KEARIFAN LOKAL MELAYU DAN KEPEMIMPINAN

Al-Qur’an diturunkan sebagai pedoman mutlak bagi manusia. Di dalamnya termaktub solusi bagi semua masalah kehidupan. Masalah kehidupan rumah tangga, masalah dekadensi moral generasi muda, dan paling penting saat ini adalah masalah kepemimpinan.

Krisis kepemimpinan sebenarnya bukan masalah baru, sudah ada sejak dahulu. Tidak terkecuali Indonesia. Untuk itu, kita perlu tuntunan memilih pemimpin yang berasal dari Al-Qur’an agar Bangsa warisan para pahlawan ini dianugerahi pemimpin yang amanah, adil, beradab, bertanggung jawab, dan mengedapankan musyawarah dalam mengambil keputusan, seperti amanah Pancasila.

Lalu, untuk mencapai cita-cita para pendiri bangsa, bagaimana caranya kita sebagai ahli waris bangsa ini memilih pemimpin untuk Indonesa ke depan yang sesuai syariat dan juga sesuai dengan konteks kearifan lokal kita.
Ada sebuah pepatah melayu yang menggambarkan secara umum karakter seorang pemimpin yang harus dimiliki.

Didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang bagaikan pohon di tengah padang, yang jauh mula Nampak yang dekat mula bersua, rimbun daunnya tempat berteduh, kuat dahannya tempat bergantung, besar batangnya tempat bersandar, kokoh akarnya tempat bersila.

Pepatah ini merupakan hikmah melayu yang merangkum karakter kepemimpinan. Sebab, secara historis Melayu sangat berperan dalam terbentuknya Indonesia. Bangsa ini terbentuk dari serumpun kesultanan dan kerajaan Islam Melayu.

Dalam hikmah pepatah melayu yang lain, pemimpin itu adalah;

Bercakap lurus berkata benar
Pantang sekali berlaku kasar
Ramah kepada si kecil dan besar
Tahu menimbang, bijak menakar

Dalam hikmah Melayu, ada ujian yang harus dilalui oleh seorang pemimpin. Ujian pertama pemimpin dalam kearifan lokal melayu adalah; dalam keluarga sanak famili bila lulus teruslah main kalau gagal lubang digali.

Ini adalah hikmah kearifan lokal yang harus ditanamkan oleh mereka yang berniat menjadi pemimpin. Namun, sistem sekuler dan liberal telah terlalu jauh merasuk ke dalam tubuh masyarakat. Ditambah lagi ada tiga berhala politk yang selama ini menjadi penghalang lahirnya pemimpin peradaban Islam di negeri kaya raya ini.
Berhala-berhala itu adalah:

Pertama, berhala polling atau survey. Saat ini survey tidak lagi dipegang oleh intelektual yang lurus, tapi sudah banyak dikendalikan oleh palacur-pelacur intelektual.

Kedua, berhala uang. Jika calon pemimpin memiliki uang maka berpeluang besar untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini, dan jika tidak punya uang maka ia akan terdiam di tempat merangkul potensinya.

Walau tidak bisa dinafikan, siapa pun yang menjadi pemimpin ia harus pintar menggali sumber-sumber daya harta, karena Islam sendiri menganjurkan hal itu. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:

وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ

(dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. (QS. Ash Shaf: 11)

Dalam ayat ini, jihad dengan harta lebih dahulu dianjurkan daripada jihad dengan jiwa, hal itu menunjukkan akan pentingnya juga ketersediaan materi dalam perjuangan di jalan Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, seseorang tidak bisa hanya modal nekad untuk jadi pemimpin. Jika tidak punya kemampuan mengelola harta dan mencari harta untuk umat maka dia bisa saja membiarkan rakyatnya kelaparan.
Umat tidak cukup hanya diberi asupan idealisme dan propaganda seorang pemimpin. Di samping harus memuaskan rohani umatnya, seorang pemimpin juga harus mampu mengenyangkan perutnya. Namun, uang tidak boleh menjadi berhala yang dianggap segala-galanya dalam politik.

