Ibu “Pahlawan Pengguncang Arasy Rahman”

“Selalu ada perempuan kuat di balik lelaki hebat. Perempuan mulia itu bisa istri atau ibu, bisa jadi dua-duanya.” Demikian tulis Yoli Hemdi  dalam buku Stories of Love: dari Cinta Klasik Sampai Cinta Unik (2002: 146). Sosok wanita yang akan diulas pada tulisan ini pun benar-benar sosok kuat yang berhasil melahirkan pahlawan hebat.

Salah seorang putranya, dalam sejarah, tercatat sebagai pejuang militan. Oleh nabi sendiri, buah hati dari ibu hebat ini, pernah disaksikan sebagai sahabat yang menghukum dengan hukum Allah (HR. Muslim, Ahmad) di atas langit ketujuh. Bahkan, saat ia wafat, arasyi Rahman sempat berguncang keras karenanya (HR. Bukhari, Muslim). Dialah Ummu Sa’ad bin Mu’adz: Kabsyah binti Rafi’.

            Kabsyah merupakan di antara wanita pertama yang memeluk Islam sejak masuknya Islam di Madinah; ia juga termasuk wanita awal yang membaiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Ummu ‘Amir binti Yazid bin as-Sakan dan Hawwa` binti Yazid bin as-Sakan; yang tak kalah penting, dia sangat terdepan dalam kebaikan.

Ada dua kisah menarik yang akan diangkat dalam kisah heroiknya yang menggambarkan alasan mengapa dia bisa melahirkan pahlawan sekaliber Sa’ad bin Mu’adz:

Pertama, pada saat Perang Uhud, ia keluar bersama wanita yang mencemaskan keselamatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Meski kabar kesyahidan anaknya yang bernama ‘Amru bin Mu’adz, telah sampai kepadanya. Tapi, hal utama yang dicemaskan adalah keselamatan Rasulullah shallallau ‘alaihi wasallam.

Sesampainya di medan perang, saat mengetahui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kondisi selamat, istri dari Mu’adz bin Nu’man ini memuji Allah subhanahu wata’ala dan menganggap gugurnya ‘Amru di medan perjuangan, dianggapnya ringan. Bagi beliau yang utama adalah keselamaan Rasulullah (Waqidi, 1409: I/315-316).

Kedua, kisahnya ketika bersama Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu pada perang Khandaq, di benteng Bani Haritsah. Anak-anak dan para wanita ditempatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di benteng ini karena khawatir diserang musuh.

‘Aisyah bercerita, saat berada di benteng Bani Haritsah, dirinya bersama Ibu Sa’ad bin Mu’adz. Lewatlah Sa’ad bin Mu’ad, seraya menyenandungkan sya’ir heroik menyusul Hamal (seorang pemberani), “Betapa indahnya kematian, ketika datang ajal.”

Ibunya menimpalinya, “Susullah wahai anakku, kamu telah terlambat!.” Aisyah bertanya kepada Ibu Mu’adz, “Wahai Ibu Sa’ad, engkau tidak ingin baju besi Sa’ad lebih sempurna dari yang sedang dipakai sekarang?” Waktu itu baju besi yang dipakai Sa’ad memang berlubang sehingga lengan tangannya terlihat. Rasa cemas sang ibu pun akhirnya sempat terlintas. Namun, dengan langkah mantap Sa’adz tetap berjihad. Akhirnya Sa’ad terkena panah. Hibban bin al-‘Ariqah dalam Usud al-Ghaabah adalah orang yang memanahnya (Ibnu Atsir, 1415: II, 461)

Kisah Ibu Sa’ad ini mengandung pelajaran menarik, di antaranya: Pertama, mendahulukan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya daripada cinta lain. Kedua, berani menghadapi risiko. Ketiga, ikut berkontribusi dalam perjuangan dan mengkader anaknya ke arah itu. Keempat, sabar ketika menghadapi ujian. Kelima, selalu mendukung perjuangan anaknya selama dalam kebaikan.

*Amoe Hirata Abu Kafillah

Sebarkan Kebaikan!