Kaya & Miskin di Mata Abdullah bin Amru

MENJADI kaya atau miskin, baik dan buruknya memang tak bisa dilepas dari konteksnya. Kaya bisa menjadi baik jika kekayaan itu disalurkan dengan baik sebagaimana Abu Bakar RA, Utsman bin Affan RA dan Abdurrahman bin ‘Auf RA. Di sisi lain, kekayaan akan menjadi buruk jika diperlakukan sebagaimana Qarun yang sekadar pamer bahkan lupa bersykur.

Demikian juga miskin, akan menjadi baik jika kondisi tersebut diperlakukan sebagaimana Ulba bin Zaid RA yang begitu miskinnya hingga ditolak ikut serta pada Perang Tabuk. Tapi dia tidak berkecil hati, doa-doa tulusnya dikeheningan malam justru dianggap Allah sebagai sedekah dan bernilai jihad. Sebaliknya miskin akan menjadi buruk jika disikapi dengan akhlak yang buruk, seperti: sombong. Nabi SAW bersabda ada empat orang yang dimurkai Allah, salah satunya: “orang miskin yang sombong” (HR. Nasai)

Setelah mengetahui catatan tersebut, maka pembaca akan lebih mudah memahami ucapan Abdullah bin Amru bin Ash yang lebih suka miskin daripada kaya. Abdurrahman Al-Hubuli menceritakan: Aku pernah mendengan Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash berkata, “Sungguh, aku menjadi orang kesepuluh dari sepuluh orang miskin, lebih aku sukai dibandingkan menjadi kesepuluh dari sepuluh orang yang kaya. Sesungguhnya, orang yang terkaya, kelak akan menjadi orang yang termiskin di hari kiamat, melainkan orang yang berkata demikian, demikian. Ia berkata: “(Yaitu) yang (rajin) bersedekah baik dengan tangan kanan dan kirinya.” (Abu Nu’aim, Hilyah, I/288)

            Sahabat yang dikenal sebagai orang yang zuhud, banyak meriwayatkan hadits, rajin beribadah dan salah satu penulis hadits Rasulullah ini, lebih menyukai kemiskinan daripada kekayaan. Bisa jadi, dirinya sudah mengetahui secara mendasar tabiat dirinya sehingga lebih suka menjadi miskin daripada kaya. Betapa banyak orang yang tidak kuat diuji dengan kekayaan sehingga tergelincir dari jalan Allah. Masih ingatkah dengan Tsa’laba yang sangat miskin kemudian minta doa kepada Nabi agar dijadikan orang kaya. Nyatanya, ketika menjadi kaya, justru lalai dari Allah.”

Menariknya, pilihan menjadi miskin beliau sandarkan pada orientasi akhirat. Bukankah Nabi sendiri pernah bersabda bahwa orang yang terlebih dahulu masuk surga kebanyakan adalah orang-orang miskin. Sedangkan orang kaya kebanyakan masuk surga belakangan karena harus mempertanggung jawabkan kekayaannya pada Hari Perhitungan. Sahabat Nabi yang lain semisal Abdurrahman bin ‘Auf RA yang kaya pun kelak di akhirat melewati shirat (jalan menuju surga) dengan merangkak.

Meski demikian, beliau sama sekali tidak memandang buruk semua orang kaya. Dengan sangat obyektif beliau memberi pengecualian, yaitu: orang muslim yang dengan kekayaannya digunakan untuk bersedakah di jalan Allah SWT.

Menjadi kaya atau miskin memang pilihan. Tapi, keduanya memang tidak lepas dari takdir Allah SWT. Masalahnya, bagaimana kita menyikapi keduanya? Dan yang perlu disadari kembali adalah keduanya sama-sama ujian yang harus dijalani. Ingin kaya atau miskin, selama disikapi karena Allah, maka akan menjadi baik. Wallahu a’lam.

*Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!