ArtikelTausiyah

Hikmah Rabbaniyah Bulan Suci Ramadhan

GOALS ramadhan adalah takwa. Orang yang sukses di bulan penuh berkah ini adalah yang mampu mencapai derajat takwa. Namun, berapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali haus dan lapar, sebagaimana sabda Nabi Saw.:

 

رُبَّ صَاىِٔمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَالْعَطَشُ

“Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690 dan Syaikh Albani berkata, ”Hasan Shahih.”)

Hal tersebut terjadi karena ia tak mampu menyerap hikmah-hikmah yang terkandung dibalik lapar dan haus. Hanya memandang sebatas aktivitas tahunan tanpa makna. Demikian juga teramat banyak hamba yang mendirikan shalat tahajjud, tapi yang didapatkan tak leboih dari lelah dan kantuk. Seperti jua orang yang dilaknat oleh Al-Qur’an, karena tidak berusaha menyelami mutiara-mutiara dibalik bacaan itu.

Hal serupa dalam ibadah haji. Suatu ketika Ibnu Umar diajak haji oleh ayahnya. Ibnu Umar merasa bangga karena mendapati jutaan umat Islam berkumpul dan melakukan hal yang sama, haji. Namun sang ayah menimpali, “yang melakukan perjalanan banyak tapi yang haji hanya sedikit”. Pernyataan ini menjadi pukulan bagi kita. bvahwa dibalik amalan fisik ada hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan, yaitu amalan hati. Amalan hati inilah yang menentukan apakah kita mampu menemukan makna rabbaniyah dibalik amalan fisik yang kita kerjakan.

Hikmah rabbaniyah adalah ketuhanan. Artinya, amalan-amalan yang kita kerjakan mampu menambah keyakinan kita kepada Allah Swt. sebagai Tuhan semesta alam. Seperti puasa di bulan ramadhan, goalsnya adalah takwa. Semakin ikhlas seseorang mengerjakan puasa dan ibadah di dalam bulan berkah ini maka semakin besar peluangnya untuk mencapai derajat takwa (QS. Al Baqarah: 183).

Takwa akan menjadikan Allah agung di dalam hati seseorang. Seseorang yang telah mencapai derajat takwa sangat takut kehilangan kesempatan untuk tidak mendapatkan ampunan di bulan suci ini. Motivasi itu menjadi energi untuk melakuakn banyak ibadah. Ketakutan kehilangan kesempatan itu yang membuat matanya selalu terang di malam hari dan tidak menghabiskan malamnya dengan urusan perut dan syahwat.

Qalbu yang dipenuhi takwa dan cinta akan merasa cukup dan bahagia bersandar (tawakkal) hanya kepada Allah Swt.. Walaupun sakit, ia usahakan untuk berdua-duaan dengan kekasihnya. Di tengah malam yang dingin pun akan ditembus untuk meraih pahala shalat berjamaah. Takwa di dalam hati akan mendatangkan hikmah rabbaniyah. Ruhnya tenang dan tidak terpengaruh gravitasi bumi yang fana sehingga melesat menembus eskalasi langit dan sujud di arsy Allah Swt. Sebab, di bulan penuh ampunan ini ada banyak orang yang terpenjara ruhnya dalam jasad. Ruhnya terpenjara oleh syahwat dan hawa nafsu. Bahkan sujudnya tidak mampu menerbangkan ruhnya menembus eskalasi langit. Hidup orang demikian hanya dipenuhi orientasi materi.

Orang bertakwa biasanya akan mengfokuskan ibadahnya pada tiga hal; memperbanyak baca Qur’an, zikir sebanyak-banyaknya, dan sering bersedekah. Tiga ibadah ini yang difokuskan di luar qiyam dan shiam.

  1. Membaca Al-Qur’an

Allah Swt. berfirman:

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).  (QS. Al Baqarah: 185)

Orang yang memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan ini akan mendapatkan dimensi ketuhanan. Walaupun dari sisi kesehatan, Al-Qur’an mempunyai pengaruh yang luar biasa, begitu juga pada sisi kehidupan lainnya. Orang yang mendapatkan hikmah rabbaniyah meyakini bahwa Al-Qur’an bukan perkataan mahluk, ia adalah wahyu dari Allah sehingga membacanya sama halnya bercakap-cakap dengan-Nya. Orang yang merasakan kedahsyatan Al-Qur’an tidak akan pernah gentar dengan tuduhan radikal, teroris, dan stigma negative lainnya.

Al-Walid bin al-Mughirah adalah tokoh kafir Quraisy. Ia seorang yang terpandang lagi memiliki kekayaan. Dan memiliki putra yang terpandang pula, yaitu Khalid bin al-Walid ra. Putranya adalah tokoh sebelum ia memeluk Islam. Dan menjadi tokoh pula setelah memeluk Islam. Sedangkan al-Walid tetap dalam kekufurannya. Dan menjadi musuh utama dakwah Islam.

