ArtikelSirah
Trending

Kecemburuan yang Berujung Tangis Haru

SEBUAH teladan kepemimpinan dari sosok pemimpin terbaik yang pernah ada di bumi, Nabi Muhammad Saw..

Sangat menyentuh. Kecemburuan kaum Anshar yang berujung tangis haru. Membuka lembaran sejarah 14 abad silam itu membuat takjub hati. Serasa ikut merasakan tangis haru Anshar seakan-akan kita adalah bagian dari mereka. Betapa beruntungnya kaum Asnhar pada saat itu, mereka pulang membawa Allah dan RasulNya, sementara yang lain pulang dengan membawa dunia.

Usai perang hunain, Rasulullah saw. membagi-bagikan harta rampasan perang (ghanimah) kepada semua tokoh-tokoh Quraisy yang baru saja masuk Islam, termasuk kepada mereka yang dulu menentang Islam dengan keras. Sementara kaum Anshar tidak mendapatkan sedikitpun bagian dari harta rampasan perang tersebut.

Cemburu? Tentu. Perasaan dilupakan oleh Nabi muncul ke permukaan. Padahal mereka telah berjuang dengan sangat gigih dan memberikan loyalitas yang penuh terhadap perjuangan Islam. Kita tentu masih ingat bagaimana kebaikan dan keutamaan kaum Anshar ketika menerima kaum Muhajirin yang berhijrah bersama Rasulullah saw. ke Medinah.

Hakikat kecemburuan memang acapkali menghilangkan akal sehat, menjadikan diri merasa benar. Hingga gejolak bermunculan di kalangan kaum Anshor. Salah seorang diantara mereka berkata, “Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan kepada Rasul-Nya, karena beliau telah member kepada kaum Quraisy dan tidak memberi kepada kami, padahal pedang-pedang kami yang menitikkan darah-darah mereka.”

Yang lain berkata, “Rasulullah sekarang telah menemukan para kerabatnya.”

Sa’ad bin Ubadah mendengar keluhan kaumnya lantas tak mau tinggal diam atas gejala yang terjadi. Beliau lansung bergegas menghadap Rasulullah saw. dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Setelah mendengarkan laporan Sa’ad bin Ubada, Rasulullah saw. bertanya , “Bagaimana perasaanmu sendiri, ya Sa’ad?” Sa’ad menjawab, “Ya Rasulullah, aku adalah bagian dari kaumku.”

“Kumpulkanlah kaum Anshar di tempat ini,” kata Rasulullah saw.

Sa’ad lansung beranjak dan segera mengumpulkan segenap kaum Anshar. Setelah berkumpul, Rasulullah saw. bertanya kepada mereka, “Apakah ucapan kalian yang telah sampai kepada saya?”

Mereka menjawab “Ya Rasulullah, para pemimpin kami tidaklah mengatakan sesuatu pun. Hanya kami para pemuda, yang berkata, “Mudah-mudahan Allah memberikan ampunan kepada Rasul-Nya, karena beliau telah member kepada kaum Quraisy dan tidak memberi kepada kami, padahal pedang-pedang kami yang menitikkan darah-darah mereka.”

Rasulullah saw. bersabda, Wahai kaum Anshar, bukankah aku datang kepada kalian, sedang kalian dalam kesesatan, lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui perantara aku?

Dan kalian dalam kepapaan, lalu Allah memberi kemampuan kepada kalian karena aku?

Dan dulu kalian bermusuhan, lalu Allah mempersatukan kalian Karena aku?”

Kaum Anshar menjawab, Benar, Allah dan Rasul-Nya amat pemurah dan mengaruniai..!

“Tidakkah kalian menjawab aku, wahai kaum Anshar?” Tanya Rasulullah lagi kepada mereka

“Dengan apa lagi kami harus menjawab engkau, ya Rasulullah padahal bagi Allah dan Rasul-Nya semua kemurahan dan keutamaan?” jawab kaum Anshar.

Rasulullah bertanya lagi, “Apakah yang menghalangi engkau menjawab kepada Rasulullah?”

“Ya Rasulullah, engkau mendapati kami tengah dalam kegelapan, lalu Allah mengeluarkan kami kepada cahaya lantaran engkau. Dan engkau mendapati kami di tengah tepi api neraka lalu Allah menyelamatkan kami lantaran engkau. Dan engkau mendapati kami dalam kesesatan, lalu Allah menunjuki kami lantaran engkau. Maka dari itu kami telah ridha Allah sebagai Tuhan kami, dan Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai nabi. Maka berbuatlah sekehendakmu, karena engkau adalah kehalalan, ya Rasulullah,” Jawab mereka.

Rasulullah saw. merasa masih belum mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Lalu Rasulullah saw. bersabda,

“Demi  Allah, sekiranya mau tentu kalian akan berkata dan pasti kalian akan dibenarkan: Bukankah engkau (ya Rasulullah) datang kepada kami keadaan didustakan, lalu kami (Anshar) yang membenarkan engkau. Bukankah engkau dihinakan, lalu kami menolong engkau. Bukankah engkau datang sebagai orang usiran, lantas kami melindungi engkau, dan engkau dalam keadaan miskin, lalu kami memberikan kemampuan kepada engkau. Engkau datang sebagai orang yang takut, lalu kami mengamankan engkau. Apakah kalian dapati pada diri kalian sekelumit dari hal dunia; di mana aku akan menjinakkan satu golongan dengan sekelumit keduniaan itu agar mereka masuk Islam, sedang aku menyerahkan kalian kepada keislaman kalian yang teguh?”

“Benar ya Rasulullah, kami sungguh telah ridha,” jawab kaum anshar

“Hai kaum Anshar! Tidakkah kalian rela bahwa orang-orang pergi dengan membawa kambing dan unta, sedang kalian kembali dengan membawa Rasulullah ke tempat tinggal kalian?”

“Demi Dzat yang Muhammad di tangan-Nya, jika bukan karena hijrah, tentu aku menjadi golongan Anshar! Jika sekiranya orang-orang menempuh lembah dan tepi gunung, sedang orang Anshar menempuh lembah atau tepi gunung yang lain, niscaya aku menempuh jalan yang dilalui orang-orang Anshar!” lanjut Rasulullah saw.

Ternyata semua itu adalah strategi dakwah Rasulullah untuk dapat melunakkan hati orang-orang yang baru masuk Islam. Mendengar penjelasan itu, kaum Anshar yang hadir saat itu menangis mencucurkan air mata, sampai-sampai janggut mereka pun menjadi basah karena air mata mereka yang mengalir dengan derasnya. Mereka tak kuasa menahan haru yang disebabkan kecintaan mereka yang dalam kepada Rasulullah saw. Lalu mereka serentak menjawab,

“Kami telah ridha kepada Rasulullah sebagai pembagian dan pemberian!”

Ya… Kadang sosok pemimpin mengambil langkah yang menurut kita salah. Tapi percayalah, pemimpin yang adil dan bijaksana tidak mengambil keputusan berdasarkan hawa nafsu, apalagi nepotisme. Kadang sebuah keputusan lahir dari perenungan panjang, agar keputusan yang lahir benar-benar bermanfaat bagi semuanya, tanpa terkecuali.

Semoga kita semua memiliki iman laksana kaum Anshar, pulang dengan membawa Allah dan RasulNya. Kemana pun kita, di manapun kita, kapan pun itu, selalu ada Allah dan RasulNya di dalam hati kita. *Ditulis dari tausiyah Maulid Nabi Saw. oleh Ustadz Bachtiar Nasir di Islamic Boarding School, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu, (28/11/18).

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close