Hidup Bersama Generasi Terbaik

KETIKA Abdullah bin Mubarok ditanya tentang mana yang lebih utama Muawiyah bin Abu Sofyan ataukah Umar bin Abdul Aziz. Beliau menjawab, “debu yang menempel di baju Muawiyah ketika bersama Rasulullah SAW saat menulis wahyu, berjihad di jalan Allah Swt., dan berbagai keadaan bersama Muhammad SAW. lebih mulia daripada Umar bin Abdul Aziz.”

Hal inilah, ketika Saida Amrullah bin Abdu bin An’am ketika di ujung kematiannya, ia ditanya oleh putranya, Abdullah, “Ayah bagaimana keadaanmu?”

Aku merenungkan hidupku, dimana dibagi menjadi tiga zaman, yakni; pertama, ketika aku berada di zaman jahiliyah, itu adalah hidup yang paling aku sesali dan membuatku bersedih. Kedua, ketika aku hidup bersama Rasulullah SAW, itulah semanis manisnya hidup sepanjang hayatku. Ketiga, sewaktu Rasulullah wafat, aku kembali menjadi manusia yang ada baikya dan ada banyak buruknya. Zaman inilah yang paling aku khawatirkan sampai dekat dengan ajalku.

Abu Sofyan bin Khalid bin Abdul Muthalib (Sepupu nabi) menjelang wafat, banyak orang yang menangisinya, maka beliau berkata, “Janganlah kalian menangisiku, demi Allah aku tidak pernah melakukan perbuatan dosa sesudah masuk Islam, sesudah aku bersama Rasulullah SAW.”

Detika-detika kehidupan bersama generasi terbaik sangat berharga. Pada masa itu orang-orang ingin agar bersama generasi terbaik itu, bagaiman pun caranya.

Umar bin Khattab ketika berada di Madinah pasca-hijrah dan keperluan mencari nafkah, maka dia bekerja sama dengan saudaranya dari Anshar. Keduanya bergantian bersama Rasulullah lalu bertukar catatan setelahnya. Hal ini dilakukan karena keduanya tidak mau ketinggalan dari ilmu yang disampaikan oleh Rasulullah.

Bersama orang terbaik itu sangat mahal harganya, sampai Umar pernah berkeinginan agar malam itu cepat berlalu dan esok ia bisa bertemu dengan saudara-saudarnya, Muhajirin dan Anshar. Keinginannya hanya orang-orang terbaik yang selalu di sampingnya. Orang terbaik yang pernah hidup bersama Rasulullah dan menyaksikan semua perjuangan beliau membangun peradaban dengan landasan Al-Qur’an.

Ketika Umar menjadi khalifah, ia pernah meminta sahabatnya untuk berangan-angan. Di antaranya, ada yang berangan-angan ingin mati syahid di medan perang, lalu dihidupkan oleh Allah, syahid lagi dan dihidupkan lagi, dan begitu setgerusnya. Sahabat yang lain mengutarakan angannya, kalau saya diberi harta yang banyak, maka saya akan gunakan untuk kepentingan di jalan Allah Swt.

Lalu para sahabat bertanya kepada khalifah, “engkau wahai Umar, apa anganmu?”

“di sisiku aku ingin ada Muadz bin Jabal, Halim Mula bin Hubaikah, dan Abd Hubairah bin Dzarah, karena bersama mereka bisa menumbuhkan cinta kepada Allah. Berjumpa karena Allah dan berpisah karena Allah, dan berjuang bersama di jalan-Nya.

Memang kebersamaan dengan genarasi terbaik itu sangat indah. Abdurrahman bin Auf adalah sosok yang sangat sederhana, sajian makanan untuknya juga diperuntukkan kepada budaknya, bajunya tidak dibedakan dengan budaknya. Sampai ketika wafat, dia hanya memiliki selembar kain di mana ketika kepalanya ditutup maka kakinya terlihat, ketika kakinya ditutup kepadanya terlihat. Sehingga pada akhirnya kepalanya ditutup dan kakinya di tutupi dengan rerumputan.

kenersamaan para sahabat, ikatan ukhuwah, dan saling memperhatikan itu karena Allah, sehingga cinta di antara mereka tumbuh dengan subur. Bersama generasi terbaik ini kita akan menemukan keindahan dan kebaikan. Kehidupan Rasulullah bagi para sahabat adalah kehidupan yang membuat mereka bisa menembus lapisan-lapisan langit.

Suatu hari Abu Bakar dan Umar menemui Ummu Aiman sepeninggal Rasulullah, hal itu membuat Ummu Aiman menangis. Ketika ditanya mengapa ia menangis padahal Rasulullah saat ini berada di tempat terbaik di sisi Allah. Ummu Aiman berkata, “aku tidak menangisi Rasulullah, aku percaya beliau berada di tempat yang jauh lebih baik daripada kita, yang aku tangisi adalah kita yang ditinggalkan beliau. Karena kita semua sudah terputus dari langit.”

Jika dulu kita bersama Rasulullah, saat bersalah lansung ditegur oleh Allah melalui utusan-Nya, ketika kita kehilangan arah Allah akan memberikan petunjuk melalui wahyu kepada Rasul-nya, di mana saat itu wahyu turun tanpa henti membimbing kita. Abu Bakar dan Umar pun ikut menangis bersama Ummu Aiman.

keutamaan zaman Rasul karena wahyu turun ke bumi. Wahyu diturunkan untuk menjawab berbagai permasalahan; masalah social, masalah keluarga, masalah Negara, dan masalah lainnya. petunju dari Allah selalu hadir kepada mereka. Ketika bersalah Allah menegur mereka, bahkan sampai pada perkara-perakara yang sangat kecil.

Seperti Asbab Nuzul surat Al-Hijr, “Allah benar-benar mengetahui orang yang bergegas menjadi orang terdahulu dan siapa di antara kalian yang suka mengakhirkan diri”. Pada saat itu, seorang wanita cantik shalat di antara barisan orang shalat. Ada beberapa sahabat yang bergegas supaya dapat shaf terdepan agar tidak bertemu dengan wanita itu, dan juga yang sengaja mengakhirkan agar bisa bertemu dengannya. Setelahnya, turun ayat yang menegur tingkah laku para sahabat itu. Para sahabat takut jika ada satu ayat yang khusus untuk menegur mereka.

Kehidupan para sahabat adalah momen penuh petunjuk dan keadaan hidup yang penuh dengan keberkahan. Bagaimana dengan kita yang tidak hidup di zaman Rasul, bahkan sangat jauh. Mendapatkan kedudukan mereka memang tidak bisa, tapi kita bisa masuk dalam golongan mereka, yaitu dengan mengikuti jejak kehidupan mereka. Allahu a’lam bishawab.

Sebarkan Kebaikan!