Berhala uang adalah menjadikan uang sebagai tolak ukur untuk ikut dalam pesta demokrasi. Sehingga pemimpin muda berpotensi tidak bisa mengambil alih kepemimpinan hanya karena tidak memiliki dana yang cukup.
Ketiga, berhala koalisi partai. Berhala ini juga telah menghilangkan syura (Musyawarah). Hal ini sudah jauh menyimpang dari dasar Negara, Pancasila.

Lalu bagaimana panduan agama dalam masalah ini? Secara syar’i yang pertama kali dijadikan pegangan untuk memilih pemimpin adalah syura (musyawarah).

وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ

sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; (QS. Syura : 38)

Musyawarah adalah nyawa dalam konsep kepemimpinan Islam, sehingga musyawarah menjadi sangat penting untuk menlahirkan pemimpin yang sesuai dengan amanah para pendiri bangsa.

Dalam pilkada mendatang, jika para ulama, tokoh, dan aktivis tidak mengadakan musyawarah sebelum menentukan pilihan siapa yang pantas untuk dijadikan pemimpin, maka hal itu menjadi langkah yang keliru dan salah dari segi syariat Islam.
Dalam Islam tidak semua orang boleh ikut dalam majelis musyawarah. Peserta musyawarah harus orang berilmu, terutama ilmu agama dan mempunyai pengalaman dalam bidang yang akan diputuskan misalnya kepemimpinan. Peserta musyawarah juga harus memiliki sikap bijaksana dalam mengambil keputusan.

Di Minangkabau ada pepatah tungku tigo sajarangan, artinya tiga batu satu panci. Tiga batu satu panci yang berkumpul dalam satu tempat sehingga melahirkan masakan yang sesuai keinginan tuannya.

Musyawarah juga menjadi sangat penting karena dalam Al-Qur’an ia ditempatkan di antara dua rukun Islam. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. Asy Syuara : 38).

Musyawarah adalah ibadah. Semua keputusan yang diambil dari hasil musyawarah apapun hasilnya maka Allah Subhanallahu wa Ta’ala yang akan membimbing jalannya keputusan itu. Sama halnya, Dia yang memerintahkan manusia untuk mencari rezeki dan Dia juga yang menjamin kecukupan rezeki hamba-Nya. Untuk itu, bermusyawaralah sebelum mengambil keputusan.

وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِين

Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS. Ali Imran : 159)

Akan tetapi, musyawarah hanya dianjurkan untuk hal-hal yang bersifat mubah saja, sesuatu yang sudah jelas halal dan haramnya tidak boleh dimusyawarahkan lagi. Karena kita tidak boleh memusyawakah hal-hal yang sudah absolut kebenarannya.

Terkait memilih pemimpin untuk kepemimpinan Indonesia yang sesuai syariat Islam dan kearifan local Indonesia, maka setidaknya ada tiga langkah yang harus dijalankan.
Setelah musyawarah maka langkah selanjutnya adalah melihat track record calon pemimpin yang akan dipilih, apa yang telah dia perbuat untuk Islam dan umat Islam. Juga dilihat apa program-program keummatan ke depan yang dia tawarkan. Karena dari sisi keislaman saat meneliti dan selektif dalam memilih pemimpin, maka itu juga untuk kepentingan NKRI.

Lalu langkah ketiga baru diperbolehkan untuk memilih berdasarkan kelompok, ras, suku, agama, partai, ormas dan komunitasnya.

Untuk poin ketiga ini, harus menjadi dasar pilihan paling akhir tidak boleh dijadikan dasar nomor satu, Poin pertama dan kedua (musyawarah dan melihat calon pemimpin) harus menjadi dasar dan landasan mendahului poin ketiga. Sebab, jika menyalahi urutan tersebut maka telah kehilangan legitimasinya secara syar’i di hadapan Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

Penulis : GubahanM

Editor : Iswahyudi

Sebarkan Kebaikan!