Kebebasan Beragama yang Kebablasan

SEYRAN Ates, Pengacara kelahiran Turki, (sebagaimana diberitakan kompas.com, 16/06/2017) meresmiskan “masjid leberal” di Berlin, Jerman. Masjid yang diberi nama “Masjid Ibn-Ruschd-Goethe” itu memiliki corak pemahaman yang berbeda dengan masjid-masjid umat Islam pada umumnya. Di masjid ini, imamnya perempuan; shaf jamaah campur cowok-cewek; dan khusus cewek tak harus memakai burka atau mukenah.

Jauh sebelum dirinya, praktik seperti ini sudah pernah terjadi. Pada tanggal 18 Maret 2005 di sebuah Gereja Katredal Sundram Tagore Gallery 137 Grene Street New York, umat Islam -di seluruh dunia- dihebohkan dengan peristiwa luar biasa. Amina Wadud seorang Muslim feminis liberal nekat menjadi khatib sekaligus imam shalat jum`at bagi jama`ah yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Tak hanya itu, pada tanggal 17 Oktober 2008 kejadian itu terulang kembali di Oxford Center. Hanya saja, apa yang dilakukan Seyran Ates jauh lebih fenomenal karena mendirikan masjid liberal secara resmi dan menetapkan imamnya perempuan.

Sebelum membahas lebih jauh, perlu diketahui terlebih dahulu apa hukum seorang wanita mengimami laki-laki menurut Imam Empat Madzhab. As-Sarkhasi –ulama bermadzhaf Hanafi- menyebutkan dalam kitab al-Mabsûth bahwa dalam Madzhab Hanafiah, wanita tidak layak mengimami laki-laki (1/179).  Sedangkan Madzhab Malikiyah, sebagaimana disebutkan Ibnu Rusyd dalam Bidâyah al-Mujtahid menyebutkan bahwa pendapat Malikiyah sama dengan pendapat Syafiiyah, Hanafiah dan Hanabila yaitu tidak boleh perempuan mengimam laki-laki (1/227).

Adapun Madzhab Syafi’iyah sebagaimana yang disebutkan oleh al-Qaffal asy-Syasyi tidak sah perempuan mengimami laki-laki (Hilyah al-‘Ulama, 2/170). Imam Nawawi juga menyebutkan dalam al-Majmu’ bahwa pendapat Syafiiyah sepakat tentang hal itu baik dalam shalat fardhu maupun sunnah (4/223).

Dalam Madzhab Hanabilah Ibnu Qudamah menyebutkan bahwa tidak sah orang laki-laki bermakmum kepada imam wanita, ini adalah pendapat mereka secara umum. Imam Baihaqi berkata demikianlah pendapat tujuh imam fikih dan para tabiin (al-Mubdi’, 2/72).

Konon yang membolehkan adalah Abi Tsaur, Ibnu Jarir Ath-Thabari dalam shalat Tarawih jika tidak ada imam lain selain perempuan tapi berdiri di belakang laki-laki (Nail al-Authar, 3/199). Bahkan Ibnu Rusyd dan Imam Nawawi pernah meriwayatkan dari keduanya (Tsaur dan Thabari) bahwa wanita boleh mengimami laki-laki secara mutlak (Bidayah al-Mujtahid, 1/227 dan al-Majmu’, 4/233).

MUI (Majelis Ulama Indonesia) sendiri dalam Musyawarah Nasional (Munas) MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H/26-29 Juli 2005 M, menetapkan Fatwa Nomor: 9/MUNAS VII/MUI/13/2005 Tentang Wanita Menjadi Imam Shalat. Inti keputusannya: “Dengan bertawakkal kepada Allah SWT, MUI memutuskan bahwa wanita menjadi imam shalat berjamaah yang di antara makmumnya terdapat orang laki- laki hukumnya haram dan tidak sah. Adapun wanita yang menjadi imam shalat berjamaah yang makmumnya wanita, hukumnya mubah.” Pa

Dalil jumhur ulama dalam mengharamkan wanita jadi imam laki-laki di antaranya. Dalil umum hadits yang inti maknanya tidak akan baik kaum yang menjadikan perempuan menjadi pemimpin (HR. Bukhari). Demikian juga hadits Jabir bin Abdullah yang menyatakan bahwa Rasulullah bersabda seorang perempuan tidak mengimami laki-laki (Ibnu Majah). Tidak ada dalil shahih dari nabi mengenai hal ini dan tidak pernah terjadi di zaman nabi. Dalam masalah shaf misalnya, oleh Rasulullah shaf wanita dibedakan dengan shaf laki-laki. Wanita diletakkan di belakang laki-laki.

Sedangkan yang membolehkannya berlandaskan pada hadits Ummu Waraqah yang suatu hari pernah dikunjungi Rasulullah. Lalu beliau menjadikan untuknya muadzin untuk mengadzankan shalat kemudia Rasulullah memerintahkannya mengimami penghuni rumahnya (HR. Abu Daud, Daruquthni, Baihawi dan lainnya). Pada waktu itu sang muadzin otomatis menjadi makmum. Jadi menurut mereka, perempuan bisa mengimami laki-laki.

Padahal, dalam riwayat Daruquthni ada tambahan, “mengimami perempuan di rumahnya.” Dengan demikian, generalisisai mereka dengan hadits Ummu Waraqah dengan seketika terbantahkan. Apa lagi, apa yang dilakukan Seyran Ates serta pendahulunya Aminah Wadud, sudah melampaui masalah ini. Mereka membolehkan wanita menjadi khatib Jumat bagi laki-laki dan mencampur adukkan shaf laki-laki dan perempuan, bahkan yang lebih parah adalah wanita tak perlu menutup aurat secara lengkap ketika shalat.

Sebagaimana pendahulunya, Seyran Ates begitu ceroboh dalam memahami agama. Kecerobohannya bisa dilihat dari beberapa poin mendasar. Pertama, memahami agama dengan sudut pandang feminisme. Sehingga, apa yang tidak cocok dengan wordlvew feminisme, maka akan ditolak atau disesuaikan dengannya. Kedua, anti otoritas. Pendapat jumhur ulama diabaikan, malah pendapat yang nyeleneh diagungkan. Ketiga, tidak memahami ranah tsawabit (hal permanen) dan mutaghayyirat (bersifat dinamis) dalam agama sehingga pendapatnya diramu sesuai dengan syahwat sendiri yang penting Islam harus disesuakan dengan zaman. Bila pendapat seperti ini dibiarkan meluas, maka sangat berbahaya bagi umat Islam. Wallahu a’lam.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!