut Islam, yang ditegakkan di atas budi, memperluas perasaan, memperkaya ingatan dan melemah-lembutkan ucapan lidah.” Sepak terjangnya dalam dunia dakwah dan berbagai sektor yang digelutinya membuktikan bahwa al-Qur`an benar-benar diamalkan oleh Hamka dan menjadi filosofi nila-nilai hidupnya.”

Jadi, kemesraan Hamka dengan al-Qur`an bisa dilihat dari kebiasaan beliau dalam membaca al-Qur`an, membuat karya agung mengenai tafsir al-Qur`an, menjadikan al-Qur`an sebagai pedoman dalam karya tulis, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu mesranya Hamka dengan al-Qur`an, maka sangat wajar –tentunya atas izin Allah- jika derajat hidupnya terangkat. Bukankah nabi bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ

Sesungguhnya Allah mengangkat (derajat) kaum-kaum dengan kitab ini (al-Qur`an) dan merendahkan lainnya.” (HR. Muslim). Semoga pembaca bisa meneladani kemesraan Buya Hamka dengan al-Qur`an. Wallahu a’lam.

Sebarkan Kebaikan!