Hidayah dan Taufik

BAKDA shalat Ashar di Masjid Ar-Rahman AQL Islamic Center (20/03/2017), Ustadz Bachtiar Nasir menyampaikan sedikit tausiah, “Biasanya, setelah menyampaikan nasihat atau semacamnya, orang menutupnya dengan kalimat billaahit taufiiq wal hidaayah. Sebenarnya, yang tepat adalah billahil hidayah wat taufiq.

Melatakkan kata taufiq lebih dahulu daripada hidayah memang acap kali digunakan oleh sebagian orang dalam memungkasi pidatonya. Menurut beliau, seharusnya hidayah lebih didahulukan daripada taufik.

Selanjutnya beliau menyampaikan argumentasi, “Hidayah berasal dari kata hada-yahdi-hidayatan. Secara etimologi berarti: tampil ke depan memberi bimbingan secara lembut. Hidayah terbagi menjadi dua: Pertama, dalalah (petunjuk, menunjukkan) ini domain manusia. Hidayah yang bisa dilakukan manusia seperti para nabi, orang saleh dan para lawyer. Kedua, irsyad (bimbingan) domain Allah. Jadi, ini murni datangnya dari Allah.”

Dari pengertian ini, hidayah merupakan upaya-upaya eksternal yang dilakukan seseorang untuk menunjukkan seseorang menuju kebaikan. Di samping itu bisa juga internal yang merupakan hak prerogatif Allah dalam menganugerahi petunjuk orang.

Pimpinan AQL Islamic Center ini melanjutkan, “Sedangkan taufiiq berasal dari kata: waffaqa-yuwaffiqu-taufiqan. Secara terminologi berarti bertemunya kehendak Allah dengan keinginan manusia.” Dengan demikian, taufik sifatnya murni internal. Indikatornya, saat kehendak hamba bisa selaras dengan keinginan Allah subhanahu wata’ala.

Setelah memaparkan definisi dan argumentasi, beliau memberi sedikit contoh riil, “Banyak sebenarnya lawyer di Indonesia yang kaya dan bertaraf internasional ingin membantu perjuangan Islam, tapi Allah tidak pilih mereka dengan semua kendalanya. Seorang lawyer kaya raya di Indonesia pernah bilang begini kepada saya, ‘Tuhan kayaknya ga adil deh sama saya,’ ‘Kenapa?’ ‘Kalau saya ingin naklukin cewek, gampang banget. Saya bisa beli mercy yang new  dan limited edition. Tapi, kalau untuk kebaikan, Tuhan seakan mempersulit saya. Sekarang saya mau tobat.’”

Menurut beliau jawabannya sangat simpel, “Sebagaimana hadits nabi yang berbunyi:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

‘Sesungguhnya Allah itu baik, dan menerima kebaikan.’ (HR. Muslim). Allah itu baik, dan hanya suka pada yang baik.” Lawyer tersebut sangat sulit ketika melakukan kebaikan, boleh jadi karena hartanya didapat dari cara yang tidak baik. Padahal yang Allah terima hanyalah yang baik-baik. Jadi wajar ketika ia ingin melakukan kebaikan terkesan disulitkan.

Di hadapan hadirin yang kebanyakan para lawyer beliau memberi pesan, “Kenapa lawyer-lawyer seperti bapak-bapak sekalian yang dipilih untuk berada di dalam barisan Islam. Padahal kalau mau menyebrang ke kelompok sebelah, pasti dapat uang. Tapi memang, hanya orang yang diberikan hidayah lalu diberikan taufiq yang bisa masuk ke dalam ranah ini, ranah jihad fisabillillah dalam bidang lawyer (hukum). Mudah-mudahan pilihan hidup kita ini karenda hidayah dan taufiq dari Allah.”

Permasalahan kemudian adalah bagaimana kita mengetahui keinginan kita dengan Allah sudah sesuai, “Cara mengetahui hidayah dan taufiq dari Allah, sebetulnya sederhana: dalam wala  dan bara itu kan kita harus mencintai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya walau kadang kita membencinya dan membenci apa yang dibenci keduanya walau kadang kita mencintainya. Para nabi kadang menjalani tugasnya bukan sesuai dengan seleranya.”

Jadi simpel saja sebenarnya, parameternya, jika amalan seseorang itu sesuai dengan keinginan Allah dan Rasul-Nya yang tertera baik dalam al-Qur`an maupun Hadits, maka kemungkinan besar –asal dijalani dengan ikhlas- akan sesuai dengan yang dikehendaki Allah.

Dalam momen yang cukup singkat ini, Sekjen MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) ini juga sedikit membicarakan keikhlasan, “Ikhlas itu tidak mesti rela. Ada yang bilang misalnya, “Ikhlas nyumbang 1000 rupiah, padahal  punya 1 juta.” Jadi tidak terasa. Itu bukan ikhlas, tapi rela.”

Lebih dalam beliau memberi penekanan dan contoh, “Orang ikhlas itu tidak suka, tapi melakukannya. Sebenarnya, Nabi Ibrahim, mau tidak masuk api? Tapi, tetap dilakukan karena itu adalah pilihan Allah, dan dimampukan.” Jadi, ikhlas tidak menafikan rasa ketidak sukaan, bisa jadi ia tidak suka, tapi karena sudah perintah Allah, maka tetap dilakukan.

Nasihat ini dupungkasi dengan pernyataan optimistis, “Mudah-mudahan kita adalah orang yang mendapat hidayah dan dimampukan mendapat taufiq-Nya.”

Sebarkan Kebaikan!