Hijrah

“Pak, saya cari jilbab syar’i warna pink?” tanya Tiara sore hari kepada penjual busana muslimah di Tanah Abang. “Ini ukhti ada tiga model,” jawab penjual dengan senyum ramah, “silakan, liat saja dulu!” sambung bapak bernama Joni itu.

“Bagus semua bingung. Menurut bapak bagusan mana ya? Lebih cantik pake yang mana kalo buat saya?” lanjut gadis yang ingin berhijrah (mengenakan hijab). “Semua jilbab warna pink bagus. Kalau ukhti nanya lebih cantik mana, ya ane ga bisa jawab, karena kerudung itu untuk menutupi kecantikan ukhti, bukan untuk mengumbarnya.”

Rupanya, komentar Pak Joni itu mengusik hatinya. Diam-diam ia membatin, “Benar juga ya, kalau aku berjilbab masih ingin terlihat cantik dan pamer keindahan tubuhku, apa bedanya hijrahku dengan gadis lain yang tidak berjilbab?”

Untuk mengobati rasa penasarannya, bakda Isyak ia bertanya pada guru ngajinya: Ustadzah. Faza Fi Aunillah. “Ustadzah! Afwan (maaf), boleh nanya ga?” “Jelas bolehlah Tiara, `kan di sini ustadzah memang ngajar ngaji,” jawabnya mempersilakan. “Tapi ini di luar urusan ngaji al-Qur`an,” “Iya ga papa, selama ustadzah bisa jawab, pasti dijawab,” timpalnya.

“Menurut ustadzah, hijrah itu apa sih?”

“Hijrah menurut bahasa artinya meninggalkan atau pindah. Dalam istilah syar’i biasanya digunakan untuk sebutan perpindahan seseorang atau komunitas dari tempat yang buruk ke tempat yang baik.”

“Contohnya apa ustadza?” tanya gadis berlesung dua itu. “Hijrah para sahabat nabi dari Mekkah ke Habasyah atau hijrah dari Mekkah ke Madinah di masa jahiliah. Itu adalah salah satu contoh konkret yang menunjukkan hijrah dari tempat yang buruk menuju tempat yang baik,” pungkasnya.

“Memangnya hijrah itu selalu mengarah pada tempat?” “Tidak juga Tiara, menurut hadits nabi, hijrah itu juga bisa berarti pindahnya seseorang dari perilaku maksiat menuju taat; dari sikap yang buruk menuju sikap yang baik. Kamu mau berubah berjilbab pun, itu bisa dikategorikan hijrah, asal tak salah arah.”

“Maksudnya salah arah?” “Misalnya, berjilbab karena sekedar ingin terlihat cantik, gaul trendi dan supaya dipuji. Menurut Al-Ahzab [33] : 59, di antara fungsinya adalah sebagai identitas muslimah dan supaya tidak diganggu. Kalau berjilbab tapi menonjolkan kecantikan, maka sama saja mengundang syahwat ikhwan.”

            “Lebih dari itu, hijrah dalam berhijab, bukan sekadar urusan menutup aurat, tapi juga menjalankannya sesuai syariat. Banyak `kan orang berjilbab, ternyata jilboob. Bukan hanya mengenakan busana, tapi juga dibalut dengan takwa. ‘Kan terlihat ga sedap, pakaian berjilbab, tapi kelakuan biadab.”

“Tiara! Yang tak kalah penting, hijrah itu bukan pelarian diri dari masalah, seperti: berjilbab karena takut dikeluarkan dari pekerjaan atau takut diputus pacar. Hijrah bukan untuk orientasi duniawi. Seperti, berhijab supaya dikenal, terlihat cantik, trendi, atau untuk mencari pasangan. Hijrah bukan karena ikut-ikutan, semisal: berhijab karena sekadar ikut teman.”

“Sekarang dengan jujur, tanyakan pada hatimu, kamu hijrah ini arahnya ke mana, Allah apa dunia? Jika sudah yakin karena Allah, maka berjilbablah sesuai syariat. Bila perlu, baca kisah para wanita di zaman nabi yang turut serta berhijrah, seperti: Ummu Salamah, Asma’ binti Umais, Ruqayyah, Laila dan lain sebagainya. Semoga Tiara tidak salah arah dalam berhijrah.”

“Sebelum kita teruskan ngaji, kamu perlu ingat hadits ini: ‘Semua amalan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Jika orang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk keduanya. Jika ia berhijrah untuk dunia, atau karena menikahi wanita, maka ia hanya mendapat dunia.’”  Mendengar jawaban ustadzah, mata Tiara berkaca-kaca. Ia bersyukur punya ustadzah yang bisa meluruskan arah hijrahnya.

*Amoe Hirata

Sebarkan Kebaikan!