Kemerdekaan Sejati Bagi Rib’i

MOMENTUM perayaan kemerdekaan Indonesia ke-72 ini, alangkah baiknya jika digunakan mengkaji kemerdekaan sejati ala sahabat Nabi SAW yang dikenal dengan nama Rib’i bin Abi ‘Amir RA. Dari sosok yang begitu bersahaja ini, terlantun mutiara hikmah mengenai kemerdekaan hakiki.

Menjelang berlangsungnya pertempuran Qadisiyah 14 Hijriah (Sa’id, 2003: 83), Sa’ad bin Abi Waqash RA –selaku panglima umat Islam- mengutus Rib’i bin Abi Amir RA kepada Rustum (Panglima Perang Persia). Ini dilakukan setelah pihak Persia meminta umat Islam mengirimkan utusan.

Tidak ada yang mewah dalam pengutusan ini. Beliau diutus seorang diri. Baju ala kadarnya, disertai kuda yang pendek, pedang, tombak, perisai dan gestur yang tak terlihat menarik menurut ukuran pembesar Persia sekaliber Rustum. Sementara itu, di pihak Rustum sendiri –dengan maksud membuat utusan Sa’ad takjub dan terkagum-kagum- disiapkanlah berbagai pernak-pernik perhiasan yang membuat mata kebanyakan orang terbelalak.

Menariknya, meski dengan busana yang sangat bersahaja, sesampai di lokasi, Rib’i RA sama sekali tidak takjub. Permadani berlapis emas, karpet-karpet mahal, sutra-sutra, bahkan mahkota emas yang dipakai Rustum sama sekali tak membuatnya terpukau. Dengan izzah yang tinggi, beliau menampilkan sosok yang benar-benar merdeka tanpa tertekan dengan berbagai hal yang bisa memperbudak manusia.

Beliau memasuki lokasi dengan mengendarai kuda sehingga merusak karpet yang disediakan. Baru ketika sudah sampai di dekat Rustam, kendaraannya ditambat di dekat kemah yang disediakan untuk menyambutnya. Kemudian beliau turun sambil membawa tombak yang diseret sehingga mengoyak permadani. Para pengawal Rustum menyaksikan kejadian ini, jelas naik pitam.

Seketika Rib’i disuruh turun dan dilarang merusak fasilitas yang ada. Dengan izzah dan jiwa merdeka, beliau menjawab, “Aku datang ke sini, karena diundang kalian. Jika tidak berkenan dengan kelakuanku, maka aku kembali saja,”. Tentu saja Rustum tetap mempersilakannya karena dirinya butuh berunding, meski para pengawalnya sangat geram kepada orang Arab yang mereka sebut “anjing” ini.

Allah mengutus kami dengan membawa misi memerdekakan siapa saja yang dikehendaki-Nya dari penyembahan sesama hamba menuju penyembahan kepada Allah semata; dari kesempitan dunia menuju keluasan akhirat; dari tirani, kezaliman agama-agama, menuju keadilan Islam,”

Ketika dirinya ditanya Rustum mengenai motifasi kedatangan umat Islam ke tanah Persia, Rib’i pun menjawabnya dengan sangat gamblang dan percaya diri, “Allah mengutus kami dengan membawa misi memerdekakan siapa saja yang dikehendaki-Nya dari penyembahan sesama hamba menuju penyembahan kepada Allah semata; dari kesempitan dunia menuju keluasan akhirat; dari tirani, kezaliman agama-agama, menuju keadilan Islam,” (al-Bidâyah wa al-Nihâyah, VII/39).

Rustum benar-benar kagum dengan pernyataan Rib’i. Mungkin tidak pernah terpikir olehnya, bahwa dari orang Arab yang dianggap remeh bahkan disebut anjing oleh pengawal-pengawalnya ini keluar kata-kata hikmah sarat makna mengenai kemerdekaan. Melihat respon panglima yang demikian, para pengawal menegurnya sembari meremehkan Rib’i dengan pakaian dan pembawaan yang bagi mereka sangat menjikikkan. Namun oleh Rustum segera ditegur, “Hus, jangan melihat pada bajunya, lihatlah pada ide, statemen dan profilnya!” (al-Bidâyah wa al-Nihâyah, VII/47).

Singkat cerita Rustum meminta waktu untuk berpikir dan berunding dengan para pembesar Persia, dan oleh Rib’i diberi waktu selama tiga hari. Pada akhirnya perundingan buntu dan meletuslah perang Qadisiyah yang dimenangkan oleh umat Islam.

Terlepas dari kemenangan gemilang dalam perang Qadisiyah, yang menjadi perhatian penting dari seorang Rib’i RA –sebagaimana yang menjadi fokus tulisan ini- adalah statemennya tentang kemerdekaan. Merdeka itu, menurut Rib’i, pertama adalah orang yang mampu membebaskan diri dari pengabdian (penghambaan) terhadap sesama makhluk menuju pangabdian kepada Sang Khaliq.

Kedua, tidak diperbudak oleh dunia yang pada hakikatnya sempit tapi justru menanamkan kesadaran hakiki menuju keluasan kehidupan akhirat. Bukan berarti anti dunia, tapi dunia diolah sedemikian rupa untuk kepentingan akhirat yang abadi. Dengan bahasa lain, akhirat dijadikan orientasi.

Ketiga, merdeka itu adalah ketika keadilan bisa ditegakkan. Yang masih terkukung, tertindas oleh berbagai tirani dan kezaliman, maka belum bisa dikatakan merdeka. Islam sebagai agama yang rahmat bagi seantero alam –sebagaimana yang diungkapkan Rib’i- membawa misi keadilan itu. Selanjutnya, yang tidak kalah penting, Rib’i bukan saja mengajarkan prinsip kemerdekaan tapi juga memerdekakan.

Dari ketiga hal tersebut, dapat diambil pelajaran: yang disebut merdeka adalah ketika sudah terbebas dari pengabdian imitasi menuju pengabdian yang sejati; menjalani kehidupan dunia yang sementara dan sempit dengan orientasi akhirat yang luas; menegakkan keadilan dan melawan tirani. Wallahu a’lam.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!