Kebiasaan Para Pahlawan yang Diabadikan dalam Sejarah

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad: 7)

Salah satu bentuk keimanan seseorang adalah menolong agama Allah atau berjuang di atas jalan kebenaran. Hamba yang lebih mendahulukan kepentingan Allah atas kepentingan dirinya sendiri maka pasti dia akan ditolong, dijaga, dan dimenangkan oleh Allah. Para penolong agama Allah tidak hanya diberi kekuatan ruh, tapi juga kekuatan fisik. Dengan demikian, para penolong agama Allah itu akan dimudahkan untuk mengalahkan musuh-musuh Islam.

Memang sudah fenomenal di Negeri ini, bangsa yang mayoritas muslim dan penduduk muslim terbesar di dunia, tapi hanya sebatas status dan sangat jarang ditemukan orang yang mau menolong agama Allah. Apalagi melihat fenomena saat ini, ketika tempat maksiat ditutup malah banyak orang yang berstatus muslim menjadi pembela. Jika jiwa telah terasuki virus materialistic maka sangat susah untuk bergerak menolong agama Allah, apalagi siap dengan segala resiko yang ada.

Jika membuka lembaran sejarah, mata hati kita akan tertuju pada kisah-kisah heroik para nabi, sahabat, dan ulama-ulama yang mengabdikan hidupnya hanya untuk agama. Mereka juga mencari dunia, tapi sekedar untuk mengcukupi kebutuhannya dan agar ia bisa lebih dalam beribadah. Memang ada juga sahabat yang kayta raya, tapi dia telah meletakkan dunia di tangannya, sehingga ia gunakan hartanya itu untuk membela agama Allah, seperti Usman bin Affan.

Gaya kehidupan sahabat sangat kontra dengan gaya hidup kita masa kini. Para sahabat menghabiskan siang dan malamnya untuk mencari ridha Allah, sedangkan kita kebanyakan dunia-orientik. Dalam benak para sahabat selalu terfikir untuk kemajuan agamanya dan bagaimana agama rahmatan lil alamin ini menyebar dan menyelamatkan umat manusia dari nistanya maksiat.

 

 

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ

 

ۚوَحَسُنَأُولَٰئِكَرَفِيقًا

 

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. an-Nisa: 69)

 

Keislaman para sahabat diuji pasca wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Banyak para sahabat yang tidak percaya kalau Nabi telah wafat, bahkan sampai Umar bin Khattab pun tidak bisa menerima fakta yang terjadi pada saat itu. Ujian paling menonjol adalah ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq dibaiat menjadi khalifah, ramai orang-orang murtad, bahkan bermunculan nabi-nabi palsu. Ada juga yang tidak keluar secara total, hanya saja tidak mau membayar zakat kepada khalifah.

Abu Bakar ash-Shiddiq yang mengemban amanah lansung memperlihatkan ketegasannya. Ia berdiri dan berkhutbah:

Aku tidak rela bobot Islam jatuh sementara saya hidup di zaman itu

Prinsip Abu Bakar akan mengadili siapa saja yang memisahkan antara shalat dan zakat. Totalitas dalam berislam, itulah yang direalisasikan oleh Abu Bakar dan para sahabat, sehingga mereka siap berperang dan mengorbankan harta dan nyawanya demi kemajuan Islam.

Selain kisah heroik Abu Bakar, kita juga mengenal Abu Ubaidah Al-Jarrah. Dua kali pemiliha khalifah yang seharusnya paling tepat memangku jabatan itu adalah beliau, tapi dia berprinsip “biarkan aku berada di perbatasan untuk mempertahankan kesucian agama Allah”. Hal itu membuat Umat bin Khattab menangis karena seharusnya orang kepercayaan umatlah yang harus memegang tali kepemimpinan.

Terlepas dari kisah heroiki para sahabat, Indonesia juga mencatat sejarah para pahlawan yang menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan dalam berjuang, sehingga Allah memberikan ganjaran dunia yang tidak diwariskan oleh para pebisnis terkaya sekali pun. Salah satu contoh, siapa yang lebih kaya dari pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan? Asetnya saat ini sudah lebih sepulu ribu lembaga pendidikan, ratusan rumah sakit, klinik, dan lembaga keuangan. Siapa orang kaya Indonesia yang bisa mengalahkan manfaat asset beliau?

Kita juga tidak menutup mata kepada KH Hasyim Asy’ari, kiprahnya di dunia Islam yang mendirikan NU yang dikenal dengan banyak mendirikan pesanten. Siapa dia Bung Tomo, Jenderal Sudirman, Pangeran Pattimura, Imam Bonjol, dan pahlawan-pahlawan bangsa lainnya. mereka adalah orang-orang yang menolong agama Allah ketika penjajah berusaha menghembuskan nafas-nafas trinitas di negeri ini. Dengan usaha para pahlawan, bangsa ini didaulat sebagai penduduk muslim terbesar.

Jika ingin menjadi orang kaya yang sesungguhnya, maka jadilah penolong agama Allah. Sebab, jika prioritas hidup hanya untuk memenangkan agama Allah maka tidak ada yang bisa mengalahkan kita. *dinukil dari tausiyah KH Bachtiar Nasir.

Sebarkan Kebaikan!