AQL InfoArtikelGaleri FotoNews

Jono Oge! Hilang?

Palu, Berkah Berjamaah. Matahari kian bersahaja di timur, saat menyusuri ruang-ruang sunyi yang mulai ditingalkan penghuniya. Ia…. kemah menjadi pemandangan biasa saat melintasi jalan-jalan di Palu. Rumah retak, siapa yang berani berdiam di dalamnya? Sedang bumi seakan belum usai menuntaskan guncanganya. Walau tak sedahsyat jumat (28/9) lalu, tapi trauma yang terlanjur bersarang dalam diri membuat para pengungsi ketakutan saat guncangan itu datang.

Bahkan, ketika team AQL Peduli dan Berkah Berjamaah sibuk mendirikan hunian layak bagi pengungsi, angin kencang menerbangkan rumah sawah tepat di belakang mereka. Tenda-tenda pengungsi yang berada di lokasi tersebut bersusah payah melawan angin yang berputar.

Demikianlah Palu, Sigi, dan Donggala, selain psikis korban selamat yang memprihatinkan, aroma tak sedap pun mulai menyerang kota yang berasal dari mayat-mayat di bawah reruntuhan serta yang ditelan lumpur dan belum dievakuasi. Sesekali terdengar suara rubuh dari bangunan retak. Jalanan tak rata, timbul patahan di mana-mana. Debu bersamaan panas matahari membuat kulit tampak hitam. Ah.. semoga kawan masih mengenaliku saat pulang nanti.

Jono Oge, salah satu kampung di Kab. Sigi, Sulteng, memiliki keanehan yang serupa dengan Balaroa dan Petobo. Tanahnya amblas dan bergerak atau likuifaksi bersamaan gempa bumi 7,4 magnitudo di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9) lalu. Jono Oge terkesan “hilang” dari tempat semula.

Rumah warga tak sedikit, “Pemukiman di sini sangat padat.” Ungkap Syakur, warga lokal korban gempa. Rumah ibadah pun ikut tergeser sejauh 3 kilometer dan digantikan oleh tanaman jagung.

Di sela tanaman jagung yang siap panen, Jono Oge juga dikisari kendaraan yang pemilikinya entah di mana, selamat kah atau mengungsi? Jono Oge “sebenarnya” yang sudah pindah sejauh 3 km, menampakkan sisa-sisa bangunan menyembul dari dalam lumpur yang mulai mengering.

Guncangan 7,4 SR diikuti luapan air. Luapan air dari dalam tanah itulah yang menggulung pemukiman padat penduduk dari atas dan kemudian mengaduknya.

“Posisi kita berdiri sangat jauh berbeda, dulu ini berada di atas (menunjuk jalanan yang patah), dan kini bergeser sampai ratusan meter. Di sini belum ada mayat yang dievakuasi.” Ungkap Syakur.

Harapan untuk mengevakuasi mayat di tempat tersebut nihil, selain luasnya yang mencapai 202 hektar, relawan SAR harus berurusan dengan waktu dan kondisi tanah yang tak mendukung alat berat.

Jika ada kesempatan, dirikan shalat ghaib untuk saudara-saudara kita. Semoga mereka mendapat tempat indah di sisiNya.

____

Salurkan donasi terbaik untuk Palu dan Donggala melalui :

Bank Syariah Mandiri (kode : 451) 7555250007
a/n Yayasan Pusat Peradaban Islam

Do’a dan kepedulian kita sangat berarti
agar mereka kuat dan sabar menjalani musibah ini.

lnformasi dan konflrmasi : +6281292847019

#BerkahBerjamaah
#AQLPeduli
#AQLMedia

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close