ArtikelNewsSirah
Trending

Keajaiban di Palu

Palu, Berkah Berjamaah. Ketika mata tidak menjadi saksi bagi pendengaran.  Ketika lisan tidak bertutur kebenaran. Maka tangan akan menyentuh sembarangan, dan kaki melangkah tanpa tujuan. Tubuh yang demikian bagaikan rumah tak bertuan, karena sepenuhnya telah dikendalikan setan. Itulah jiwa-jiwa yang terserak. Maka kembalilah kepada Allah untuk menyucikannya.

Gempa yang meruntuhkan hunian, apakah tidak menjadi peringatan? Tsunami yang menerjang, apakah tidak menjadi pelajaran? Lombok, Palu, Sigi, dan Donggala adalah ayat kauniyah yang Allah kirimkan agar kita kembali kepadaNya. Membunuh syirik dalam diri dan menggantikannya dengan cahaya iman.

Dibalik peristiwa ada makna yang bisa dipetik oleh orang-orang yang mau berfikir. Jangan melihat setiap kejadian hanya sebagai fenomena alam semata. Namun lebih jauh lagi, temukan hikmah dibaliknya agar hati bergetar saat mendengar namaNya.

Sebuah keajaiban sebagai pelajaran bagi semua kalangan. Sebut saja namanya Syamsinar. Umurnya telah menua, PNS telah ia tekuni. Datang dengan keyakinan tinggi bahwa karena kuasaNya-lah sehingga ia bisa selamat dari amukan tsunami “Saya selamat karena kuasa Allah,” ucapnya dengan tegas.

Bukti kekuasaan Allah. Sore itu, dirinya hendak berkunjung ke rumah keluarga. Namun naas, belum sampai, mobil yang membawanya terguling puluhan meter dihantam tsunami. “Saya di (pantai) Talise, pas tsunami datang,” ucapnya.

Merangkak menyelamatkan diri, meraih apapun yang bisa diraih, hingga nasib membawanya ke tenda pengungsian di Sigi Biromaru, Sigi, Sulawesi Tengah. “Saya bertiga orang digulung dalam mobil pas depan Pertamina Talise. Sekitar 20 kali di gulung-gulung dalam mobil, jauh sekali. Pas turun itu sudah sampai di sini air (memberi isyarat ke lehernya).” Kisahnya.

Bukti kekuasaan Allah juga terlihat pada diri Ibu Satnah. Dengan anaknya yang masih berumur dua tahun, Rahilah, ia selamat dari likuifaksi yang membuat Petobo terkesan “hilang” ditelan bumi. Ia berada di perbatasan Petobo dan Mpanau, menyusuri lumpur dalam gelap yang gulita. 180 hektar yang telah menjadi lumpur,  apalagi yang bisa membuat selamat jika bukan kuasa Allah? “Kuasa Allah ini kita bisa selamat.” Ucapnya dengan penuh keyakinan.

Saat bumi tempatnya berdiri berguncang, diikuti tanah yang berubah menjadi lumpur, ia berusaha naik ke atap rumah untuk menyelamatkan diri. Derai air mata, lirinya, menyaksikan pepohonan bertabrakan dengan rumah-rumah. Suara korban lainnya yang meminta tolong, hanya dibalas tangis olehnya. Apa daya, kedua tangannya hanya mampu memeluk anaknya. Rumahnya tenggelam dalam lumpur, hanya baju di badan dan kini Rahilah trauma sangat mendalam.

“Saya gendong terus itu anakku. Pas kejadian, saya berjalan di atas bumbungan (Atap) rumah. Jadi semua rumah itu takkumpul, di situ saya berjalan sambil gendong anak,” kisahnya.

Tujuh jam “berenang” di tengah lumpur, gelap gulita, hanya mengandalkan cahaya rembulan yang temaram. “Saya lolos dari lumpur sekitar jam 1 malam, ada 7 jam di sana. Pas sudah berhenti gempa, saya berusaha jalan keluar, cari jalan sampai lolos. Itu pohon kelapa, sama rumah-rumah baku tumpuk-tumpuk.” Ucapnya.

Redupkanlah neraka dalam hati. Tanamkan benih-benih kebaikan, agar angin surga selalu menetramkan jiwa. Sebab keajaiban Allah selalu datang kepada hamba yang Dia kehendaki.
_______
Ditunggu donasi terbaik untuk Palu dan Donggala. Bantu sodara kita. Salurkan melalui :

Bank Syariah Mandiri (kode : 451) 7555250007
a/n Yayasan Pusat Peradaban Islam

Do’a dan kepedulian kita sangat berarti
agar mereka kuat dan sabar menjalani musibah ini.

lnformasi dan konflrmasi : +6281292847019

#BerkahBerjamaah
#AQLPeduli
#AQLMedia

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close