ArtikelSirah
Trending

Kami Dengar dan Kami Taat.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” Demikianlah firman Allah Swt. yang termaktub dalam surat Ali Imran ayat 103. Esensi agama Islam adalah mengikuti Rabb yang satu, Allah Swt. dan mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Melalui ayat di atas umat Islam juga diperintahkan untuk berpegang teguh pada agamaNya dan tidak berpecah belah antar sesame muslim.

Allah Swt. memerintahkan kita untuk selalu mengikuti jejak Rasulullah Saw. Sebab dengan mengikuti beliau jalan-jalan untuk mendapatkan ridhaNya terbuka lebar.

Selain itu, Allah Swt. mengingatkan kita agar tidak mengikuti sikap kaum Yahudi. Dalam sebuah riwayat disebutkan, orang Yahudi saat mendengar firman Allah mereka berkata, “Kami mendengar, namun kami menghianati”. Umat Islam, sebagai umat yang beradab mulia diperintahkan untuk berkata, “kami mendengar, dan kami taat.”

Mengenai ketaatan ini, sahabat-sahabat Rasulullah telah memberikan contoh terbaiknya. Seperti halnya sahabat Julaibib. Pendek Jelek. Hitam. Tidak berharta. Namun dia adalah seorang sahabat Rasulullah yang mulia. Sangat malu dan minder ketika tiba-tiba Rasulullah menawarinya untuk menikah. Karena tahu diri. Namun Rasulullah menenangkannya. Hingga suatu ketika, bertemulah Rasulullah dengan salah seorang sahabatnya.

“Aku ingin meminang puterimu,” kata Rasulullah. Sahabat itu sangat bahagia. Siapa yang tidak bahagia ketika puterinya menjadi istri Nabi.

“Baiklah wahai Rasulullah, ini merupakan sebuah penghormatan bagi kami,” jawab sahabat itu dengan sangat riang.

“Bukan untukku. Tapi untuk Julaibib,” kata Nabi.

“Julaibib? Julaibib?” katanya dengan kaget. Wajahnya berubah. Tidak lagi ceria seperti sebelumnya.

“Namun aku harus bermusyawarah dulu dengan ibunya,”lanjutnya.

“Julaibib? Julaibib?” kata sang istri terkejut saat mendengar berita dari suaminya. Terbayang dengan jelas dalam benak wanita itu sosok lelaki yang pendek. Jelek. Hitam. Dan tidak berharta. Dia yang akan menjadi menantunya nanti. Apa kata orang-orang, pikirnya.

Putrinya yang menyimak percakapan kedua orang tuanya dari bilik kamar segera keluar. “Ayah, ibu, bagaimana mungkin engkau menolak pilihan Rasulullah? Bukankah Allah berfirman, Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka?” jelas gadis itu. “Ayah, ibu, aku akan menikah dengan laki-laki pilihan Nabi.”

Merekapun menikah. Hingga suatu pagi, datang seruan untuk berjihad. Melawan kaum musyrikin di medan Uhud. Julaibib mendengar seruan itu. Iapun emenuhi panggilan Rasulullah saw. untuk pergi berjihad.

Selesai perang Uhud, Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya. “Kalian kehilangan siapa hari ini?” tanya Rasulullah.

Ada sahabat yang menjawab, “Kami kehilangan Hamzah!”

Ada yang berkata, “Kami kehilangan Mush’ab!”

Yang lain berkata, “Kami kehilangan Yaman!”

Ada pula yang mengatakan, “Kami kehilangan ‘Amr bin Jamuh!”

“Namun, aku kehilangan Julaibib! Carilah Julaibib sekarang!” kata Rasulullah.

Para sahabat mencari Julaibib. Hingga akhirnya Julaibib ditemukan meninggal dunia diantara tujuh orang musyrikin.

Para sahabat mengabarkan kepada Rasulullah, bahwa Julaibib meninggal diantara tujuh orang musyrikin. Dia membunuh tujuh orang musyrikin, kemudian dirinya terbunuh. Meninggal sebagai syuhada’.

“Dia adalah bagian dariku, dan aku bagian darinya! Dia adalah bagian dariku, dan aku bagian darinya! Dia adalah bagian dariku, dan aku bagian darinya!” kata Rasulullah menanggapi kabar kematian Julaibib. *Artikel ini ditulis dari papan Dr. Ahmad bin Hasan bin Syams Al Musry di AQL Islamic Center, Kamis, (21/2/2019)

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close