ArtikelSirah

Karakteristik Pemuda Islam

ADA sebuah nasihat yang menggetarkan dari Al Imam Asy Syafi’i kepada para pemuda, dalam Diwannya beliau menulis;

 

Bersabarlah atas pahitnya sikap kurang mengenakkan dari guru

Karena sesungguhnya endapan ilmu adalah dengan menyertainya

Barangsiapa yang belum merasakan pahitnya belajar meski sesaat

Maka akan menahan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya

Barangsiapa yang tidak belajar di waktu mudanya

Bertakbirlah 4 kali atas kematiannya

Eksistensi seorang pemuda –demi Allah- adalah dengan ilmu dan ketaqwaan

Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya

Pemuda adalah agen perubahan yang memiliki andil besar dalam sejarah kebangkitan bangsa. Bangkit dan mundurnya sebuah bangsa sangat bergantung dari kondisi pemudanya. Jika para pemuda memiliki jiwa yang maju, jiwa besar, dan jiwa kepemimpinan maka bangsa akan bangkit dan merebut kejayaanya.

28 Oktober 1928 ada sekelompok pemuda berkumpul dan mengikrarkan sumpah pemuda. Sejarah mencatat bahwa saat itulah bangsa Indonesia lahir. Indonesia merdeka karena pemudanya tidak menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Al-Qur’an juga sangat menghargai peran pemuda, bahkan Allah menjadikan pemuda kahfi sebagai salah satu nama surat dalam kitab-Nya. Maryam binti Hannah seorang pemudi yang dinobatkan sebagai wanita paling suci dan namanya dijadikan nama surat dalam Al-Qur’an.

Dalam sejarah kita mengenal pemuda Mush’ab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan yang lainnya.

Tabligh Akbar kepemimpinan oleh YI-Lead Ahad (4/3), KH Bachtiar yang menjadi salah satu pembicara mengemukakan setidaknya ada empat karakteristik pemuda Islam. Selain ikhlas dan iman juga semangat yang terus berkobar untuk terus bergerak dan berbuat.

Ikhlas dan iman menjadi syarat yang sangat penting karena dalam Islam keduanya menjadi prioritas utama dalam beribadah. Semua orang bisa bebruat baik tapi belum tentu diterima di sisi Allah. Ibadah akan diterima jika ikhlas dalam mengerjakannya dan hanya orang beriman yang mampu melakukan itu.

Para ulama berbeda pendapat tentang definisi ikhlas ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam An Nawawi dalam bukunya Al Majmu’ Syarhul Muhadzdzab. Ada yang berpendapat, ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepadaNya. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada makhluk.

Al ‘Izz bin Abdis Salam berkata : “Ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya”. Lain lagi yang dikemukakan oleh Al Harawi “Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda.” Yang lain berkata : “Seorang yang ikhlas ialah, seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya, meskipun hanya seberat biji sawi”.

Sementara Abu Hudzaifah Al Mar’asyi berpendapat: “Ikhlas ialah, kesesuaian perbuatan seorang hamba antara lahir dan batin”. Abu ‘Ali Fudhail bin ‘Iyadh berkata : “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’. Dan beramal karena manusia adalah syirik. Dan ikhlas ialah, apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya”.

KH Bachtiar Nasir memberikan perumpamaan tentang ikhlas bahwa, “Ikhlas itu murni. Murni artinya tak ada sedikit pun campurannya. Jika dikatakan emas murni, maka tidak ada campuran partikel besi, nikel, dan partikel lain di dalamnya. Hanya emas saja tidak capuran partikel lain.”

Bagi pemuda yang hendak melakukan perubahan besar dalam dirinya maka mulailah mengikhlaskan niat hanya untuk Allah Swt. Keikhlasan yang mampu membuat seorang pemuda mampu bertahan di tengah gejolak syahwat. Sebagaimana Nabi Yusuf AS yang mampu keluar dari godaan terbesar kaum laki-laki karena terpantri keikhlasan dalam dirinya. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas”. (QS Yusuf: 24).  

Selain ikhlas, iman juga menempati posisi yang sangat penting jika ingin melakukan hal-hal besar. Terlebih lagi Allah hanya akan menolong orang-orang beriman. Walau pun Indonesia menjadi Negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia tapi itu belum cukup menjadikan bangsa ini bangkit dari keterpurukan. Kualitas umat Islam Indonesia belum bisa setara dengan kuantitasnya. Penyebabnya adalah keimanan. Umat Islam masih stagnan di status berislam belum beriman, mayoritas.

Asy-Syaikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi ahli tafsir asal Mesir pernah ditanya ketika berkunjung ke Francisco. Kebenaran Al-Qur’an itu absolut dan Allah pasti memenangkan orang beriman, tapi kenapa saat ini umat Islam lemah seperti buih di tengah laut?

Syaikh menjawab, saat ini umat Islam baru berislam belum beriman. Inilah masalah dasarnya. Untuk pemuda Islam mulailah dengan Upgrading Status Iman. Pemuda Islam yang ingin melakukan perubahan tidak hanya puas berzakat tapi juga bersedekah dan berinfak. Pemuda Islam itu tidak hanya shalat lima waktu, tapi rutin shalat sunnah dan menghidupkan malamnya dengan tahajjud. Pemuda Islam selau mengingat Allah di setiap kondisi tempat, dan konsisnya. Pemuda Islam tidak berpangku tangan di rumah, tapi ia terjun ke dunia politik dengan membawa panji Islam untuk memperbaiki carut-marut bangsanya. Pemuda Islam tidak monoton menjadi konsumen saja, tapi ia membuka bisnis sendiri, offline dan online, untuk membangkitkan ekonomi umat.

Dengan dasar ikhlas dan iman seorang pemuda pasti terus bergerak penuh semnagat untuk melakukan perubahan. Ikhlas dan iman ini yang menjadi pondasi yang sangat kuat untuk berpijak di tengan dekandensi moral. Ikhlas dan iman yang menjadi pegangan kuat untuk mengibarkan panji Islam di tengan maraknya panji liberalisme, pluralisme, dan isme sesat lainnya yang menggerogoti ideologi generasi bangsa saat ini. maka, wahai pemuda, ikhlaskan niat hanya karena Allah serta tingkatkan kualitas iman dan teruslah bergerak untuk melakukan perubahan. Karena masa depan Islam dan bangsa ada di tangan para pemuda. Allah a’alm bish shwab.

*MN

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close