Ini Cara Memenangkan dan Mengawal Kepemimpinan Muslim

BEKASI (AQLNEWS) – Pimpinan AQL Islamic Center KH Bachtiar Nasir menyebutkan dua solusi untuk mempertahankan kemenangan dan mengawal kepemimpinan muslim. Solusi pertama yaitu, ayat 20 dan 21 surat al-Mulk. “Kedua ayat ini menjadi modal besar umat islam untuk mempartahankan kemenangan setelah melihat pola kemenangan Pilkada DKI Jakarta. Percaya pada dua ayat ini saja, maka kita mampu mengangkat pemimpin yang takut kepada Allah tahun 2019 nanti,” kata KH Bachtiar Nasir di Masjid al-Huda, Pondok Gede, Bekasi, Ahad (23/4/17).

Firman Allah tersebut adalah, “Atau siapakah yang akan menjadi bala tentara bagimu yang dapat membelamu selain (Allah) Yang Maha Pengasih? Orang-orang kafir itu hanyalah dalam (keadaan) tertipu.
Atau siapakah yang dapat memberi kamu rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya? Bahkan mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran).” (QS al-Mulk:20-21)

Solusi kedua adalah membangun infrastruktur gerakan umat terlebih dahulu, yaitu menghilangkan kemusyrikan-kemusyrikan di kepala. “Pegangan kekuatan kita jika ingin terus menang jauhi kemusyrikan di kepala,” urai Sekjen MIUMI Pusat ini.

Menurut dia, Pilkada DKI putaran kedua pada 19 April membuktikan bahwa tidak selamanya politik sembako dan kekuatab uang bisa menang. Ketika umat tidak takut lagi dengan kekuatan makhluk Allah maka pertolongan Allah SWT pasti datang. “Jakarta 2017 menjadi sangat monumental di mana sembako kalah dengan ideologi umat Islam,” ujarnya.

Sebelum dentuman al-Maidah 51 di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, banyak umat Islam keracunan dengan cara berfikir kaum munafik. Di awal 2015 para tokoh masih pesimistis untuk melawan kekuatan di balik pemimpin kafir dan tidak ada calon pemimpin muslim yang sebanding.

“Saya melihat langit langit Jakarta dengan kabut materialisme atau kemusyrikan materialisme. Mereka berkata, tidak mungkin menang kalau tidak punya duit banyak dan didukung dengan keuatan besar di belakangnya. Ternyata Allah SWT mendatangkan tentara-tentaranya, pasukan al-Maidah datang dari seluruh Indonesia,” katanya.

Pilkada DKI Jakarta menunjukkan bahwa umat Islam tidak bisa lagi pesimistis dalam memperjuangkan kebenaran. Hujan fitnah dan tuduhan anti-Bhinneka, anti-NKRI, dan anti-Pancasila kepada umat Islam tidak terbukti. Sebab, tanpa peran penting umat ini, Bhinneka Tunggal Ika dan persatuan yang mereka klaim itu tidak akan pernah ada. Umat Islamlah yang menjadi pelopor kemajemukan ini dan bahkan para ulama yang mengusulkan dan memperjuangkan NKRI dan Pancasila. Namun mereka balik semuanya demi untuk kepentingan politik mereka yang sesaat.

“Tugas kita sekarang adalah bagaimana membangun infrastruktur gerakan umat. Artinya, kita harus berjiwa revolusioner tetapi terlebih dahulu membangun infranstrukturnya,” ujarnya.

Infrastruktur ini sangat penting karena berkaitan dengan masalah akidah tauhid umat. “Kalau kita semua menyerah dengan hitung-hitungan politik, kita bisa musyrik. Takut pada kekuatan selain kekuatan Allah SWT adalah musyrik,” tegas Ketua Alumni Universitas Islam Madinah ini.

Dia menyebutkan, ketika KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad maka Bung Tomo menyambutnya dengan modal akidah yang kuat. Seandainya Bung Tomo takut kepada Belanda dengan sekutunya Inggris sedikit saja kemusyrikan (Takut kepada mahluk) dan tidak lagi takut kepada Allah. Boleh jadi Indonesia menjadi cengkraman Inggris di Surabaya. Akan tetapi, Bung tomo mempunyai akidah yang kuat dan kekuatan militer dan politik. Sehingga dengan kekuatan akidah itu dia mampu mengusir pasukan sekutu dari Tanah Surabaya. *
Reporter : muhajir
Editor : azh pawennay

Sebarkan Kebaikan!