Inilah Tiga Kunci Sukses Berdakwah

DALAM hidup ini, kalau ingin mengikuti para nabi dan orang-orang hebat di muka bumi ini, tidak ada yang kalah hebat kecuali dakwah menuju Allah SWT. Namun, dalam menjalankan dakwah khususnya di negeri ini, perlu kehati-hatian.

Kepada para dai, Pimpinan Arrahman Quranic Learning (AQL) Islamic Center KH Bachtiar Nasir berpesan agar memegang tiga kunci sukses dalam menjalankan dakwah menuju jalan Allah. Tiga kata kunci tersebut berdasarkan pada firman Allah yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik (mauidzatul hasanah) dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (An-Nahl: 125)

Kata kunci pertama adalah berdakwah dengan hikmah. Dalam dunia dakwah, hikmah adalah perkataan benar yang terbebas dari kekeliruan. “Jadi buah dari ilmu adalah hikmah, dan ciri-ciri orang berilmu adalah memiliki hikmah, meski tidak semua orang yang betul much memiliki hikmah,” kata Sekjen MIUMI Pusat ini.

Menurut dia, Alquran mengajarkan dakwa melalui pendekatan hikmah dulu. Yaitu perkataan yang tidak jauh dari Alquran dan hadits. Perkataan hikmah itu adalah strategi untuk mengajak manusia masuk ke dalam Islam.

Yang kedua, berdakwah dengan mauidzatul hasanah yakni perkataan yang lemah lembut dan sampai ke hati. Perkataan itu menyangkut perintah dan larangan Allah (nahi dan mungkar) tetapi disampaikan dengan cara yang menyentuh hati. Terkadang seseorang saling hujat padahal hanya karena berbeda persepsi. Itu karena dia tidak punya mauidzatul hasanah.
“Kalau kita tidak paham dengan pola komunikasi sekarang yang sangat bebas ini, kita pasti akan mengalami kesulitan dalam berdakwah kepada Allah SWT. Orang yang keliru atau bersalah, jangan langsung di-bully tapi diberi nasehat atau wasiat,” pesannya.

Kunci sukses dalam berdakwah yang ketiga adalah jidal atau debat. Sebagaimana firman Allah di atas tadi, “bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik”. Jidal itu adalah argumentasi dalam perdebatan yang didasari oleh hujjah dengan sandaran yang kuat. Memang, orang sering gagal menata pola komunikasi dakwahnya karena masuk ke ranah perdebatan. Ada juga yang malas berdebat padahal di saat tertentu, debat itu diperlukan.

“Misalnya, pada saat menghadapi persoalan baru yang ingin mengelabui ummat Islam, saat itu juga debat diperlukan dengan hujjah dan dasar yang kuat. Misalnya, ketika mendapati isu liberalisme lewat wacana Islam Nusantara. Di sini ada penyimpangan bahwa ada yang menunggangi Islam Nusantara untuk kepentingan liberalisme, sekularisme, jadi lawan dengan hujjah yang kuat. Jangan ditunda. Debat harus dilakukan untuk membentengi Islam dari erosi pemikiran dan virus yang ingin merusak Islam,” tegasnya.


*azh

Sebarkan Kebaikan!