Dari Ibnu Abbas bahwa al-Walid bin al-Mughirah menemui Rasulullah Saw. Kemudian Rasulullah membacakan Alquran kepadanya. Sepertinya Alquran itu melembutkan kekufuran al-Walid. Kabar ini sampai ke telinga Abu Jahal. Ia pun datang menemui al-Walid.

Abu Jahal mengatakan, “Wahai paman, sesungguhnya kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu.” “Untuk apa?” tanya al-Walid. “Untukmu. Karena engkau datang menemui Muhammad untuk menentang ajaran sebelumnya (ajaran nenek moyang).”

Al-Walid bin al-Mughirah menanggapi, “Orang-orang Quraisy tahu, kalau aku termasuk yang paling kaya di antara mereka.”

“Ucapkanlah suatu perkataan yang menunjukkan kalau engkau mengingkari Alquran atau engkau membencinya.”, kata Abu Jahal.

Al-Walid mengatakan,

وماذا أقول؟ فوالله! ما فيكم رجل أعلم بالأشعار مني، ولا أعلم برجز ولا بقصيدة مني، ولا بأشعار الجن، والله! ما يشبه الذي يقول شيئا من هذا، ووالله! إن لقوله الذي يقول حلاوة، وإن عليه لطلاوة، وإنه لمثمر أعلاه مغدق أسفله، وإنه ليعلو وما يعلى، وإنه ليحطم ما تحته

“Apa menurutmu yang harus kukatakan pada mereka? Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah kalian orang yang lebih memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga pengetahuan tentang rajaz dan qashidahnya yang mengungguli diriku. Tapi apa yang diucapkan Muhammad itu tidak serupa dengan ini semua. Juga bukan sihir jin. Demi Allah! Apa yang ia ucapkan (Alquran) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan, baik, dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada dibawahnya.”

Luar biasa, seseorang yang keras hatinya dan penuh kebencian terhadap Islam dan apa yang Allah turunkan memiliki kesan yang luar biasa terhadap Alquran. Tentu kita kaum muslimin juga ingin merasakan kesan yang mendalam saat membaca Alquran.

Abu Jahal tetap keukeuh agar al-Walid mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang-orang Quraisy ridha. Ia berkata, “Kaummu tidak akan ridha kepadamu sampai engkau mengatakan sesuatu yang buruk tentang Alquran itu.”

“Jika demikian, tinggalkanlah aku biar aku berpikir dulu,” kata al-Walid.

Setelah berpikir, al-Walid mengatakan, “Alquran ini adalah sihir yang dipelajari. Muhammad mempelajarinya dari orang lain.”

Kemudian Allah menurunkan firman-Nya surat al-Mudatstsir ayat 11. Dari ayat 11 dan beberapa ayat seterusnya bercerita tentang al-Walid bin al-Mughirah yang divonis akan mendapatkan adzab yang pedih di neraka. (Kisah ini diambil dari kita Wa Syahida Syahidun min Ahliha oleh Raghib as-Sirjani)

  1. Zikir

Orang yang bersungguh-sungguh mendapatkan goals ramadhan ini pasti memperbanyak zikir. Berzikir sebanyak-banyaknya. Sebagaimana firman Allah Swt.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al Ahzab: 41)

Lidah orang yang mengejar derajat takwa tidak dibasahi oleh perkataan sia-sia. Lisannya hanya ada zikir. Mulutnya tidak berhenti berzikir. Hatinya dipenuhi keagungan Allah Swt. sejak fajar pun ia isi dengan aktivitas yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya.  Menjelang magrib ia habiskan dengan banyak zikir dan doa. Tolak ukur keimanan dan kemunafikan adalah banyak dan sedikitnya zikir. Jika hati berat rasa untuk berzikir sebanyak-banyaknya maka bisa jadi ada kemunafikan dalam hati. Disela masa banyak tasbih yang terucap dan disela aktivitas banyak zikir yang dibaca.

  1. Sedekah

Khalifah pertama kaum muslimin, Abu Bakar Ash Shiddik. Karena Allah telah agung dalam hatinya sehingga sangat ringan untuk menyerahkan semua hartanya di jalan-Nya. Sebab dia tahu rezeki berasal dari yang Maha Besar dan jika disedekahkan maka akan mendapatkan keberkahan yang melimpah.

Salah satu keberkahan dari sedekah adalah melipatgandakan rezeki. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah Ayat 261, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” *Ditulis dari tadabbur kamis pagi oleh KH Bachtiar Nasir, Kamis, 17 Mei 2018. 

*MN

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close