Inilah Tausiah Habib Rizieq Syihab di Masjid Sunan Ampel Surabaya (1)

SURABAYA (AQLNEWS) – Ribuan umat Islam membanjiri Tabligh Akbar di Masjid Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur, Selasa (11/4/17). Meski sempat menuai penolakan dari segelintir orang, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab tetap datang. Sejumlah media mainstream juga tendensius sangat memberitakan penolakan Habib Rizieq. Nyatanya, umat Islam Surabaya menyambut antusias kedatangan Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) tersebut.

Selain Habib Rizieq, hadir juga Ketua GNPF MUI KH Bachtiar Nasir dan Wakil Ketua GNPF MUI KH Zaitun Rasmin. Keduanya memberikan tausiah sebelum Habib Rizieq. Di awal tausiahnya, Habib Rizieq mengulas kewajiban umat Islam bersatu sebagaimana digariskan dalam al-Qur’an. “Allah SWT yang menyatakan dalam al-Qur’an, berpegang teguhlah kepada tali Allah. Kita diwajibkan bagi siapa pun yang beriman untuk berpegang kepada tali Allah, yaitu agama Allah, hokum Allah, aturan Allah, dan ketetapan Allah. Selanjutnya, umat Islam tidak boleh terpecah belah dalam menegakkan agama Allah,” ungkap Habib Rizieq di antara ribuan umat Islam di Masjid Sunan Ampel Surabaya.

Selanjutnya, inilah tausiah Habib Rizieq yang mengapi-api dan penuh semangat serta diikuti berkali-kali pekikan takbir oleh jamaah yang hadir:

Bersaudara dan bersatu itu bukan hanya sumber kekuatan. Ada yang tidak kalah dahsyatnya dengan persatuan dan persaudaraan umat Islam. Sebagaimana Sabda Nabi SAW: “Alaikum biljama’ah fainna yadallahi maal jama’ah.” Artinya, wajib atas kalian untuk selalu bersama (bersaudara dan bersatu), karena sesungguhnya pertolongan Allah ada pada kebersamaan (jamaah).

Persaudaraan dan persatuan bukan hanya sumber kekuatan tetapi sumber pertolongan Allah SWY kepada hamba-hamba-Nya. Sehebat apapun kekuatan kita, sebesar apapun jumlah kita, sekaya apapun kita, kalau tidak diberkahi Allah, semuanya pasti akan sia-sia. Tetapi sekecil apapun kekuatan kita, sekecil apapun jumlah kita, selemah apapun, dan sesedikit apapun harta benda kita, jika kita bersama Allah, musuh sebesar apapun tidak bisa menghancurkan kita.

Sekali lagi saya ulangi, persatuan dan persaudaraan itu bukan hanya sekadar sumber kekuatan tetapi itu sumber pertolongan Allah SWT. Dengan keberkahan Allah, kalau kita sudah ditolong, selemah apapun kita, kelemahan itu bisa berubah menjadi kekuatan besar. Itu yang membuat musuh takut melihat kekuatan umat Islam. Jangan terpecah dan bercerai berai, mari bersatu di bawah Laa ilaaha illallah.

Kalau kita bersatu, tidak ada kekuatan musuh yang mampu menghalangi kita. Tidak ada kekuatan yang mampu memadamkan kekuatan umat. Lihat aksi 212 yang digembosi dengan berbagai cara, dihalang-halangi, bahkan masyarakat dibuat kacau balau dengan informasi yang menyesatkan. Ulama juga didatangi agar tidak hadir aksi 212, (katanya) jangan datang, nanti ada subversif, ada kerusahan massal, akan ada penembak gelap, Anda bisa terbunuh di sana. Sampai bus-bus daerah diancam, kalau berangkat maka izinnya akan dicabut. Mau digembosi habis-habis atau tidak, tetapi yang datang (Aksi 212) sedikit atau banyak? Usaha yang menggembosi berhasil atau gagal? Kalau begitu, umat kalah atau menang? Itu anugerah dari siapa? Siapa yang Maha Besar? Siapa Yang Maha Kuasa? Siapa Yang Maha Perkasa?

Apa bisa penguasa menggembosi kekuasaan Allah, termasuk pada acara malam ini (di Masjid Sunan Ampel Surabaya)? Para pengurus ditelepon dan diteror kanan kiri. Bahkan ada aksi demo agar dibatalkan, tetapi apa yang terjadi? Umat Islam tetap berkumpul. Usaha menggembosi berhasil atau gagal? Kalah atau menang? Anugerah siapa? Siapa Yang Maha Kuat dan Maha perkasa?

Mestinya pengauasa melihat kekuatan umat Islam untuk bangkit. Jangan diangap ancaman. Ulama seharusnya dirangkul bukan dipukul, dipeluk bukan digebuk. Kalau pemerintah mau merangkul, ini akan menjadi kekuatan besar untuk bangsa. Saudara, tolong dicatat baik-baik, para ulama dan kiyai bukan sembarang manusia. Ulama adalah pewaris Nabi. Memang, tantangan ulama berat. Karena ulama tidak hanya mewarisi ilmu para Nabi tetapi juga mewarisi tantangan berat dalam berdakwah. Para Nabi dicela dan ditentang, begitu juga dengan ulama.

Allah meninggikan kedudukan orang yang beriman dan yang memiliki ilmu. Allah yang memuliakan dan meninggikan derajat para ulama, maka kita juga wajib memuliakan yang dimuliakan oleh Allah.

Bukannya ulama dikriminalisasi. Allah memuliakan mereka, tapi sekarang kenapa yang dimuliakan Allah mau dikriminalisasi? Mereka ngaji dimana? Ulama itu tempat bertanya kita, tempat merujuk atas berbagai masalah. Jadi, kalau pemerintah mau kuat, rangkullah para ulama, pakai fatwa ulama. *bersambung

Reporter : muhajir
Editor : azh pawennay

Sebarkan Kebaikan!