Kehabisan Bahan, Agama Jadi Ejekan

AKHIR-akhir ini jagat media dihebohkan oleh aksi komedian yang diduga keras menjadikan Agama sebagai bahan ejekan; bahkan dengan jelas menyebut nama Allah sebagai materi humor. Lalu bagaimana tinjauan hukumnya dalam perspektif Islam?

Menjadikan agama sebagai bahan hinaan bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dalam Surah At Taubah [9] ayat  65-66 Allah _Subhanahu wa Ta’ala_ berfirman;

وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (At Taubah [9] : 65-66).

Selain itu, dalam hadits pun perbuatan itu juga tidak dibenarkan. Suatu ketika, dalam peristiwa perang Tabuk -seperti yang diungkapkan Ibnu Katsir dalam kita Tafsirnya- diriwayatkan dari Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qatadah, bahwa suatu ketika ada yang mengatakan, “Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Al Qur`an ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya dan lebih pengecut dalam peperangan”.

Olok-olokan ini ditujukan kepada Rasulullah SAW dan para sahabatnya sebagai ahli Al-Qur’an. Auf bin Malik yang berada di tengah mereka merasa risih dan berkata, “Omong kosong yang kamu katakan. Bahkan kamu adalah munafik. Niscaya akan aku beritahukan kepada Rasulullah SAW ”.

Usai mengatakan itu, Auf bergegas menemui Rasulullah SAW untuk memberitahukan olok-olokan mereka.

Belum sampai lokasi, wahyu Allah turun kepada Rasulullah SAW. Ketika orang-orang yang mengolok-olok itu mengetahui ada ayat yang turun, mereka bergegas menghadap kepada Rasul dengan maksud meminta maaf dan mencari perlindungan.

Ketika orang itu datang kepada Rasulullah SAW, beliau telah beranjak dari tempatnya dan menaiki untanya.

Orang-orang itu berkata kepada Rasul: “Ya Rasulullah! Sebenarnya kami hanya bersenda-garau dan mengobrol sebagaimana obrolan orang-orang yang bepergian jauh untuk pengisi waktu saja dalam perjalanan kami”.

Ibnu Umar menambahkan,  “Sepertinya aku melihat dia berpegangan pada sabuk pelana unta Rasulullah SAW , sedangkan kedua kakinya tersandung-sandung batu sambil berkata: “Sebenarnya kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja”.

Lalu Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Apakah terhadap Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?” (HR. Ibnu Jarir Ath Thobariy dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul mengatakan bahwa sanad Ibnu Abi Hatim hasan)

Seperti dikutip dalam buku Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid, Syaikh Abdurrahman Bin Hasan Alu Syaikh, bahwa orang yang mengolok-olok Allah, Al-Qur’an atau Sunnah Rasulullah SAW maka dia kafir, kufur besar.

“Barangsiapa yang mencela Allah _Azza wa Jalla_ atau bersenda gurau ketika menyebut nama-Nya dan tidak menampakkan penghormatan, atau bersendagurau dengan mengolok-olok Al Qur`an atau Sunnah Rasulullah SAW, maka dia menjadi kafir, kufur besar, yang berarti keluar dari agama Islam. Dia menjadi kafir jika mengolok-olok tiga hal tersebut, atau olok-olokannya tertuju kepada tiga hal tersebut.”

Namun berbeda halnya jika mengolok-olok agama. Mengolok-olok agama terdapat perincian. Jika senda gurau dengan agama, harus dilihat terlebih dahulu, apakah yang diolok-olok itu asal agamanya atau amaliah agama orang yang diolok-oloknya.

Misalnya, jika seseorang mengolok-olok penampilan seorang muslim, padahal penampilan muslim itu mengamalkan sunnah, apakah dalam hal ini ia telah melakukan olok-olok yang mengeluarkannya dari agama Islam? Jawabnya, tidak. Karena, olok-oloknya ditujukan kepada praktek keagamaan, bukan kepada asal agama.

Dalam hal ini, maka perlu dijelaskan kepadanya, bahwa yang dia olok-olok adalah Sunnah Nabi SAW. Jika ia telah mengetahui tentang hal itu, kemudian masih juga mengolok-olok, mencela orang yang mengamalkan sunnah, padahal ia sudah mengetahui dan meyakininya, maka perbuatannya tersebut tergolong mengolok-olok Rasulullah SAW, yang tentunya mengeluarkannya dari agama.

Demikian pula jika mengolok-olok dengan kalimat yang kembalinya kepada Al Qur`an atau selain Al Qur`an, juga terdapat perincian. Singkat kata, jika mengolok-olok Allah, sifat-sifatNya atau nama-namaNya atau mengolok-olok Rasulullah SAW atau Al Qur`an, maka hal itu merupakan kekufuran. Jika olok-oloknya bukan kepada tiga hal tersebut, maka dilihat, jika kembali kepada salah satu dari tiga hal itu, maka hal itu adalah kufur besar. Jika tidak, berarti dia telah melakukan perbuatan yang haram, tidak termasuk kufur besar.

Dengan demikian, sudah sengat jelas bahwa menjadikan agama menjadi bahan gurauan tidak dibenarkan dalam perspektif Islam. Alangkah baiknya jika yang bersangkutan merasa telah atau diduga keras melecehkan agama melalui komedi, segera meminta maaf secara tulus daripada berapologi dan meminta bantuan umat Islam yang lain. Sebab, di samping akan memperkeruh keadaan, hanya malah akan menyulut konflik internal anak bangsa.

Penulis: Gubahan M
Editor : Embe Setiawan

Sebarkan Kebaikan!