JAGA SOLIDARITAS PERSATUAN UMAT

KHALIFAH di muka bumi ini adalah wakil Tuhan untuk menyelenggarakan misi ilahiyah di dunia ini. Pemimpin sejati itu adalah orang yang mampu menyerap aspirasi umat dan rakyatnya kemudian berjuang dan memperjuangkan apa yang menjadi aspirasi mereka sesuai ketentuan syariat Allah dan Rasul-Nya. Selanjutnya merealisasikan apa yang menjadi aspirasi umat sesuai dengan syariat. Sehingga, tidak semua aspirasi harus direalisasikan, seperti aspirasi yang bisa memecah belah umat. Di sinilah peran pemimpin agar mampu menciptakan perdamaian di tengah umat dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah. Akan tetapi, banyak orang yang gagal faham soal menyerap aspirasi ini, sebab untuk menyerap aspirasi itu harus senada dan senafas dengan rakyat kemudian mengerti metodologi dalam menyerap aspirasi itu sehingga tidak bisa hanya pencitraan dengan membuat rumah aspirasi.

Berbeda lagi pemimpin pesanan, dia membawa aspirasi dari luar untuk direalisasikan di negerinya walau itu bertentangan dengan aspirasi umat dan rakyatnya. Pancasila itu digali dari dasar kearifan lokal bangsa Indonesia dan Soekarno sebagai pemimpin Indonesia pertama dalam menyerap aspirasi kearifan lokal itu tidak main sendiri, dia bertanya kepada ulama mana yang terbaik untuk diterapkan pada bangsa ini yang sudah mempunyai budaya peradaban sendiri. Ulama mempunyai cara tersendiri ketika menyerap aspirasi itu, karena mayoritas rakyat Indonesia adalah umat Islam maka ulama memberitahukan poin-poin yang sesuai dengan kearifan yang sudah mengakar dalam hati rakyat. Tentu pertimbangannya adalah, agar tidak terjadi perpecahan di tengan umat sebagai jargon yang kita kenal bhineka tunggal ika.

Rasanya, jika ingin menjaga persatuan kita perlu kembali menggali sejarah lahirnya pancasila dan bagaimana pancasila itu dibentuk dan disepakati oleh para ulama dan pemimpin. Usulan pancasila Soekarno itu 1 juni, tetapi itu hanya sebatas usulan yang ketuhanan dan kebudayaan ditempatkan pada sila ke-5 dan hal itu belum menjadi dasar Negara. Artinya, Soekarno sebagai persiden masa itu belum sempurna menyerap kearifan lokal bangsa Indonesia, sehingga meminta pertimbangan dan musyawarah kepada para ulama. Setelah itu kita kenal pancasila 22 juni dan 5 juli yang disahkan pada 18 agustus 1945. Pancasila yang disepakati setelah bersatu dalam musyawarah para pemimpin dan ulama serta para tokoh maka lahirlah ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ sebagai sila pertama.

Perjuangan pemimpin dan ulama pada masa itu menempatkan ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ sebagai sila pertama menjadikan tauhid sebagai dasar ideologi Negara. hal ini harus difahami oleh semua rakyat Indonesia agar bisa tercipta perdamaian sejati tanpa tendensi kelompok, ras, dan agama. Pancasila 22 juni dan 5 juli itu sebagai kesepakatan para pemimpin dan ulama yang menampun aspirasi kearifan lokal bangsa Indonesia tidak boleh dikembalikan ke 1 juni. Hal itu berarti Indonesia dikembalikan pada kejahiliyaannya dan itu sangat berpotensi terjadinya perpecahan umat.

Ulama dan pemimpin kita dalam memperjuangkan aspirasi ‘tidak tidur’ untuk menciptakan persatuan itu. Maka tidak layak kita sebagai generasi penerus mau mengembalikan Indonesia pada masa kelamnya. Indonesia yang berbecah bela, Indonesia yang terjajah, dan Indonesia yang dikuasai oleh asing dan aseng.

Kita semua ingin Indonesia damai dengan semua kearifan lokalnya, maka jangan sampai terjadi perpecahan di dalam tubuh umat hanya karena perkara sepele yang sejatinya bisa diselesaikan dengan jalan musyawarah. Kita adalah satu jangan mau dipecah belah.

Sebarkan Kebaikan!