Keadilan Hakim Membuka Pintu Hidayah

SUATU saat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pergi ke pasar. Secara sepontan, dirinya berada di dekat seorang Nasrani yang sedang menjual baju besi. Khalifah keempat ini yakin bahwa salah satu perisai yang dijual adalah miliknya. Dalam hati beliau bergumam, “Ini baju besiku.”

Persengketaan ini diselesaikan di majlis hakim. Saat itu, Syuraih yang telah diangkat diminta Ali menjadi hakim terhadap perselisihan ini. Ketika Ali datang, dipersilakanlah sahabat yang berjuluk Abu Turab ini duduk di tempat persidangan, sementara Syuraih duduk di depan Ali dan di samping si Nasrani.

Kepada Syuraih Ali mengaku bahwa baju besi miliknya telah dicuri orang Nashrani tersebut. Ketika ditanya bukti, suami Fathimah binti Muhammad hanya terdiam karena tidak memiliki bukti yang cukup kuat. Sedangkan si Nashrani ketika dicecar hakim, ia menjawab, “Amirul Mukminin sungguh mengada-ngada. Perisai ini adalah milikku.”Ketika ditanya mengenai bukti, Ali tidak memilikinya sehingga dia mengaku kalah.

Akhirnya, Syuraih memutuskan perisai itu milik orang Nashrani. Melihat keadilan Syuraih dan ketaatan Ali pada hukum, orang Nashrani tersebut terkagum-kagum hingga membuatnya mendapat hidaya sehingga memeluk Islam. Ia pun akhirnya mengembalikan perisai itu kepada Ali radhiyallahu ‘anhu. Melihat keislamannya justru Ali memberikannya secara cuma-cuma. (Ibnu Asakir, Târîkh Madînah Dimasyq, XXIII/23-24).

Jauh sebelum itu, tepatnya pada saat hijrah ke Habasyah kedua, menjadi momen yang cukup penting bagi Amru bin Ash radhiyallahu ‘anhu. Kehadirannya ke Habasyah yang diutus sebagai delegasi pembesar Qurays dengan membawah banyak hadiah untuk melobi Najasyi agar mengembalikan para muhajirin rupanya tidak menuai hasil.

Raja Najasyi (Al-Ashram) yang disebut nabi sebagai raja adil yang tak akan mendzalimi siapapun ini tidak mempan dirayu dengan berbagai hadiah. Baginya, kebenaran harus dijunjung karena keadilan begitu agung. Ternyata, melihat keadilan Najasyi serta keteguhan kaum muslimin kala itu, membuatnya kagum terhadap Islam. Pada akhirnya (tahun ketujuh Hijriah), ayah Abdullah ini dengan suka rela memeluk Islam (Shafiyurrahman, al-Rahîq al-Makhtûm, 318).

Bagi Najasyi, kebenaran harus dijunjung karena keadilan begitu agung.

Kisah tersebut mengandung pelajaran luar biasa. Penegakan hukum secara adil acap kali membuka pintu hidayah. Seorang Nashrani yang berselisih dengan Ali serta pengalaman Amru bin ‘Ash bersama Najasyi membuktikan bahwa ketika keadilan tegak, maka pintu hidayah akan terkuak. Wallahu a’lam.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!