Inilah Tausiah Habib Rizieq Syihab di Masjid Sunan Ampel Surabaya (2)

JAUH sebelum  penjajah Belanda datang, sebelum Indonesia lahir, sebelum NKRI terbentuk, sebelum Pancasila dikenal, dan sangat jauh sebelum Bhinneka Tunggal Ika, para ulama sudah datang ke Nusantara untuk menyebarkan Islam. Kerajaan Singosari, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Demak, Kerajaan Mataram, dan kerajaan lainnya berubah menjadi Kerajaan Islam. Masuknya Islam di Indonesia ini adalah perjuangan ulama.

Contoh, sejarah Masjid Sunan Ampel. Raden Rahmatullah dulu diundang oleh Prabu Brawijaya untuk mengobati penyakit masyarakat yang ada di wilayah Jawa Timur. Saat itu Prabu Brawijaya sebagai Raja Majapahit kewalahan. Di mana-mana ada perjudian, mabuk-mabukan, banyak pelacuran, dan tingkat kerusakan masyarakat sudah over khususnya para bangsawan dan anak-anak Istana. Akhirnya Prabu Brawijaya atas saran istrinya mengundang keponakan sang istri yang kita kenal saat ini dengan Raden Rahmatullah dengan julukan Sunan Ampel.

Sunan Ampel datang dengan ayahnya. Ayahnya, Maulana Malik Ibrahim, berdakwah di Gresik sementara Raden Rahmatullah dibawa ke Istana untuk berdakwah. Beliau mendapat tugas khusus yaitu bagaimana supaya lingkungan kerajaan tidak lagi dikotori dengan perjudian, pelacuran, dan maksiat lainnya. Sunan Ampel berhasil menyadarkan penghuni kerajaan bahkan di antara mereka banyak yang masuk Islam. Itu ada adalah perjuangan ulama sebelum Indonesia, Pancasila, NKRI, dan UUD lahir. Maka jangan pernah mencoba menghapus fakta sejarah.

Ketika datang para penjajah, Portugis, Belanda, Spanyol, dan Jepang, para ulama tidak diam. Kerajaan dan kesultanan boleh tumbang tapi ulama-ulama kita tidak ada yang tumbang. Mereka membangun pesantren dan membudayakannya. Mereka mencerdaskan umat dan rakyat dengan mengajarkan kepada mereka cara membaca dan cara menulis serta membentengi akidah dan mengajarkan kepada mereka syariat Islam. 350 tahun lamanya Indonesia dijajah oleh Belanda tetapi bangsa ini tetap mayoritas umat Islam. Sampai Belanda angkat kaki, umat islam tetap 90% di negeri ini.

Di zaman penjajahan Belanda dan Jepang, di setiap provinsi para ulama siang hari mengajarkan ilmu dan adab. Di malam hari para ulama mengajak santri menanggul senjata untuk menyerang pos-pos keamanan penjajah. Di Tasikmalaya, ada satu pesantren yang dipimpin oleh KH Zainal Musthafa melawan tentara Jepang sampai mereka semua dibunuh dan pondok pesantrennya dibakar serta istri dan putri-putrinya disembelih. Maka jangan pernah menghapus jejak para ulama karena merekalah yang telah mempertahankan republik ini.

Ketika tentara Jepang berkeinginan untuk kembali ke Indonesia, Nahdatul Ulama mengeluarkan risalah Jihad pada tanggal 22 Oktober yang kemudian disambut oleh Bung Tomo dan terjadilah Peristiwa 10 November. Para ulama dan santri turun ke Surabaya untuk mengusir penjajah. Tidak sampai di situ, pada tahun 1965 ketika PKI meronrong republik ini, membakar pondok pesantren, menyembelih ulama dan tentara dan dimasukkan ke lubang buaya, maka semua umat Islam berbondong-bondong turun ke jalan untuk perang melawan PKI di mana saja berada.

Disinilah letak lupanya para petinggi negeri ini, ketika sudah merdeka mereka malah mengkriminalisasi ulama. Inilah kesalahan yang sangat fatal karena NKRI itu sendiri lahir atas jasa seorang ulama Masyumi ketika Indonesia masih berbentuk RIS. Para ulama itu bersama-sama berjuang di Konstituante/Parlemen untuk mengubah republik ini menjadi NKRI. Akhirnya M Natsir mengajukan mosi integral kepada Soekarno dan seluruh anggota parlemen. Mulai pada saat itu, RIS (Republik Indonesia Serikat) dibubarkan dan diganti menjadi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Ketika perjuangan melawan penjajah, TNI dan Polri belum dikenal. Yang ada pada saat itu adalah laskar-laskar Islam yang dipimpin oleh para ulama. Laskar-laskar Muhammadiyah, NU, dan laskar Islam lainnya bergabung menjadi Laskar Hisbullah. Dari laskar Hisbullah inilah lahir TKR (Tentara Keamanan Rakyat) lalu berubah lagi menjadi TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan sekarang berubah menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia). Yang pertama kali mendirikan TNI adalah seorang ustadz dari Madrasah Ibtidaiyyah di Yogyakarta yaitu Jenderal Soedirman. Logikanya, ustadz ibtidaiyyah saja bisa membentuk tentara apalagi ulama.

Kesimpulannya, untuk mengobati penyakit-penyakit negeri saat ini tentara dan ulama harus berangkulan menjaga keutuhan NKRI, Pancasila, UUD 45, melawan kebangkitan PKI, dan mengahancurkan siapa saja yang ingin menghancurkan Bangsa Indonesia. *bersambung

reporter : muhajir

editor : azh pawennay

Sebarkan Kebaikan!