ArtikelTausiyah

Hikmah Kisah Thalut, 3 Kegagalan dalam Memetakan Masalah

Kemampun memetakan masalah internal akan mempengaruhi pandangan dalam memetakan masalah eksternal, atau masalah yang datang dari luar.

KETIKA menghadapi persoalan besar dalam kehidupan maupun skala umat, terkadang fokus kita tersedot pada besarnya tantangan. Lebih terobsesi untuk memandang sebuah permasalahan di atas kemampuan kita dalam menyelesaikannya. Sedikit yang menyadari bahwa besar kecilnya masalah dipengaruhi oleh kemampuan kita memandang ke dalam diri sendiri. Maksudnya adalah Kemampun memetakan masalah internal akan mempengaruhi pandangan dalam memetakan masalah eksternal, atau masalah yang datang dari luar.

Kegagalan memetakan masalah internal akan mengakibatkan kegagalan memetakan masalah eksternal. Persoalan ini bisa ditemui dalam kisah Thalut, surat Al Baqarah ayat 246-252. Kezaliman Jalut sangat besar dalam pandangan kaum elit Bani Israil karena mereka tidak mampu memetakan masalah di internal.

Kegagalan pertama adalah sepereti yang dijelaskan di atas, Bani Israil tidak mampu memetakan masalah internal mereka sehingga gagal memetakan masalah eksternal. Al-Bqarah ayat 146 disebutkan bahwa pada mulanya Bani Israil sangat terobsesi meneyelesaikan masalah kezaliman Jalut. Mereka bahkan siap untuk berkorban apa saja demi keluar dari cengkraman jalut. Allah Swt. menggambarkan,

 “Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqarah: 146)

Kaum elit Bani Israil memohon kepada Musa agar ditunjukkan kepada mereka pemimpin politik untuk menyelesaikan persoalan. Mereka hendak keluar dari cengkaraman penguasa zalim, Jalut. Niat mereka sangat bagus, meminta pemimpin politik agar bisa berjihad di jalan Allah menghadapi kezaliman Jalut. Tapi niat bagus tidak cukup untuk menyelesaikan masalah. Di sinilah kegagalan pertama dari elit-elit Bani Israil, ketika mereka berfikir bahwa masalah yang mereka hadapi akan selesai jika mengangkat pemimpin yang bisa mengangkat mereka ke level kekuasaan untuk kemudian menjatuhkan jalut.

Musa mengingatkan bahwa mereka (Bani Israil) belum saatnya pada level tersebut. Artinya dalam perjuangan ada level yang harus dilalui. Tentu Musa sebagai utusan Tuhan paling tau tentang kapasitas mereka.

Kelompok elit Bani Israil ini tidak punya ukuran yang jelas dalam membaca masalah atau gagal memetakan masalah. Mereka memaksakan kehendak kepada Nabi untuk berperanng melawan Jalut. Padahal telah diingatkan bahwa mereka belum pantas untuk berada di level itu. Namun, mereka terus mendesak karena ingin mempercepat keluar dari masalah (kezaliman jalut).

Nabi Musa memohon petunjuk kepada Allah. Karena pada satu sisi ada kelompok elit Bani Israil yang berambisi tanpa perencanaan dan pemetaan masalah dan di sisi lain dibutuhkan sosok yang mampu membawa Bani Israil ke level tersebut. Nabi Musa dalam mengambil keputsan dalam kondisi seperti ini sangat berat. Maka Allah memberi petunjuk agar mengangkat Thalut sebagai pemimpin. Karena dia sosok yang mampu membawa Bani Israil keluar dari masalah atau mengeluarkan mereka dari kezaliman Jalut.

Karena ego yang membuncah, Bani Israil tidak menerima jika Thalut yang menjadi pemimpin. Sebab dia tidak berasal dari kaum elit Bani Israil. Keinginan mereka pemimpin itu berasal dari golongan mereka sendiri. Allah Swt. berfirman,

“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya,” (QS. Al BAqarah: 247)

Inilah kegagalan kedua, penyakit panggung. Elit-elit Bani Israil menolak kehadiran Thalut di panggung elit pada saat itu. Padahal pengangkatan Thalut atas petunjuk Allah Swt.. Kegagalan memetakan masalah. Mereka merasa lebih cerdas atau lebih bijak dari Nabi mereka sendiri.

Kegagalan ketiga, menjadikan ekonomi sebagai tolak ukur. Sebagaimana digambarkan dalam firman Allah Swt. “sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa”. Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al BAqarah: 247)

Dalam pandangan kaum elit itu, Thalut tidak cukup uang untuk memodali kebangkita mereka. Padahal logika manusia tidak mampu memetakan alur cerita yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. tentu hal ini adalah pemetaan yang gagal. *Ditulis dari ceramah tarawih ustaz Asep Sobari.

*MN

Sebarkan Kebaikan!

Tags
Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close