Islam Itu Moderat (2)

IMAM SHAMSI ALI*

SESUNGGUHNYA ketika menyebut Islam, maka bagi seorang yang paham tentang agama ini secara otomatis akan memahaminya sebagai petunjuk hidup moderate. Moderate dalam arti “imbang” dan tidak melampaui batas-batas kealamiaan kemanusiaan. Dalam segala aspek ajarannya Islam itu berkarakter “imbang” (moderate).

Perhatikan misalnya aspek ketuhanan dalam Islam. Di satu sisi Tuhan digambarkan dengan beberapa penggambaran “khalqi” (ciptaan), misalnya dengan karakter melihat, mendengar, punya tangan, marah, senang (ridho), dan seterusnya. Namun di sisi lain juga semua yang memungkinkan Tuhan untuk diasosiasikan dengan makhluk tertutup rapat. Tuhan adalah “Ahad” (unik) yang “lam yakun lahu kufuwan ahad” (tiada yang mirip dengannya). Bahkan penggambaran Tuhan dengan makhluk apa saja salah dan dilarang.

Perhatikan ibadah-ibadah dalam Islam. Jangan lakukan hingga melampuai kapasitas anda. “Allah tidak membebani seseorang di luar batas kemampuannya” (Al-Baqarah). Pesan Rasulullah SAW: “agama itu mudah”. Oleh karenanya jangan dilebih-lebihkan dan dipersulit. Bahkan ketika di hadapan Rasulullah ada dua pilihan, beliau selalu memilih yang termudah.

Mungkin yang menyimpulkan semua itu adalah perintah menjaga “tawazun” (keseimbangan) dalam Al-Quran. “Dan langit Allah tinggikan dan timbangan diletakkan. Agar kamu jangan melampaui timbangab (keseimbangan)” (Ar-Rahman).

Hadits Rasulullah bahkan mengingatkan: “berhati-hatilah dengan al-ghuluw (ekstremisme). Karena ektremismw membawamu kepada kehancuran (at-tahlukah).

Dari semua ini saya menyimpulkan bahwa moderasi itu adalah komitmen kepada agama apa adanya, tanpa dikurangi atau dilebihkan. Agama dilakukan dengan penuh komitmen, dengan mempertimbangkan hak-hak vertikal (ubudiyah) dan hak-hak horizontal (ihsan).

Dilemanya memang ketika manusia tidak jujur dalam mendefenisikan modarasi. Atau sebaliknya ketika kata “radikalisme” menjadi santapam kepentingan sesaat, termasuk politik. Lalu moderasi atau sebaliknya radikalisme ditujukan kepada “kepentingan” masing-masing.

Banyak orang yang melihat biarawati itu moderate dalam beragama. Tapi ketika melihat wanita Muslimah menolak membuka aurat di umum, dengan mudah dituduh “ekstrim”. Banyak orang yang tidak peduli dengan Yahudi orthodox dengan janggutnya. Atau Kristen orthodox dengan jubah dan sorbannya. Tapi ketika seorang Muslim berjanggut lanjang dan berjubah boleh jadi itu adalah prilaku ekstrim.

Oleh karenanya saya khawatir jika pengistilahan ini bagi banyak orang tidak lebih dari sebuah alat untuk kepentingan yang lebih besar. Persis ketika oposisi di Suriah dituduh radikal dan teroris. Atau ketika Ikhwanul Muslimun dengan mudah dilabeli oleh presiden Sisi sebagai gerakan radikal dan teroris.

Indonesia harusnya berkaca. Bahwa kemerdekaan negara ini tidak lepas dari komitmen bergama para pejuang terdahulu. Ingat gema takbir Bung Tomo. Ingat komitmen dzikirnya Jenderak Sudirman. Ingat akidah KH Agus Salim yang tidak penah goyah. Demikian semua pejuang yang dengan airmata dan darah mereka kita menikmati kemerdekaan saat ini.

Makan menuduh umat yang komitmmen agama sebagai radikal adalah kegagalan total dalam memahami sejarah perjuangan, sekaligus kegagalan total dalam mengapresiasi perjuangan pendahulu bangsa.

Akhirnya saya inginkan meyakinkan kita semua bahwa hanya dengan pemahaman sekaligus praktek yang benar agama akan membaw kepada kebajikan umum. Jika ada pengakuan beragama tapi membawa kemudhoratan, termasuk kebencian dan permusuhan, maka itu bukan Islam yang sesungguhnya. Demikian sebaliknya, pengakuan Islam seraya menginjak-injak dan merendahkan ajarannya, juga bukan Islam yang sesungguhnya. Itulah kemunafikan atas nama moderasi. Wal’iyadzu billah! (Selesai)

New York, 4 April 2017

* Presiden Nusantara Foundation

Sebarkan Kebaikan!