Kemenangan Jakarta, Kemenangan Demokrasi

IMAM SHAMSI ALI
(Presiden Nusantara Foundation)

PADA akhirnya saya mengharapkan agar semua warga Jakarta sadar jika pilkada telah dilangsungkan dan hasilnya sudah ada. Proses telah selesai dan karenanya semua harus siap menerima hasil itu, apakah sesuai harapannya ataupun tidak sesuai. Larut dalam kecurigaan, kekecewaan, bahkan kemarahan sudah pasti hanya akan memperdalam luka yang telah ditimbulkan oleh hiruk pikuk kampanye yang diistilahkan sebagian dengan “brutal campaign” itu.

Saya memang sudah cukup lama terusik, bahkan resah dengan prilaku sebagian orang Indonesia, di saat berbicara tentang kasus-kasus yang anggaplah benar sebagai kasus intoleransi. Tapi sekali lagi, kasus adalah kasus. Di mana saja kasus itu selalu ada, bahkan di negara yang merasa Mbahnya demokrasi sekalipun. Yang menjadi masalah ketika kasus itu dihakimi sebagai wajah Indonesia secara keseluruhan. Bagi sebagian diaspora di luar negeri, pembusukan Indonesia ini biasanya dipakai alasan untuk mendapat status lewat “political asylum”. Anehnya ketika ditolak mereka kembali ke Indonesia menetap seolah tanpa malu dan beban apapun.

Oleh karenanya saya mengajak semua pihak untuk “legowo” menerima hasil Pilkada DKI Jakarta. Ahok yang telah menjadi harapan banyak orang, bahkan sebagian di luar negeri seperti Franklin Graham, penginjil berpengaruh di Amerika, dengan tenang telah menerima kekalahannya dengan hati yang lega. Bahkan ditegaskan kalau kekuasaan itu Tuhan yang memberi. Lalu kenapa penggemarnya masih saja banyak yang ngeyel? Bahkan berusaha mencari seribu alasan jika kemenangannya itu seolah tidak demokratis dan berbahaya bagi demokrasi dan kebebasan beragama?

Saya tentunya juga tekankan kembali bahwa kalau ternyata kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga S Uno itu menjadi alasan intoleransi, apalagi dijadikan alasan menzalimi kelompok minoritas, maka saya akan menjadi orang pertama yang akan mengingatkan itu. Sekali lagi, kemenangan Anies-Sandi adalah kemenangan Jakarta dan Indonesia, serta kemenangan demokrasi. Karenanya jangan sampai kembali ternodai oleh friksi sistemik. Pemegang amanah harus sadar bahwa dia dipilih untuk memimpin semua pemilih. Baik yang memilihnya maupun yang memilih lawannya.

Saya juga ingatkan pendukung Anies-Sandi, khususnya umat Islam, bahwa perbedaan pilihan agama, apalagi pilihan politik tidak boleh menjadi alasan kebencian dan perpecahan. Kemenangan Anies-Sandi yang dimaknai sebagai kemenangan umat Islam justeru menjadi pengingat amanah keadilan. Bahwa jangan hanya bisa menuntut keadilan. Tapi tidak kalah pentingnya adalah bebuat adil karena itu ketakwaan. Semoga! (3-Habis, dari tiga tulisan)

Sebarkan Kebaikan!