Keintiman Nabi Bersama al-Qur`an Pada Malam Hari

SELAIN tidur, menunaikan shalat malam dan berdzikir, kebiasaan nabi dalam mengisi waktu malamnya adalah dengan tiwalah al-Qur`an. Kesaksian Ibnu Abbas, Hudzaifah dan ‘Aisyah berikut ini menjadi gambaran menarik mengenai keintiman nabi bersama al-Qur`an pada malam hari.

Pada suatu malam, Ibnu Abbas menginap di rumah Maimunah radhiyallahu ‘anha. Kebetulan saat itu, Rasulullah sedang bermalam di rumahnya. Sepupu nabi ini sengaja bermalam di rumah Maimunah karena ingin melihat secara langsung kegiatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada malam hari.

Menurut kesaksian sahabat yang dikenal ahli tafsir ini, waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  berbincang-bincang dengan isterinya beberapa saat, kemudian tidur. Pada saat sepertiga malam terakhir tiba, atau sebagiannya, beliau duduk dan menatap langit lantas membaca ayat:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi hingga ayat terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal” (QS. Ali’Imran [3]: 190). Setelah membaca al-Qur`an, beliau berdiri lalu berwudlu. Saat itu beliau membersihkan gigi-giginya kemudian shalat sebelas rakaat. Kemudian setelah Bilal mengumandangkan adzan (subuh), beliau shalat dua rakaat, kemudian keluar untuk mengimami orang-orang shalat subuh. (HR. Bukhari).

Kisah Ibnu Abbas ini menunjukkan bahwa, sebelum shalat malam beliau terlebih dahulu membaca al-Qur`an.

Kisah lain yang menggambarkan keintiman nabi bersama al-Qur`an adalah seperti yang dituturkan Hudzaifah. Pada suatu malam, Putra al-Yamani ini mendapat kesempatan berharga menemani Rasulullah shalat malam. Kala itu, beliau membaca Surah Al-Baqarah, Ali Imran dan An-Nisa pada satu rakaat. Jika ada ayat tasbih, beliau bertasbih. Jika ada ayat yang memerintahkan berdoa, maka beliau berdoa. Jika beliau membaca ayat ta’awwudz, maka beliau meminta perlindungan.

Seusai membaca al-Qur`an beliau ruku, bangkit dari ruku kemudian sujud sebagaimana shalat lainnya. Hanya saja, dengan tempo yang lama seperti saat membaca al-Qur`an di rakaat pertama. (HR. Muslim).

Penuturan sahabat yang wafat di kota Madain ini menunjukkan bahwa nabi sangat asyik bertilawah al-Qur`an pada shalat Malam.

Riwayat lain yang menunjukkan keintiman Rasulullah bersama al-Qur`an di malam hari ialah yang didengar langsung oleh Ubaid bin ‘Umair dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Saat itu, Ubaid meminta ‘Aisyah untuk menceritakan sesuatu paling menakjubkan yang pernah dilihat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dengan senang hati Aisyah menceritakan, bahwa pada suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata padanya, “Wahai Aisyah! Biarkanlah aku beribadah kepada Rabku mala mini.” Istri nabi yang berjuluk Humaira ini pun menimpali,  “Demi Allah, sungguh aku sangat suka berdekatan denganmu, (akan tetapi) aku suka apa-apa yang membuatmu senang.”

Setelah mendengar jawaban Aisyah, nabi pun berdiri dan bersuci lalu menunaikan shalat Malam. Yang membuat terharu, dalam shalatnya, beliau terus menangis hingga air matanya membasahi pangkuan beliau (tatkala duduk). Kemudian beliau terus menangis hingga membasahi janggut beliau. Tangisan ini terus berlanjut hingga membasahi lantai. Lalu datang Bilal mengumandangkan adzan shalat subuh.

Saat sahabat yang biasa adzan ini melihat nabi menangis, maka ia pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau menangis? padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang?” Jawaban nabi begitu menghunjam ke relung jiwa, “Tidakkah bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur? Sungguh telah turun kepadaku malam ini sebuah ayat, celaka orang yang membacanya dan tidak merenungkannya:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَاب

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.’ [QS Ali Imron [3] : 190] (HR Ibnu Hibbân).

            Kisah yang diungkap putri Abu Bakar ini menunjukkan betapa intimnya beliau dengan al-Qur`an hingga menimbulkan isak tangis yang mengharukan. Di samping itu, keintiman nabi bukan sebatas bacaan, tapi juga penghayatan, perenungan dan pemaknaan yang bisa melecut kesadaran jiwa.

Dari ketiga cerita sahabat tersebut menunjukkan keintiman nabi bersama al-Qur`an di malam hari (ini tidak bermaksud menafikan keintiman Rasulullah dengan al-Qur`an di siang hari). Bukti keintimannya, selain membaca al-Qur`an sebelum, saat dan sesudah shalat malam, beliau juga menghayati, merenungkan dan memaknainya sehingga ayat yang dibaca bisa merasuk ke dalam sanubarinya. Yang lebih menarik, mayoritas waktu malam Rasulullah, digunakan untuk membangun kedekekatan dengan Allah melalui ibadah yang dititahkan-Nya. Wallahu a’lam.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!